Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Safari Penguatan Perdamaian

BEBERAPA hari lalu, pasangan Zaini Abdullah/Muzakkir Manaf (yang sering disingkat 'Zikir') dan Pemangku Wali Nanggroe Malik

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Saifuddin Bantasyam

BEBERAPA hari lalu, pasangan Zaini Abdullah/Muzakkir Manaf (yang sering disingkat ‘Zikir’) dan Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud menemui Menko Perekonomian, Menteri Dalam Negeri, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Ketua MPR RI, Panglima TNI, Wakil Ketua DPR RI, Adnan Ganto (pengusaha asal Aceh), Mustafa Abubakar (mantan Menteri BUMN), serta mantan Ketua Juru Runding Pemerintah RI, Hamid Awaluddin, dan beberapa duta besar negara sahabat.

Setiap orang bebas menyebut apa tentang kegiatan ‘Zikir’ itu. Harian ini (Serambi, edisi 20/4/2012) menyebut dengan kata road show. Orang lain dan beberapa media lain, termasuk online, menyebut safari politik. Memaknai kegiatan itu demikian juga; ada yang menyebut kunjungan itu adalah kunjungan politik, kegiatan atau aksi politik, sowan (bahasa Jawa), temu ramah atau ramah tamah, atau kunjungan persaudaraan.

Jika hal tersebut ke suatu suasana presentasi, maka safari itu adalah bagian dari engagement. Seorang presenter atau penceramah yang hebat adalah orang yang bisa membangun hubungan atau komunikasi dengan orang-orang (audiens) yang mendengar presentasi atau ceramah, atau pidato orang tersebut. Tak peduli berapa banyak pendengar, namun presenter yang tangguh adalah presenter yang ketika melakukan presentasi, seperti sedang bicara dengan para pendengarnya, dekat dan hangat.    

Mengingat posisi kekinian ‘Zikir’ dan Malek Mahmud dalam perpolitikan Aceh maka kunjungan itu merupakan suatu political engagement, atau sebuah peristiwa politik, dan komunikasi adalah suatu keniscayaan dalam dunia politik. Banyak bukti menunjukkan, sebagian besar panggung politik diisi oleh orang-orang yang piawai berkomunikasi, atau yang pintar menggunakan strategi-strategi komunikasi untuk mencapai tujuan politik.

Komunikasi Politik adalah komunikasi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh politik dan mengandung pesan-pesan politik. Komunikasi demikian akan sangat efektif jika dilakukan pada saat dan tempat yang pas, dan dilakukan dengan para pihak (aktor) yang tepat pula. Komunikasi politik bisa dilakukan dengan kata-kata, juga bisa dengan menggunakan simbol-simbol.

 Safari ZIKIR
Panggung road show ‘Zikir’ yang paling utama adalah Jakarta, pusat kekuatan politik Indonesia. ‘Zikir’ memilih untuk menemui individu yang memiliki jabatan strategis dan berpengaruh sebagaimana disebutkan di atas. ‘Zikir’ juga memilih untuk melakukan road show itu sekarang ini, bukan nanti-(nanti). Dalam studi komunikasi politik, dimensi tempat, aktor atau tokoh, dan waktu, adalah dimensi-dimensi yang sangat penting. Mengapa? Jawabannya adalah karena komunikasi politik tidak berlangsung di ruang hampa, melainkan dalam konteks sosial. Ketiga dimensi tadi adalah dimensi yang bersifat sosial.

Ketika atribut Aceh sebagai daerah bekas konflik (post-conflict region) dimasukkan ke dalam konteks safari ‘Zikir’ itu, maka makna safari itu menjadi lebih penting dan mendalam. Safari demikian dapat dibaca sebagai bagian dari aktivitas peacebuilding (pembangunan perdamaian). Peacebuilding memang memiliki banyak arti, namun di antara arti yang beragam itu terdapat satu substansi yang sama; membangun fondasi untuk keberlanjutan perdamaian dan pembangunan. Atas alasan itu, strategi peacebuilding disarankan untuk koheren dan pas dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan, harus ada prioritas, dan harus berlanjut.

Dengan meletakkan dalam kerangka peacebuilding, maka kunjungan ‘Zikir’ itu: Pertama, dapat dilihat sebagai bagian dari pemulihan hubungan, yang pernah berada dalam suasana teramat tegang antara petinggi GAM dan Partai Aceh (PA) dengan pemerintah pusat, terkait proses pemilukada. Banyak onak dan duri yang harus dilalui, tapi kemudian MK tetap memperbolehkan calon perorangan, lantas PA mendaftarkan para pasangan calon dari kalangan mereka sendiri untuk menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah dengan hasil yang sudah sama-sama kita ketahui.

Kini ‘Zikir’ merasa perlu membangun komunikasi politik untuk memulihkan keadaan-keadaan yang tegang sebelumnya antara mereka dengan Jakarta. Tantangan bagi (penguasa) sebuah daerah bekas konflik bukan hanya bagaimana “berurusan” dengan warga sendiri yang memiliki ragam keinginan, melainkan juga dengan pemerintah pusat.

Kedua, melalui safari itu, ‘Zikir’ memberi pesan bahwa Aceh siap berkomunikasi dengan Jakarta. Penegasan ini penting, sebab meskipun masing-masing daerah memiliki sejumlah kewenangan dalam kerangka otonomi, suatu daerah tetap memerlukan campur tangan pemerintah pusat untuk bisa berkembang. Daerah diatur dengan UU, dan Jakarta-lah yang membuat UU (eksekutif dan legislatif). Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa ada pertemuan dengan Gamawan Fauzi, Hatta Radjasa, Priyo Budi Santoso, dan beberapa tokoh lainnya.

Ketiga, kelihatannya ‘Zikir’ sangat memikirkan soal “bagaimana Jakarta menerima” mereka, dengan mengingat latar belakang mereka sebagai orang gerakan yang pernah ingin memisahkan Aceh dari Indonesia. Mungkin suatu ketika Jakarta menjadi paranoid; setelah PA menguasai perlemen dan jabatan eksekutif juga dipegang oleh PA, maka Aceh selangkah lagi menuju merdeka. ‘Zikir’ kelihatannya ingin menepis kekhawatiran Jakarta tesebut. Itu sebabnya ‘Zikir’ merasa harus mengunjungi dan bertemu Panglima TNI (pengawal NKRI) dan Taufik Kemas (pengawal Pancasila dan UUD 1945), serta Hamid Awaluddin, menyatakan komitmen untuk menjaga Aceh di dalam Indonesia. Pernyataan ini tentu membuat Jakarta merasa nyaman.

Keempat, masih dalam kerangka peacebuilding, pertemuan ‘Zikir’ dengan berbagai elemen di Jakarta dapat memberi rasa tenang kepada rakyat Aceh secara keseluruhan. Di daerah bekas konflik, terlalu banyak tantangan (challenges) yang akan dihadapi, baik dalam bidang politik itu sendiri, maupun dalam bidang hukum, keadilan, sosial, dan demokrasi. Semua elemen harus siap, terutama para penguasa.

 Baik-baik saja

Keakuran Aceh dengan Jakarta tentu akan sangat membantu dalam menghadapi berbagai challenges tersebut, termasuk dukungan-dukungan dari dunia internasional. Sebagaimana diberitakan, ‘Zikir’ juga menemui sejumlah duta besar negara sahabat. Pesan yang dapat ditangkap dari pertemuan itu adalah bahwa Aceh dan Jakarta akan baik-baik saja pascapemilukada.

Sebagai penutup dapat dikatakan bahwa safari ‘Zikir’ adalah langkah cerdas dan strategik, dan sebuah kekuasaan memang dapat dilanggengkan dan diperkuat dengan jalan komunikasi. Melalui safari itu, ‘Zikir’ mungkin akan semakin dipahami, dan melalui safari itu pula ‘Zikir’ telah membuat orang lain merasa diperlukan. Dua hal ini niscaya memberi sumbangsih besar bagi pembangunan dan penguatan perdamaian Aceh di masa mendatang. Apalagi jika safari itu atau komunikasi politik juga dibangun dengan berbagai elemen strategis lainnya di Aceh.

* Saifuddin Bantasyam, SH, MA, Pengajar Komunikasi Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dan Direktur Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved