Citizen Reporter
Wajib Berbaju Kurung di Kampus UPSI
PAKAIAN adalah identitas suatu bangsa. Dari pakaiannya, orang akan segera tahu dari mana seseorang berasal
PAKAIAN adalah identitas suatu bangsa. Dari pakaiannya, orang akan segera tahu dari mana seseorang berasal. Apakah budaya Asia, Eropa, atau Afrika kesan yang kita bawa saat mengenakan pakaian tertentu? Oleh karena itu pula, setiap bangsa atau suku punya pakaian adat. Tujuannya untuk membedakan sekaligus menunjukkan keunikan, ciri khas, dan untuk lebih mudah dikenali.
Di Malaysia, perempuan Melayu identik dengan baju kurung atau baju Melayu. Wanita Brunei Darussalam juga memakai baju kurung. Wajib bagi setiap perempuan di Malaysia memiliki baju kurung, mulai dari anak kecil sampai nenek-nenek.
Perempuan Malaysia memakai baju kurung dalam keseharian dan pakaian untuk segala aktivitas, kecuali saat berolahraga.
Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), tempat saya kuliah, punya kekhasan yang cukup menarik. Semua perempuan di kampus ini, sejauh mata memandang, mengenakan baju kurung. Sampai-sampai wanita nonmuslim pun memakai pakaian yang ciri utamanya longgar, panjang, dan menutup aurat ini. Bedanya cuma perempuan nonmuslim tidak memakai hijab atau jilbab di kepala.
Keharusan memakai baju kurung di UPSI, karena kampus yang menganugerahkan gelar doktor kehormatan (honoris causa) kepada Irwandi Yusuf (mantan gubernur Aceh) ini merupakan kampus pendidikan di Malaysia. Fungsi utamanya, mencetak para cikgu (calon guru) yang nantinya akan mendidik para siswa-siswi.
Oleh karena itu, sejak para cikgu masih menuntut ilmu di kampus ini sudah dibiasakan dengan identitas dan karakter guru yang berpenampilan baik, sopan, tapi menarik, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat pendidik. Salah satu identitas itu adalah dengan berbaju kurung, baju kebanggaan perempuan Melayu.
Terlihat sekali bahwa baju kurung merupakan kebanggaan tersendiri bagi perempuan Melayu. Misalnya saja saat menghadiri acara-acara penting kenegaraan, bahkan acara yang dihadiri wakil dari negara lain, para wanitanya selalu tampil dengan baju kurung. Para prianya pun tampil dengan baju Melayu. Baju kurung melambangkan keanggunan dan kesopanan si pemakainya. Begitu kesan yang saya tangkap.
Cara berpakaian teman-teman saya di kampus Tanjung Malim ini cenderung lebih tertutup, kecuali mahasiswa internasional yang berasal dari Cina, Korea, Pakistan, dan lain-lain. Tapi mereka harus tetap mengindahkan batas-batasnya juga. Misalnya, pakaian harus menutup sampai batas bawah lutut untuk perempuan, tidak boleh memakai hotpan, atau celana pendek bagi laki-laki. Juga tidak boleh memakai sendal jepit saat ke kampus.
Calon cikgu menjadi teladan baik dalam bertingkah laku maupun dalam berucap. Saat saya menjadi panitia orientasi pengenalan kampus untuk para mahasiswa internasional yang berasal dari Korea Selatan, Amerika, dan Cina pada medio Februari lalu, saya dengar seorang dosen yang bekerja di bagian international office menjelaskan etika berpakaian di Kampus UPSI bagi mahasiswa baru.
Saat itu semua mahasiswa baru diminta maju ke depan dan diinspeksi mendadak satu per satu. Kepada mereka diperkenalkan cara berpakaian ala UPSI. Pada saat inilah saya tahu istilah lain baju kurung adalah baju Melayu.
Penampilan para pendatang akan mudah sekali terdeteksi di UPSI. Itu karena, saat datang dia tidak memakai baju kurung. Apalagi jika berbincang logat bahasanya mirip orang Sabah-Serawak yang kurang logat Melayunya.
Begitulah sekilas kekhasan di Kampus UPSI, tempat mahasiswa asal Aceh kini banyak menuntut ilmu. Perempuan asal Aceh sangat mudah beradaptasi di kampus ini, karena mereka umumnya sudah berpakaian sopan dan menutup aurat sejak dari kampung halamannya.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com