Harga Sere Turun
Harga minyak nilam, salah satu komoditas ekspor sebagai bahan industri parfum masih bertahan pada Rp 450.000/kg di pasar
Dua komoditi unggulan Galus ini, sere naik Rp 28.000/kg, dari Rp 121.000/kg menjadi Rp 149.000 pada awal Februari 2012 dan nilam tetap Rp 450.000/kg. “Salah satu penyebab turunnya harga minyak sere karena permintaan dari luar daerah turun,” ujar Sulpan, salah satu agen penampung komoditi pertanian di Kutapanjang, kepada Serambi, kemarin.
Dia menjelaskan harga kedua komoditas itu tergantung dari pergerakan mata uang dolar AS karena sebagian besar diekspor. Sulpan mengklaim produksi minyak sere terbesar masih di Galus, walau beberapa daerah lainnya di Aceh juga membudidayakan salah tanaman yang menjadi bahan dapur para ibu rumah tangga.
Agen penampung hasil pertanian ini mengungkapkan jumlah minyak sere yang dijual petani mencapai 7 ton per bulan, tetapi, jumlah nilam yang berhasil ditampung pedagang Kutapanjang hanya sekitar 1 ton per bulan. Sedangkan lainnya dibeli para pedagang penampung lain di kecamatan lain untuk dijual kembali ke pedagang luar daerah, khususnya Medan, Sumut, sebelum diekspor.
“Kami tetap membeli minyak sere dari para petani, baik dalam jumlah skala satu kilogram maupun ratusan kilogram dengan harga pasar pekan ini, Rp 140.000/kg,” ujarnya. Minyak sere atau juga disebut minyak atsiri ini digunakan sebagai pewangi parfum dan kosmetika, juga untuk bahan Vitamin A. Minyak ini juga sebagai bahan obat kulit, minyak pijat, pengusir serangga dan nyamuk, termasuk untuk obat melancarkan pernafasan. Juga digunakan untuk pewangi sabun, detergen, pembersih lantai, aerosol, dan aneka jenis produk teknis lainnya.
Dalam jumlah kecil digunakan pada industri makanan dan minuman seperti anggur, saus, permen, rempah, dan lainnya. Sebagai bahan luar, digunakan untuk keperluan obat sakit kepala, sakit gigi dan ramuan air mandi, serta sejumlah manfaat lainnya.(c40)