Selasa, 9 Juni 2026

Opini

Melarikan Diri dari Pengangguran

Pengangguran dapat diartikan seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan, tetapi belum dapat memperolehnya

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh Zukifli Andi Govi

PENGANGGURAN merupakan momok menakutkan bagi setiap angkatan kerja produktif, yang jumlahnya terus membengkak dan bertambah setiap tahun. Ledakan angka pengangguran yang terjadi setiap tahun itu, bukan saja merupakan masalah krusial di tingkat nasional, tapi juga menjadi momok yang semakin mengkhawatirkan dalam skala regional, termasuk di Aceh.   

Pengangguran dapat diartikan seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan, tetapi belum dapat memperolehnya. Survey telah menyatakan tingkat pengangguran yang semakin meningkat setiap tahunnya, telah menyebabkan pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal.

Pengangguran terjadi karena adanya kesenjangan antara penyediaan lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja yang mencari pekerjaan. Meskipun jumlah kesempatan kerja tinggi akan tetapi terbatasnya informasi, perbedaan dasar keahlian yang tersedia dari yang dibutuhkan atau bahkan dengan sengaja memilih untuk menganggur.

Bagaimana perekonomian bisa meningkat jika angka pengangguran semakin bertambah. Masalah pengangguran tidak hanya dihadapi oleh mereka yang putus sekolah, tetapi juga mereka para sarjana. Para sarjana yang seharusnya harus mampu menciptakan sebuah lapangan pekerjaan, malah juga ikut menambah angka pengangguran di negeri yang amat mulia dan kita cintai ini.

 Kemana setelah sarjana?
Seorang manusia pasti mengiginkan hidup berkecukupan dengan semua keinginanya bisa terpenuhi, baik secara individual maupun secara keluarga. Para orang tua selalu kerap mengharapkan agar anak-anaknya bisa hidup bahagia dan tidak ada yang menganggur. Mereka selalu berusaha yang terbaik untuk anaknya, memberikan pendidikan yang layak mulai dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi.

Semua orang mengharapkan agar para lulusan sarjana mampu melahirkan pekerjaan paling tidak mampu mendapatkan pekerjaan. Tapi pada umumnya para sarjana baru memikirkan hal itu ketika mereka sudah dinyatakan lulus sebagai sarjana. Pertanyaanya, kemana mereka harus pergi atau di mana mereka bekerja setelah menjadi sarjana?

Agar tidak sampai menganggur, ada banyak hal yang bisa dilakukan dan bisa menjadi seorang pekerja. Tapi, justru banyak sarjana yang kemudian terjebak dalam ketakutan; Selesai kuliah tidak tahu harus kemana dan ketika sudah kepepet baru berusaha mencari jalan keluar. Bukan mempersiapkan diri pada saat ia belum menjadi sarjana.

Banyak ilmu yang sudah saya dengarkan dan saya pelajari, semua mengatakan untuk mampu mewujudkan peran sarjana dalam menciptakan lapangan pekerjaan ialah dengan berwirausaha. Hal yang sering ditanyakan adalah modalnya dari mana? Dalam berwirausaha itu, modal bukan yang paling utama, tapi ialah ide dan kemauan. Jangan ada rasa takut untuk memulai bisnis, karena itu bisa menjadi solusi bagi para sarjana untuk melarikan diri dari pengangguran.

Jumlah pengangguran di Indonesia 10% adalah kaum intelek yang menyandang gelar pendidikan perguruan tinggi. Siapa yang harus kita salahkan? Apakah takdir Tuhan yang mengharuskan kita seperti ini, atau individu manusia yang tertarik untuk menjadi penganggur, ataupun pemerintah? Saya rasa bukan siapa yang harus disalahkan yang mesti kita jawab, tapi bagaimana kita bisa menjawab pertayaan yang sangat simple, mengapa pengangguran mesti terjadi?

 Peran pemerintah
Peran pemerintah dalam upaya menanggulangi kian melonjaknya angka pegangguran memang harus kita akui ada meski belum maksimal. Ini antara lain karena memang upaya tersebut bukanlah perkara mudah, tidak seperti membalik telapak tangan. Banyak hal yang masih perlu dibenahi, terutama di bidang perekonomian dan pendidikan.

Kedua hal itulah yang akan bisa menjawab bagaimana kita bisa melarikan diri dari pengangguran. Ketika perekonomian di negeri ini lebih membaik, maka hal ini akan berdampak pada peningkatan perekonomian dan penurunan angka pengangguran.

Begitu juga dengan pendidikan, para sarjana yang lulus dengan proses pendidikan itu akan mampu melahirkan pemikiran atau ide baru untuk bisa mengatasi pengangguran.

Kenyataanya pada zaman sekarang, dunia ini terkesan begitu kejam, hilangnya rasa kasih sayang, rusaknya moral manusia, khususnya di Indonesia, yang kaya terus bertambah menjadi kaya raya, yang miskin akan semakin terpuruk. Seharusnya kita berharap hal demikian tidak terjadi, Negara kita Indonesia merdeka pada 1945 yang lalu, namun sampai sekarang, sesunguhnya rakyat Indonesia belum layak untuk dikatakan menjadi negara yang merdeka.

Begitu banyak masyarakat hidup dalam himpitan kemiskinan dan kemelaratan, pengemis semakin memarak, anak jalanan juga semakin bertambah. Bukankah dengan kekayaan negara kita yang siap selalu memenuhi keinginan wakil rakyat ataupun segenap petinggi negara itu bisa digunakan untuk memberikan kemerdekaan yang sesunguhnya kepada rakyat Indonesia?

Hanya hati nurani kita yang mampu menjawab akan hal ini, karena pada hakikatnya mengharapkan hal yang demikian bisa terwujud, bagaikan mengharapkan terbitnya matahari di kala malam gelap gulita.

* Zukifli Andi Govi
, Ketua Umum HHI Komisariat Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: andigoviz@yahoo.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved