Rabu, 26 November 2014
Serambi Indonesia

Industri Makanan dan Minuman Terganggu Kenaikan Harga Gas

Selasa, 22 Mei 2012 21:08 WIB

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Frangky Sibarani mengemukakan, sebagian besar dari 61 pabrik makanan dan minuman bergantung pada gas. Selama ini, mereka kerap bermasalah dengan gas, terutama terkait dengan aspek jaminan pasokan dan harga.


"Selama dua tahun terakhir, suplai gas kepada kami terus menurun. Tahun lalu hanya 70 persen yang tersuplai. Tahun ini diperkirakan lebih rendah," kata Frangky, Selasa (22/5/2012), di Jakarta.


Dia mengatakan, ketiadaan jaminan pasokan itu diperparah dengan kebijakan yang seenaknya menaikkan harga gas. Rencana menaikkan harga gas sebesar 55 persen dinilai memberatkan industri makanan dan minuman.


"Bagi pabrik yang menggunakan gas, kontribusi ke biaya produksi mencapai 20 persen. Hal itu tentunya akan berdampak pada harga jual," katanya.


Frangky mencontohkan beberapa produk yang memanfaatkan gas, yakni teh botol, roti, dan biskuit. Jika kenaikan gas diberlakukan, harga jual produk-produk tersebut kepada konsumen dipastikan naik.

Editor: Boyozamy
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas