MTsS Lhok Beuringen, Aceh Utara
Guru yang Eksis dengan Budaya Aceh
Kendati umurnya sudah lebih setengah abad, tapi Ibu Non masih tetap bersemangat mengajari anak-anak
Kendati umurnya sudah lebih setengah abad, tapi Ibu Non masih tetap bersemangat mengajari anak-anak terutama di bidang agama dan seni budaya Aceh. Bahkan, tahun 1982 Ibu Non membentuk teater di Langsa yang menampilkan lawak, lagu, dan tarian-tarian Aceh. Saat ini, ia juga sedang fokus melatih pelajar MTsS Lhok Beuringen menghafal Asmaul Husna, shalawat badar, dan rebana.
Setelah beberapa tahun mengemban tugas di MIN Desa Lhok Beuringen, Ainul ditugaskan ke MTsS Teuku Chik Ditunong sejak tahun 2007. “Namun kadang-kadang saya juga terpanggil untuk membantu MIN, karena MIN tersebut sudah seperti sekolah milik saya,” ujar Ibu Non. Selain bidang seni budaya, Ainul juga mengajari pelajarnya berbagai jenis kerajinan tangan. Seperti jahitan bordir dan anyaman tas dari kulit batang pisang.
Ibu Non bercita-cita agar seni budaya Aceh yang telah terkenal sejak dulu jangan tergilas dengan budaya luar. Karena itu, ia berharap peran instansi terkait untuk mempertahankan budaya Aceh harus ditingkatkan. “Saya mengajar seni budaya pada anak-anak di MIN dan MTsS karena hobi serta didukung kepala sekolah dan guru. Sementara bantuan pemerintah belum ada,” ungkapnya.
Ke depan, Ibu Non berharap pemerintah dapat memberi perhatian serius bagi perkembangan seni budaya Aceh. Sehingga budaya Aceh yang kental dengan nuansa islami tak tergilas budaya luar yang tak sesuai dengan ajaran Islam.
* ibrahim achmad
siapa ainul?
- Nama: Ainul Mardhiah
- Lahir: Seuneubok Bace, Tahun 1954
- Riwayat pekerjaan: 1993-2006 guru di MIN Lhok Beuringen dan awal Januari 2007 pindah ke MTsS Teuku Chik Ditunong
- Keahlian: pelatih tari ranup lampuan, seudati, shalawat badar, rebana, serampang 12, saman wanita, teater, lawak, tari India
- Menjadi pelatih menjahit bordir, merajut tas, dan membuat praktik manisan