Home »

Opini

Opini

Menggugat Akreditasi Unsyiah

Visi dan Misi Unsyiah

SAYA dan beberapa kawan dari Tim Peneliti Pekan Kreatifitas Mahasiswa-Penelitian (PKM-P) Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), membicarakan masalah persiapan teknis penelitian di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Sore itu kami benar-benar sedikit merasa bebas dari beban dan merasa senang karena proposal penelitian kami lolos ke Dikti.

Sambil ngopi dan berdiskusi dengan teman-teman tim, saya juga menghidupkan laptop untuk mencari informasi-informasi terbaru tentang pendidikan, budaya, politik, perkembangan zaman dan tentunya tak ketinggalan lomba-lomba terbaru. Dan, saya menemukan satu lomba yang dilaksanakan oleh Jurusan Teknik Sipil sebuah universitas terkenal di Indonesia, yaitu Lomba Rancang Kuda-kuda tingkat Nasional.

Lomba tersebut sangat relevan dengan disiplin ilmu yang saya tekuni sekarang di Teknik Sipil Unsyiah. Yang membuat saya tertarik mengikuti lomba ini adalah setelah saya membaca latar belakang pelaksanaannya ada kaitan dengan kondisi kekinian yang membutuhkan solusi mendesak. Yakni, mengenai posisi Indonesia yang terletak di ring of fire (cincin api) yang rawan bencana, sehingga diperlukan rancangan kuda-kuda terbaru yang mampu menahan beban dan aman pada saat terjadi gempa seperti yang kita alami di Aceh pada 2004 lalu yang disertai dengan tsunami, dan gempa berkekuatan 8,5 SR pada 11 April 2012 lalu.

Berita lomba tersebut juga saya kabarkan kepada teman-teman tim, dan kami semua sepakat mengikutinya dengan harapan mampu mencari permasalahan dan membantu masyarakat dalam mencari solusi. Persyaratan lomba ini antara lain, pesertanya terdiri dari mahasiswa D3/S1 aktif dari universitas/perguruan tinggi Negeri maupun Swasta dengan akreditasi minimal B.

Sialnya Unsyiah berakreditasi C yang membuat semangat kami hancur berkeping-keping bak disambar petir di siang bolong. Sangking kesalnya saya sampai membantingkan buku bacaan yang baru saja selesai saya baca di meja. Rencana awal kami semua buyar tak berguna karena terhambat oleh akreditasi Universitas “Jantoeng Hatee” rakyat Aceh, yang “menderita penyakit hepatitis” alias C.

 Menyoal visi-misi

Rasa kesal saya belum pulih, sehingga saya mecoba mencari tahu visi dan misi Unsyiah dengan cara membuka website Unsyiah, yang salah satu content-nya juga memuat soal visi dan misi Unsyiah. Visi: Menjadikan Universitas Syiah Kuala sebagai salah satu Universitas terkemuka di Asia Tenggara dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menghasilkan lulusan yang berkualitas serta menunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika.

Misi: Pertama, menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas untuk menghasilkan lulusan yang berkualifikasi sebagai pakar, peneliti dan pemikir dengan memanfaatkan seluas-luasnya aplikasi teknologi untuk pembangunan ilmu pengetahuan; Kedua, mengembangkan budaya dan sistem riset untuk menghasilkan produk riset yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat;

Ketiga, mengembangkan kerjasama institusional dalam rangka percepatan pembangunan untuk menjadi universitas yang mandiri.; Keempat, meningkatkan kualitas manajemen universitas serta terus-menerus untuk mendukung kegiatan dan layanan melalui penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi dan partisipatif yang bercirikan good government, dan; Kelima, menggalakkan pengabdian kepada masyarakat berlandaskan tanggung jawab sosial yang besar.

Setelah membaca visi dan misi dari universitas tercinta ini, dalam hati saya bertanya, apakah yang membuat visi dan misi univeritas ini ketika merumuskan visi dan misi tersebut dalam keadaan sehat atau sedang mengalami gangguan jiwa? Sebab, visi dan misi tersebut sangat kontradiktif dengan kenyataan sehari-hari yang terlihat di kampus.

Kalau kita urai satu persatu, maka poin pertama dalam misi tersebut terlihat bahwa sarana penunjang untuk menciptakan pakar, peneliti dan pemikir dengan memafaatkan teknologi jelas tidak memadai. Bayangkan, masalah KRS online saja masih menjadi problem besar setiap semesternya. Bahkan, komputer operator kontrol KRS online macet berhari-hari saat pengisian, yang kerap mengundang rasa kesal dan sumpah serapah mahasiswa.

Demikian pula membudayakan riset, di mana universitas masih hanya mengandalkan kemampuan dosen dan kurang sekali melibatkan mahasiswa. Hal ini jelas terlihat dari penyediaan dana riset bagi mahasiswa yang bisa dikatakan tidak ada. Namun ketika mahasiswa yang ingin membuat riset dengan memanfaatkan dana dari pihak luar dengan cara mengikuti lomba, lagi-lagi terbentur masalah akreditasi yang masih di bawah standar permintaan penyelenggara.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: hasyim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help