Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Mengambil 'Ibrah' Gempa

GEMPA bumi dahsyat berkekuatan 8,5 SR dan 8,1 SR, kembali mengguncang Aceh pada Rabu (11/4/2012) lalu. Guncangan dan getaran gempa

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Muhammad Yusran Hadi

GEMPA bumi dahsyat berkekuatan 8,5 SR dan 8,1 SR, kembali mengguncang Aceh pada Rabu (11/4/2012) lalu. Guncangan dan getaran gempa kembar yang berpotensi tsunami itu dirasakan pula di beberapa daerah lainnya di Indonesia seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, sampai Lampung. Bahkan, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik di Hawaii, AS, sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk 16 negara yakni Indonesia, India, Sri Langka, Australia, Myanmar, Thailand, Maldives, Malaysia, Pakistan, Somalia, Oman, Iran, Bangladesh, Kenya, Afrika Selatan, dan Singapura.

Bencana selalu mengingatkan manusia kepada sang Khaliknya. Sebagai seorang muslim, kita wajib mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap bencana. Allah berfirman: “Maka ambillah (kejadian) itu untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Al-Hasyr: 2). Memang, karena di balik suatu musibah pasti ada pesan-pesan ilahi yang mesti dijadikan pelajaran. Agar kita ber-muhasabah (introspeksi diri) dan bertaubat kepada Allah swt.

Setiap bencana itu tidak bisa dipahami sebatas peristiwa alam semata, namun harus dipahami pula sebagai teguran atau azab dari Allah swt. Hal ini tidak berarti menafikan peristiwa alam berupa pergeseran lempeng bumi sehingga menyebabkan gempa. Karena proses alam itu sendiri hanya merupakan proses sebab akibat atau konsekuensi logis dari takdir Allah.

 Takdir Allah swt
Oleh karena itu, kita harus yakin bahwa segala bencana di muka bumi ini tidak terlepas dari takdir (ketentuan) Allah swt, sesuai dengan firman-Nya: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya.” (Al-Hadid: 22).

Allah swt juga berfirman: “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (At-Taubah: 51). Dalam ayat yang lain: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah.” (At-Thaghabun: 11)

Namun demikian, Allah swt tetap menjadikan segala bencana itu ada penyebabnya. Di antaraya akibat perbuatan manusia sendiri, seperti banjir akibat penebangan hutan secara berlebihan, kebakaran akibat kesengajaan atau kelalaian manusia, dan sebagainya. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41). Allah juga berfirman: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahanmu).” (Asyura: 30).

Selain itu, penyebab utama bencana adalah kezaliman dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-`Araf: 96). Dalam ayat lain: “Dan tidaklah Kami membinasakan Kami membinasakan suatu negeri kecuali penduduknya melakukan kezaliman.” (Al-Qashash: 59)

Di antara bentuk kemaksiatan kita adalah kelalaian kita terhadap kewajiban kepada Allah swt. Kita disibukkan dengan berbagai kesenangan dan kenikmatan dunia. Berlomba-lomba mengejar harta, pangkat, jabatan sehingga melupakan kewajiban shalat berjamaah, membaca Alquran, berdoa/berzikir, membayar zakat, syukur nikmat dan sebagainya. Kesenangan dan kenikmatan dunia telah membuat kita lalai dari kewajiban kita kepadaNya.

 Ajaran sesat
Di samping itu, praktik syirik, khurafat, tahayul dan ajaran sesat yang bertentangan dengan tauhid dan akidah Islam tumbuh subur dan berkembang. Begitu pula praktik bid’ah dalam ibadah menjadi tradisi yang dilegalkan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kriminal (jinayat) seperti pembunuhan, penganiaan, perzinaan, pemerkosaan, pencurian, korupsi, minum-minuman keras dan sebagainya banyak terjadi di mana-mana. Krisis moral (akhlak) seperti menipu, manipulasi, ghibah, memaki, menghina, menfitnah dan sebagainya melanda masyarakat tanpa ada upaya untuk mencegah dan melarangnya.

Maksiat inilah yang mengundang berbagai malapetaka dan bencana di tanah air kita, termasuk gempa dahsyat yang terjadi baru-baru ini dan tahun 2004. Dengan gempa tersebut, Allah memperingatkan kita terhadap berbagai maksiat yang kita lakukan selama ini. Kita patut bersyukur dan berlega hati, karena gempa di Aceh baru-baru ini tidak sampai menimbulkan tsunami dan menelan korban. Walaupun sempat membuat panik dan ketakutan luar biasa, ternyata Allah masih sayang kepada kita dengan hanya memberi teguran, bukan azab/siksaan.

Namun, bencana bisa menjadi azab/siksaan bila kita tidak mau introspeksi diri dan bertaubat. Kita mesti waspada terhadap azab/siksaan Allah yang datang secara tiba-tiba akibat kemaksiatan dan kezaliman yang kita lakukan. Ketika azab atau siksaan Allah turun, maka semua orang akan terkena dampaknya, baik orang kafir maupun muslim, baik orang jahat maupun orang shalih. “Dan takutlah terhadap bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (Al-Anfal: 25).

Kita hanya bisa terhindar dari bencana dengan mentaati Allah Swt dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (An-Nur: 52). Allah berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu).” (Al-Isra’: 16).

 Tinggalkan maksiat
Apabila bencana telah menimpa kita, maka yang dapat melepaskan darinya hanyalah Allah swt sesuai dengan firman-Nya: “Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkanya kecuali Dia.” (Yunus: 107). Oleh karena itu, bila kita tidak ingin ditimpa bencana, maka satu-satunya jalan yang harus kita tempuh adalah meninggalkan segala bentuk maksiat, serta mentaati Allah dan RasulNya dalam segala aspek kehidupan kita.

Akhirnya, mari kita mengambil ibrah dari gempa dahsyat yang lalu serta bencana lainnya dengan selalu bertaubat dan ber-istighfar serta mendekatkan diri kepada Allah. Gempa tersebut menjadi peringatan dari Allah agar kita meninggalkan segala kemaksiatan. Azab Allah bisa datang secara tiba-tiba tanpa kita sadari akibat maksiat yang kita lakukan. Semoga Allah swt senantiasa melindungi kita. Amin ya Rabbal ‘alamin.

* Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA, Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh/Kandidat Doktor Ushul Fiqh, International Islamic University Malaysia (IIUM).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved