Citizen Reporter
Bule pun Ikut Pengajian
PARA mahasiswa dan masyarakat Aceh yang berada di Melbourne, Australia, kini aktif mengadakan pengajian rutin. Acara dua mingguan itu
OLEH JARJANI USMAN, kandidat doktor (PhD) di Deakin University, melaporkan dari Melbourne, Australia
PARA mahasiswa dan masyarakat Aceh yang berada di Melbourne, Australia, kini aktif mengadakan pengajian rutin. Acara dua mingguan itu digelar di rumah Cut Kemalahayati, perempuan Aceh yang sudah 20 tahun lebih menetap di Negeri Kanguru. Suaminya orang Australia. Keluarga ini memiliki dua anak remaja.
Tiga puluhan masyarakat Aceh yang sedang kuliah S2 dan S3 bergabung dengan sejumlah keluarga Aceh yang telah menetap di sana untuk ikut pengajian dwimingguan ini.
Acara ini bermula dari ajang silaturahmi yang kerap dilakukan antarmahasiswa dan masyarakat Aceh. Cut Keumalahayati yang akrab dipanggil “Kak Nyanyak”, paling antusias dengan acara-acara seperti ini. Ada saja makanan yang disediakannya secara sukarela, mulai dari nasi goreng, bakso, lontong, dan lain-lain.
Mahasiswa Aceh yang sudah lama tidak mengecap makanan seperti ini, biasanya tidak akan membiarkannya bersisa. “Tinggalkan yang keras-keras,” celetuk seorang mahasiswa. Yang “keras-keras” maksudnya adalah piring, sendok, dan wadah tempat makanan. Sedang yang lembek-lembek berupa isinya, semua ludes disikat.
Dari acara silaturahmi itu kemudian diusulkan agar diisi dengan pengajian rutin, agar pertemuan lebih bermakna. Topik-topik yang dibahas sangatlah beragama, mulai dari makanan halal yang kerap menjadi masalah di negeri yang kini dipimpin Julia Gillard itu, hingga masalah kesucian.
Cara membahasnya tidak monolog seperti ceramah yang kerap dilakukan di Aceh. Jauh-jauh hari sebelum acara berlangsung, ustaz sudah menyebarkan apa yang akan dibahas lewat Facebook yang dibuat dengan nama grup Meunasah Aceh, agar para hadirin bisa mempersiapkan pertanyaan sebanyak mungkin.
Pas pada hari H, peserta ceramah disuruh membaca ayat-ayat atau hadis-hadis yang menjadi pendukung pokok bahasan. Setelah itu, didiskusikan inti dari setiap sumber tersebut. Saat itulah terjadi tanya jawab yang nyaris tak cukup waktu untuk menjawab semuanya.
Skenario acara seperti ini dirancang agar semua peserta aktif. Apalagi model pembelajaran seperti ini bisa membangkitkan motivasi jamaah dan dalam taraf tertentu membuat masing-masing peserta bertanggung jawab terhadap apa yang sedang dipelajari.
Di samping itu, dominasi ustaz dalam proses belajar menjadi berkurang. Suasana kolaborasi seperti ini membuat jumlah pihak yang bertanya menjadi banyak, karena semuanya memiliki masalah dan pengalaman masing-masing tentang halal dan haram.
Termasuk yang ikut bertanya adalah seorang wanita bule yang hadir bersama anak semata wayangnya. Perempuan mualaf berumur 30 tahun dan sekarang bernama Rabi’ah itu begitu antusias mendengarkan masalah makanan halal. Terutama daging. Di antara pertanyaannya yang menarik adalah tentang status halal terhadap hewan yang dipotong oleh ahlul kitab.
Ustaz Safuddin Dhuhri yang alumnus Universitas Al Azhar Mesir dan universitas di Marokko dan sekarang sedang kuliah program doktor di Monash University terpaksa membuka sejumlah kitab untuk melihat pendapat sejumlah imam mazhab yang berbeda-beda mengenai status halal pada hewan yang disembelih ahlul kitab.
Dalam kesempatan itu seorang mahasiswa bertanya tentang bagaimana status daging ayam yang disembelih dengan mesin dalam jumlah ratusan ribu. Bagaimana pula kalau seseorang yang bertugas membaca Bismillah di rumah jagal, tiba-tiba kebelet dan harus segera ke toilet beberapa menit, sedangkan mesin pemotong ayam terus berjalan dan ratusan ayam terpotong tanpa ada yang membacakan nama Allah? Pertanyaan itu membuat anggota jamaah tertawa terpingkal-pingkal. Ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Ada yang menjawab bahwa cukup dengan membaca sekali saja bismillah untuk semua ayam, tapi ada juga yang berpendapat harus baca berkali-kali.
Setelah acara itu, jamaah diberikan kesempatan untuk memilih topik pada pertemuan selanjutnya. Topiknya adalah yang paling bersentuhan dengan kegiatan sehari-hari.
Bule yang ikut pengajian itu menyatakan apresiasinya terhadap acara tersebut. Bukan hanya pokok bahasannya yang menarik dan penting, tetapi juga acaranya yang mampu memupuk ukhuwah.
Bagi mahasiswa, acara seperti itu bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga sebagai ajang untuk menghilangkan stres setelah lelah bergumul dengan rutinitas kuliah dan tugas akademik.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com