Singkil Krisis Bensin
Membeli ke SPBU menyita banyak waktu, beli ke pengecer harganya dua kali lipat
* Antrean Berjam-jam di SPBU
SINGKIL - Warga Aceh Singkil, mulai diresahkan dengan sering terjadinya krisis bensin sejak awal tahun 2012 ini. Tiga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang ada di daerah ini, lebih banyak kosong ketimbang jualan. Kalaupun ada, akan terjadi rebutan dengan anterian panjang berjam-jam. Di Singkil, premium telah menjadi barang langka. Membeli ke SPBU menyita banyak waktu, beli ke pengecer harganya dua kali lipat.
“Saya sendiri jarang sekali mengsisi BBM di SPBU karena sering kosong, kalau ada terjadilah antrean panjang. Menguras dan menyita waktu untuk menunggu pengisian BBM, sehingga aktifitas tukang becak, supir angkutan, pegawai negeri habis hanya untuk mendapatkan setanki minyak bensin,” kata Mustafa Naibaho pemerhati kebijakan publik di Aceh Singkil, Jumat (11/5).
Udin, penduduk Singkil Utara, merasakan efek negatif terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Gara-gara kesulitan mendapatkan bensin, barang dagangannya acap terlambat sampai di pelanggan. Selain kena semprot pelanggan keuntunga jualannya jadi menipis. “Membeli bensin di pengecer mahal, keuntungan dari jualan habis untuk biaya transportasi saja,” keluh Udin.
Pemkab Aceh Singkil didesak segera mengambil tindakan mengatasi kelangkaan BBM. Kemudian, mengambil kebijakan standarisasi harga BBM di pengecer, yang harganya mencapai Rp 7.000 sampai dengan Rp 10.000 per liter.
“Masyarakat mempunyai hak mendapatkan BBM. Pemerintah jangan buat susah rakyatnya dengan kelengakaan dan antrian panjang BBM, mohon persolaan ini segera diselesaikan, karena dengan kondisi seperti ini masyarakat kecil sangat susah dan bisa menggangu pergerakan ekonomi,” tandas Mustafa Naibaho.(c39)
spbu di singkil
* SPBU Pulau Sarok, Singkil
* SPBU Rimo, Gunung Meriah
* SPBU Lipat Kajang Atas, Simpang Kanan