Minggu, 1 Februari 2015

Selandia Baru Akan Jadi Negara Bebas Rokok?

Jumat, 25 Mei 2012 21:17 WIB

Selandia Baru Akan Jadi Negara Bebas Rokok?
ilustrasi

SERAMBINEWS.COM, WELLINGTON -  Restoran, kantor, bar, taman, dan bahkan kampus bebas asap rokok sudah lama ada. Namun, negara bebas asap rokok?

Pemerintah Selandia Baru kini semakin menggencet para perokok, lebih dari sebelumnya, dengan mengumumkan kenaikan pajak tembakau sebesar 40 persen selama empat tahun ke depan. Harga rokok di negara itu sudah termasuk yang tertinggi di dunia. Pada 2016, negara itu akan mematok harga rokok secara rata-rata sebesar Rp 133.000 sebungkus.

Para pejabat berharap pajak yang lebih tinggi dan pembatasan baru tersebut bisa membawa negara berpenduduk 4,4 juta itu bebas asap rokok pada 2012, sesuai dengan ikrar yang baru dicanangkan.

Sejumlah negara lain memuji gagasan untuk mencoba menyapih rakyat dari tembakau, tetapi hanya sedikit, jika itu ada, yang bersedia untuk menentukan tenggat waktu terhadap hal tersebut. Para pejabat kesehatan Selandia Baru sangat serius. Mereka baru-baru ini mempertimbangkan untuk menaikkan harga sebungkus rokok menjadi sekitar Rp 700.000. Meski gagasan itu ditolak, ada langkah lain, yaitu yang akan memaksa pengecer untuk menyembunyikan rokok di bawah meja ketimbang menempatkannya di tempat pajangan, yang akan berlaku efektif mulai Juli.

Jumlah perokok di kalangan orang dewasa Selandia Baru telah turun dari sekitar 30 persen pada 1986 menjadi sekitar 20 persen saat ini. Penjualan rokok anjlok lebih tajam. Hal itu menunjukkan bahwa bahkan orang yang belum berhenti merokok tidak mau lagi membeli rokok karena harga yang tinggi.

Para perokok tidak senang dengan harga yang akan semakin tinggi. Chris Hobman, seorang warga, mengatakan, harga itu "mengerikan" dan bisa mendorong sejumlah orang yang berpenghasilan rendah melakukan kejahatan guna mendukung kebiasaan mereka. Dia mengatakan, pemerintah perlu memberikan lebih banyak dukungan dan alternatif bagi para perokok jika serius untuk membuat mereka berhenti merokok.

Warga Wellington, Hayley Mauriohooho, yang telah merokok selama sekitar 20 tahun, mengatakan, meskipun akan baik jika semakin banyak orang berhenti merokok, pajak yang lebih tinggi tidak akan menghentikannya. "Cukup konyol bagi pemerintah untuk berkonsentrasi pada masalah itu," kata perempuan itu seperti dikutip The Telegraph, Jumat (25/5/2012). "Mereka punya sejumlah hal besar lain yang perlu dikhawatirkan."

Halaman12
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas