Citizen Reporter
Pesona Pasar Jumat di Chiang Mai
SELAMA perjalanan akademik saya di Chiang Mai, Thailand, sebagai visiting scholar dari Asian Public Intellectual (API) community
SELAMA perjalanan akademik saya di Chiang Mai, Thailand, sebagai visiting scholar dari Asian Public Intellectual (API) community, saya berafiliasi dengan Regional Center for Sustainable Development (RCSD), Chiang Mai University.
Direkturnya, Prof Dr Chayan Vadanaputti, merekomendasi saya untuk melihat perubahan sosial dan tradisi di Thailand Utara dengan melakukan studi. Salah satunya adalah studi komunitas etnis muslim Thai di Masjid Heydayatul Islam alias Masjid Ban Ho.
Saya sengaja datang lebih awal ke masjid itu naik kendaraan sejenis labi-labi, karena ingin mengetahui kesibukan “pasar Jumat” ini sejak pagi, sejak para pedagang menyiapkan dagangannya.
Saya ditemani penerjemah yang telah menunggu saya di gerbang masjid, karena saya belum mahir berbahasa Thai yang panjang. Dia perempuan muslim asli Thai, bernenek moyang Cina Yunan. “Pasar Jumat ini merupakan inisiatif dari pengurus Masjid Ban Ho,” kata dia dalam bahasa Inggris, sambil menunjuk sebuah masjid yang sedang direnovasi. Letaknya di depan lapangan parkir.
“Area pasar Jumat ini dulunya area parkir dan Masjid Ban Ho. Bangunan tua dan kuno itulah masjidnya,” lanjut dia sambil menunjuk sebuah bangunan lama, bergaya panggung yang terbuat dari kayu. Mirip rumah panggung tradisional di Aceh.
Saya berkeliling seputar area parkir yang cukup luas itu, sambil memotret kesibukan para pedagang menyiapkan kios-kiosnya, maupun yang berniaga ala pedagang kakilima. “Ini daging sapi semua ya?” tanya saya kepada Pi Mariam, penerjemah saya. Dia seorang ahli IT lulusan universitas di Burma dan Cina. “Bukan, ada sebagian babi dan sebagiannya lagi sapi,” jawabnya.
“Lihat ini tulisan yang menunjukkan ini pedagang daging babi,” lanjutnya. “Lho, kok boleh jualan daging babi di areal masjid?” tanya saya penasaran. Pi Mariam menjelaskan bahwa para pedagang ini berasal dari berbagai agama dan mereka tidak hanya pedagang yang berasal dari Chiang Mai, tetapi juga dari gunung atau desa lain yang jaraknya tidak dekat dari lokasi masjid ini.
Letak Masjid Ban Ho ini sangat berdekatan dengan area turis yang sangat terkenal di Chiang Mai, yaitu Night Bazaar. “Mereka berjualan di sini, masjid menyediakan fasilitas, dan didukung oleh masyarakat sekitar yang campur antara masyarakat yang mayoritas beragama Budha dan sebagian muslim, juga oleh pemda wilayah ini,” ujarnya.
“Bahkan ada migran dari Burma,” tambahnya sembari mengajak saya ke kedai khusus barang-barang produk Burma. Saya bicara dengan pedagang yang berbahasa Burma, lalu dia terjemahkan dari bahasa Burma ke bahasa Inggris. Pi Mariam ini mahir berbahasa Jepang, Thai, Cina, Burma, dan tentu saja Inggris.
Perempuan pedagang dari Burma itu berkisah, awalnya dia hanya dengar dari temannya seorang Thai yang berdagang madu di pasar Jumat. Omsetnya di pasar ini terus meningkat. Lalu, temannya itulah yang memperkenalkannya kepada pengurus pasar Jumat ini.
“Awalnya pasar itu kecil saja. Hanya merupakan kegiatan ekonomi kecil para muslim di Chiang Mai dan sekitarnya. Mereka berdagang sejak pagi hingga menjelang shalat Jumat, di pelataran masjid yang sekaligus tempat parkir,” jawab ustaz besar yang sekaligus ketua masyarakat kerukunan lintas agama di Chiang Mai. Ustaz ini dari Bangladesh. “Namun, sejak menginjak tahun ketiga, ada aspirasi untuk mengembangkannya menjadi alat penggerak ekonomi rakyat, maka kami bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk memperbesar area pasar dan siapa saja bisa berdagang di sana,” terangnya.
Saya berdecak kagum melihat kesibukan para pedagang dan apa yang saya saksikan langsung di area pasar Jumat yang memesona itu. Antara pembeli dan penjual atau antarpenjual yang latar belakangnya berbeda-beda secara agama dan etnis saling berinteraksi, hingga suara azan tanda panggilan shalat Jumat mengakhiri waktu mereka berniaga. Para pedagang sudah mulai menutup kiosnya, tanpa perlu dikejar-kejar petugas. Lalu area itu berubah fungsi menjadi tempat parkir kendaraan jamaah masjid yang akan shalat Jumat. Saya sampaikan salam dalam bahasa Thai ‘Sawasdeeka’ kepada tukang parkir, seorang penganut Budhism yang sudah lama bekerja di area masjid itu. Subhanallah.
Saya tinggalkan area pasar itu dengan tangan penuh tentengan belanjaan untuk isi kulkas. Saat itu perut lapar, namun perasaan ‘lain’ berkecamuk di hati saya. Indah sekali kalau insan di negara saya dan seluruh dunia seperti ini. Tidak ada konflik. Senantiasa damai.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com