Tafakur
Belajar Sepanjang Hayat
Melaksanakan apa yang diungkapkan melalui kata-kata, itulah yang tak banyak (mampu) diwujudkan setiap insan di dunia ini
Oleh: Jarjani Usman
“Akan tiba suatu masa pada umat ketika orang membaca al-Qur’an namun hanya sebatas tenggorokannya” (HR. Muslim).
Melaksanakan apa yang diungkapkan melalui kata-kata, itulah yang tak banyak (mampu) diwujudkan setiap insan di dunia ini. Termasuk di antaranya melaksanakan apa yang ditunjukkan dalam Alquran tentang bagaimana sepatutnya berbicara, berdiskusi, atau berdebat. Meskipun berulangkali membaca ayat-ayat tentang ajakan untuk mengedepankan kebaikan dan penuh hikmah (QS. Al Nahl: 125), bacaan itu seringkali tak mewujud kecuali hanya sebatas tenggorokan.
Ketika berbicara, seringkali masing-masing ingin menang sendiri, ketimbang ingin menemukan kebenaran. Tak jarang pula perbuatan yang seharusnya bertujuan mencari kebenaran, malah menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak dibenarkan (oleh Allah), seperti putusnya hubungan silaturrahim dengan sesame manusia atau bahkan seiman. Bahkan, ada juga yang menyimpan rasa dendam atau kebencian wajah yang panjang. Ini merupakan suatu bukti yang patut diakui sebagai adanya kelemahan besar dalam diri kita, terutama dalam menyikapi perbedaan (pendapat).
Padahal ketika terjadi perbedaan pendapat, disadari atau tidak, telah menyebabkan terjadinya penguatan ingatan. Sebab, manusia paling mudah mengingat hal-hal yang sifatnya menegangkan, sesuatu yang diraih dengan susah payah, dan sejenisnya. Perbedaan pendapat juga tak ubahnya seperti membagi dua ilmu, yang sama-sama mendapat dua. Bahkan karena adanya perbedaan pendapat, masing-masing akan berusaha untuk memastikan kebenarannya dengan mengecek kembali pada sumber-sumbernya. Tentunya, ini suatu proses belajar yang baik dan berkelanjutan. Rasulullah pernah mengajak untuk menuntut ilmu atau belajar sepanjang hayat, yaitu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat.