Kamis, 11 Juni 2026

Citizen Reporter

'Kuah Beulangong' ala Gujarat

SAYA sangat gembira ketika akhirnya visa turis untuk mengunjungi India disetujui, tanpa suatu kesulitan apa pun

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto 'Kuah Beulangong' ala Gujarat
SRI WAHYUNI

OLEH SRI WAHYUNI, aktivis Yayasan Patimadora Banda Aceh, melaporkan dari Gujarat, India

SAYA sangat gembira ketika akhirnya visa turis untuk mengunjungi India disetujui, tanpa suatu kesulitan apa pun. Selaku peneliti yang mendapat beasiswa sekaligus anggota Asian Public Intellectual (API) yang berbasis di Tokyo, saya telah memantapkan diri memilih kawasan Asia untuk konsen bidang studi yang akan menjadi passion saya.

Isu kawasan Asia yang dihubungkan dengan perubahan sosial,  etnisitas, konflik dan demokrasi, dengan negara kajian yaitu Jepang, Thailand, India, Nepal, dan Indonesia. Tahun lalu saya awali perjalanan akademik saya di Jepang dan Thailand. Tahun ini ke Nepal dan India.

Perjalanan akademik saya ke India dimulai dengan memberi kuliah kepada mahasiswa pascasarjana di CIPOD (Center for International Politics, Organisation & Disarmament School of International Studies, Jawaharlal Nehru University, New Delhi) tentang Peace Aceh: Indonesia Toward Democracy. Saya mengisahkan perjalanan demokrasi di Aceh dan bagaimana bergulirnya demokrasi di Indonesia.

Esoknya, saat field work, saya berangkat dari New Delhi menuju Mount Abu. Ditemani mahasiswi program doktoral dari CIPOD yang sedang menyusun disertasi tentang hubungan antara India dan Cina untuk isu pembangunan reaktor nuklir. Namanya Zothan Puii. Dia ditunjuk Profesor Swaran Singh, the Chairperson of CIPOD, yang menjadi host saya selama berada di India.

Perjalanan dari New Delhi ke Mount Abu--tempat Gujarat berada--memerlukan waktu lebih dari 12 jam dengan kereta api. Setiba di Mount Abu sudah sekitar pukul 8 malam. Badan sudah capek. Hal pertama yang kami lakukan adalah memesan makanan khas India Barat. Di daftar menunya terbaca nasi briyani gujrati, roti, dan berbagai kari. Tak ketinggalan kopi dan teh. Melihat hidangan itu, pikiran saya langsung menerawang ke Aceh.

Esoknya kami bergerak dari Mount Abu ke Gujarat. Sebelum berangkat kami nikmati roti cane dengan gula halus, seperti yang dijual di Aceh.

Mount Abu terletak di bagian utara barat India, bagian dari Rajasthan. Saya kaget ketika mendapat informasi dari petugas kantor pariwisata bahwa 40% penduduk Mount Abu beragama Islam, 40% beragama Hindu, dan sisanya penganut agama dan kepercayaan lain. Namun, mereka hidup harmonis dalam perbedaan itu.

Saya sempat mengunjungi Masjid Raya Mount Abu. Namun, saya tak bisa menunaikan shalat (mereka menyebutnya namas) di masjid, karena ruangan dalam masjid hanya untuk pria. Kaum hawa yang ingin namas hanya diperbolehkan di teras masjid.

Hawa Mount Abu lebih sejuk dibanding New Delhi. Jarak dari Mount Abu ke Gujarat sekitar dua jam. Di perjalanan, kami nikmati pemandangan indah dan jalan mulus dan lebar, semulus perjalanan dari Banda Aceh menuju Aceh Barat.

Ini perjalanan awal kami yang bertujuan untuk survei dan mengenal ‘hawa’ Gujarat dan kehidupannya. Gujarat adalah negara bagian India paling terindustrialisasi di India setelah Maharashtra. Dicipta pada 1 Mei 1960, kini Gujarat telah menjadi negara bagian dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di India.

Saya tertarik Gujarat, karena ada kaitan sejarahnya dengan Aceh, yakni sebagai jembatan diplomasi dan alkulturasi dengan Indonesia. Penyebar Islam ke Aceh pun mayoritas datang dari Gujarat.

Penduduk Gujarat berbahasa Gujrati, di samping bahasa Hindi. Sopir kami bisa berbahasa Gujrati. Ia menjadi interpreter. Kami habiskan waktu di sebuah desa di Gujarat, Iqbal Ghad namanya. Desa ini dihuni oleh mayoritas penduduk yang beragama Hindu dan Islam. Mereka umumnya berdagang. Batas antara penduduk beragama Islam dan Hindu ditandai dengan pertigaan dan masjid. Mereka tampak rukun, meski pada 2002 pernah terjadi konflik etnis dan agama di Gujarat.

Saya bertemu dengan tokoh masyarakat setempat. Mereka sangat senang ketika saya katakan saya dari Aceh, Indonesia. Mereka kenal Indonesia sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim dan mereka kenal Aceh karena berita tentang tsunami dan konflik.

Saya lihat ada dua masjid di Desa Iqbal Ghay. Namun, saya tak diperbolehkan masuk, karena perempuan! Sedih lagi saya. Padahal, saya ingin sekali melihat interior masjid. Ketika saya tanya kenapa perempuan tak boleh shalat di masjid, mereka hanya menjawab, “Masjid hanya untuk laki-laki.” Mendengar jawaban itu saya berakting menangis. Eh, mereka malah tertawa! Ampun deh.  

Mereka juga punya tradisi yang sama dengan masyarakat Aceh pada saat Ramadhan, yaitu buka puasa dan memasak bersama dengan menu utama kuah beulangong. Namun, gulai mereka tanpa daging, karena rakyat India umumnya tak pemakan daging merah (vegetarian).

Warga desa itu sangat menyenangkan. Kami seperti “pulang kampung” karena mereka berebut menjamu kami. Itulah sisi lain Gujarat.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved