Surya Paloh Minta Maaf
Pembina Yayasan Sukma, Drs Surya Paloh, meminta maaf kepada Direktur Pendidikan Yayasan Sukma serta seluruh pengajar di sekolah itu
SIGLI - Pembina Yayasan Sukma, Drs Surya Paloh, meminta maaf kepada Direktur Pendidikan Yayasan Sukma serta seluruh pengajar di sekolah itu, karena kebijakannya yang telah mengintervensi, sehingga sebelas siswa yang terkena sanksi pecat akhirnya dibolehkan ikut Ujian Nasional (UN) susulan, Selasa (24/4) lalu di Sekolah Sukma Bangsa Caleu, Kecamatan Peukan Baro, Pidie.
“Saya minta maaf atas hal ini. Saya berkomitmen ingin sekolah ini menjadi hebat untuk melahirkan pimpinan yang jujur dan cerdas,” kata Surya Paloh saat berbicara di depan siswa, pengajar, orang tua wali, Muspida Pidie, dan tamu undangan, di Sekolah Sukma Bangsa, Gampong Pineung, Pidie, Selasa (15/5).
Seperti diketahui, sebelas peserta UN di SMA Sukma Bangsa Caleu sempat dipecat dari sekolah itu, karena di kantong mereka ditemukan contekan (kopekan) saat mengikuti UN mata ujian bahasa Inggris, Selasa (17/4).
Kebijakan yang ditempuh Direktur Pendidikan Yayasan Sukma itu, menurut Surya, memang seharusnya dilakukan. “Jadi, direktur jangan bersedih hati satu sama lain dengan kebijakan yang telah dilaksanakan itu,” kata Surya Paloh.
Ia berharap, kesalahan pemahaman yang terjadi mengenai kebijakan sekolah itu, sejatinya tidak terulang lagi di masa mendatang. Karena, kata Surya Paloh, misi yang diemban saat mendirikan Sekolah Sukma Bangsa ini adalah untuk menjalankan tugas mulia, bukan mencari laba.
“Anak-anak yang menimba ilmu di Sekolah Sukma ini harus memiliki fisik yang kuat. Mereka terus digembleng dengan berbagai macam pelajaran, sehingga membentuk kejujuran pada diri anak-anak tersebut. Karena itu, kejujuran adalah modal utama bagi anak-anak dalam meraih kesuksesan,” ujarnya.
Anak didik, kata Surya melanjutkan, harus siap menerima risiko apa pun bentuknya jika mereka melanggar disiplin atau peraturan sekolah.
“Makanya, atas kebijakan pimpinan Yayasan Sukma Bangsa yang menskorsing sebelas siswa, saya ucapkan rasa hormat saya setinggi-tingginya,” kata dia.
Menurutnya, apabila Sekolah Sukma Bangsa ini dipandang sebagai tempat atau untuk kepentingan pribadi dan kelompok, maka lebih baik sekolah ini tak ada lagi di Pidie.
Surya mengaku ingin membangun kembali semangat baru dengan direktur, pengajar, siswa, dan orang tua wali di sekolah itu. Untuk itu, ia tetap bertekad berbuat lebih baik lagi bagi Sekolah Sukma Bangsa. Tentunya harus adanya dukungan penuh dari semua pihak dalam menjalankan shiratal mustaqim di sekolah tersebut. “Para siswa harus belajar terus. Kita bangga sekolah Sukma Bangsa menjadi referensi bagi sekolah luar negeri,” harapnya.
Surya Paloh yang juga Ketua Umum Pusat Partai Nasional Demokrat (Nasdem) kemarin memanen padi perdana yang merupakan pogram Padi Sepuluh Ton Per Hektare (PALOH) di areal sawah seluas 9 hektare di Gampong Blang Dalam, Bandar Dua, Pidie Jaya (Pijay).
Saat panen, Surya didampingi unsur pimpinan Partai Nasdem Pusat dan Pijay. Sebagai bangsa pemakan beras terbesar di dunia, kata Surya, rata-rata penghasilan padi Indonesia telah mencapai 6-7 ton per ha. Bandingkan dengan India 3,6 ton, Thailand 3,2 ton, dan Vietnam 5,6 ton.
Dijelaskan, dengan metode pengembangan padi PALOH ini, setidaknya secara bertahap negara maupun daerah akan menghilangkan ketergantungannya pada pangan imporr. “Program ini patut dibumikan di Aceh secara menyeluruh dan menjadi pilot project bagi Nusantara ini,” katanya.
Setelah itu, Surya Paloh meninjau lokasi gedung sentral Agro Center Nasdem di Pijay. Surya juga meresmikan kantor operasional Nasional Demokrat (Nasdem) di Pijay bersamaan dengan pengukuhan pengurus Sekretariat Geurakan Nasional Demokrat Petani Seujahtera (GEUNTA) di Lapangan Sepakbola Meureudu. (naz/c43)