Senin, 22 Desember 2014
Serambi Indonesia

Keraton Yogyakarta Memiliki Prajurit di Kampung-kampung

Kamis, 17 Mei 2012 19:43 WIB

Keraton Yogyakarta Memiliki Prajurit di Kampung-kampung
kompas.com
Prajurit keraton Yogyakarta

SERAMBINEWS.COM - Ada yang mengejutkan dari puncak hari jadi Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang berlangsung Selasa (15/5/20120) lalu.


Hadirnya segenap bregodo (pasukan) prajurit  dari berbagai daerah, desa atau kecamatan di daerah Sleman,Yogyakarta, yang semuanya mengaku sebagai prajurit  Keraton Yogyakarta, seperti menjadi bukti bahwa secara imajiner keraton itu masih menjad i sebuah  pusat kekuasaan bagi masyarakatnya.


Dalam perayaan hari ulang tahun Kabupaten Sleman ke-96 itu, tercatat dua sikap kultural yang semuanya bermuara pada pengakuan eksistensi Keraton Yogyakarta, sebagai bagian dari spirit hidup mereka sehari-hari.

Pertama adalah adanya kerelaan seluruh lapisan masyarakat yang

berada di desa-desa, sampai karyawan dan pejabat Kabupaten Sleman untuk berpakaian Jawa, layaknya masyarakat Yogyakarta tempo dulu, ketika masih berada dalam kekuasaan Keraton Yogyakarta.


Di balik itu, dan ini sikap kultural yang kedua, adalah munculnya bregodo (pasukan ) prajurit keraton yang datang dari berbagai daerah, mulai dari pelosok desa terpencil sampai kampung-kampung di kota Sleman. Mereka datang dengan berbagai seragam, atribut, termasuk musik pengiring semua berkiblat pada Keraton Yogyakarta.


"Keberadaan prajurit -prajurit dari berbagai penjuru Kabupaten Sleman ini bukan begitu saja muncul, ketika daerah ini akan merayakan HUT-nya yang ke-96. Pasukan prajurit keraton ini memang sudah dibentuk sejak lama. Juga tidak dibentuk serentak, tanpa dikomando dari keraton. Masing-masing dukuh atau desa mendirikan prajurit keraton atas inisiatif sendiri," kata Mbah Warto.


Warto adalah salah satu anggota prajurit dari Ambarketawang , Gamping, Sleman, yang merupakan wilayah atau cikal bakal terbentuknya Keraton Yogyakarta. Namun menurut Mbah Warto, keberadaan prajurit ini bukanlah sebuah pasukan mirip tentara zaman sekarang ini.


"Kami mendirikan kelompok prajurit hanya untuk mengenang zaman dulu. Kami muncul ketika ada upacara desa atau acara formal di kecamatan atau kabupaten," katanya.


Ada lebih dari 30 nama kelompok prajurit yang hadir dalam puncak acara hari Sleman di Lapangan Denggung. Layaknya tentara, secara tertib dan ritmis mereka memasuki tempat upacara dengan langkah tegap, seirama dengan iringan musik tambur ala keraton.


Nama-nama pasukan yang digunakan, umumnya menunjuk wilayah dusun atau desa mereka. Namun ada kelompok prajurit yang memberi nama tidak berorientasi pada nama dusun.  Misalnya pasukan Mejing, menunjuk wilayah dusun mereka yang berada di Kecamatan Godean.


Selain itu, ada  parajurit Tunggul Wulung, Prajurit Suanan Kalijogo, Prajurit Wiratani, Prajurit Ki Ageng Wonolelo, dan masih banyak lagi.


Barangkali inilah kekhasan Yogyakarta. Betapa budaya yang bersentral pada keraton masih begitu kuat. Artinya, pengakuan masyarakat bukan sebuah pengakuan kedaulatan, tetapi sebuah pengakuan kultural. Sebuah penghormatan masa lampau yang masih berlangsung hingga sekarang.
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas