Opini
'Agnostisme' Malanda Umat Islam
DALAM masyarakat modern kepercayaan ketuhanan dapat dibagi dalam tiga aliran yaitu: teisme, agnostisme, dan ateisme. Teisme adalah paham yang
DALAM masyarakat modern kepercayaan ketuhanan dapat dibagi dalam tiga aliran yaitu: teisme, agnostisme, dan ateisme. Teisme adalah paham yang sudah ada sebelum dunia modern, yaitu paham yang mempercayai Tuhan sebagai pribadi dan bersifat rohaniah, dengan siapa manusia dapat melakukan hubungan peribadatan. Tuhan adalah pencipta dan pengatur alam, termasuk manusia dan Dia sendiri berada di luar alam.
Dalam teisme, meskipun intelek dan ilmu pengetahuan meningkat tinggi dengan prestasi yang luar biasa, namun agama tetap berkesempatan untuk menjalankan peranannya dalam kehidupan manusia. Teisme ini mudahnya adalah paham yang dianut oleh kaum agama yang taat. Sebaliknya, ateisme adalah kebalikan dari paham teisme yaitu suatu paham yang tidak mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Alam ada dengan sendirinya. Peristiwa manusia dan alam tak lain dari pada hubungan kausalitas antara hukum-hukum alam.
Seorang ateis hanya membiarkan rasio bekerja dan hanya membiarkan kebenaran yang dihasilkan oleh rasio. Karena Tuhan adalah sesuatu yang tak mampu dijangkau oleh rasio maka kaum ateis ini berkesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada dan tak akan pernah ada. Ateime ini berkembang dengan pesat di belahan dunia barat sejalan dengan revolusi industri abad 19 hingga sekarang.
Di antara kedua paham inilah agnostisme berada. Agnostisme adalah paham yang percaya dan tidak percaya akan adanya Tuhan. Seorang agnostis tidak memerlukan Tuhan dalam kehidupannya. Dia sesungguhnya percaya tidak, tidak percaya tidak kepada Tuhan. Dari itu agama diterimanya tidak dan ditolaknya pun tidak. Apa sebabnya? Baik Tuhan, ataupun agama tidak dibicarakan, tidak jadi persoalan baginya. Kedua-duanya diabaikannya dan tidak diacuhkannya.
Dari itu kalau ia lahir dari orang tua Islam misalnya, maka secara teori ia beragama Islam. Tetapi dalam praktik kesehariannya ia tidak tau apa itu Islam dan tidak pula menjalankan ajaran-ajarannya dalam kehidupan.
Sekulerisasi intensif
Agnostisme ini merupakan akibat dari sekulerisasi yang amat intensif dan terlalu jauh dari kehidupan. Semuanya diduniawikan, tiap-tiap hal dipandang dari dunia, oleh dunia dan untuk dunia. Kalau manusia sudah terkurung dengan dunia, maka ia memutuskan hubungan dengan akhirat. Orang tidak lagi berbicara masalah mati, hiduplah satu-satunya persoalan. Dengan tidak memikirkan keselamatan setelah mati, agama kehilangan urgensi bagi kehidupan manusia.
Menurut ajaran Islam, agnostisme ini termasuk jenis kekafiran, walaupun bukan kafir ingkar seperti kaum ateis. Selain dari kafir ingkar ini, para ulama telah mengkualifikasikan tiga kekafiran lainnya: Pertama, kafir ‘inad, hatinya mengimani Allah, lidahnya mengakuinya, tapi ia enggan menjalankan suruhannya dan menghentikan larangannya; Kedua, kafir juhud, hatinya mengimani Allah, tapi tak hendak diakuinya dengan lidah, dan; Ketiga, kafir nifaq, lidahnya mengakui Allah, tapi hatinya tak mempercayainya (munafik).
Tingkat agnostisisme itu berbeda-beda. Ada yang dekat pada teisme, ada yang lebih dekat pada ateisme, dan ada pula sama jauh antara kedua itu, teisme dan ateisme. Berdasarkan tingkatan itu, seorang agnostis bisa digolongkan kepada salah satu dari ketiga jenis kafir itu.
Jika kita melihat gelagat muslim di Indonesia saat ini, maka yakinlah kita bahwa fenomena agnostisme ini sedang menjarah pikiran dan moral masyarakat Indonesia. Betapa banyak orang Islam di Indonesia yang tidak melakukan ibadah Islam, tidak mau puasa, mengeluarkan zakat, tidak melaksanakan shalat sehingga membuat masjid-masjid kosong dari penghuni.
Islam KTP
Kepercayaan bahwa Islam membawa kedamaian dan keselamatan telah mulai tak dihiraukan, bahkan tidak diyakini lagi. Umumnya fenomena Islam KTP di kalangan umat Islam itu muncul karena awam-nya pemahaman tentang ajaran Islam. Mereka mengakui Islam, tapi tak berbuat dan bertingkah laku menurut ajaran Islam. Mereka percaya kepada Allah, tapi apa yang disuruh atau diperintahkanNya tidak dijalankannya, apa yang dilarangNya justru dikerjakan.
Fenomena agnostisme ini juga merepresentasikan akan ketidakbecusan para alim ulama dalam mendakwahkan Islam. Memang syiar Islam didengungkan dimana-mana, di masjid, meunasah, radio, TV dan media-media lainnya. Tetapi apa yang disampaikan tidak meresap ke dalam sanubari umat Islam, semuanya dianggap sebagai angin lalu.
Bahkan, tak jarang kita temukan syiar-syiar Islam itu telah beralih menjadi media lawakan. Orang datang ke forum dakwah Islam tidak lagi untuk memperdalam dan mempertegas keislamannya, tapi lebih pada untuk mendengar lawakan-lawakan yang membuat para pendengar tertawa terbahak-bahak.
Menurut hemat saya, jalan keluar untuk menghilangkan agnostis di kalangan masyarakat Indonesia, adalah dengan memberikan dakwah yang lengkap kepadanya. Hanya saja metode dakwah itu haruslah ilmiah dan mempergunakan informasi ilmu-ilmu modern semaksimal mungkin.
Andaikan metode dakwah lama juga dihidangkan pada mereka yang dengan sifat tak rasionalnya dan mempergunakan pengetahuan awam yang populer, dapatlah diduga, mereka tak akan kembali menjadi teis “muslim taat”, malahan dapat jatuh kepada ateisme.
* Teuku Saifullah, Peneliti di Farabi Institute Semarang, Jawa Tengah.