Jepang Banggakan Budaya Leluhur
Sabtu, 2 Juni 2012 15:21 WIB

Vera Halfiani
Mahasiswa FMIPA Unsyiah Melapokan dari Tokyo, Jepang
SAAT mengikuti kegiatan pertukaran pemuda JENESYS (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths) Programme 2012 pada Mei lalu, saya dan 69 mahasiswa Indonesia lainnya berkesempatan mengunjungi Tokyo dan beberapa prefektur (provinsi-red) di Jepang. Kami dibagi tiga kelompok, yaitu Grup Aichi berangkat ke Prefektur Aichi, Grup Fukuoka ke Fukuoka, dan Grup Chiba ke Prefektur Chiba. Saya sendiri tergabung dalam Grup Aichi.
Di sana, saya melakukan kegiatan homestay selama tiga hari di salah satu rumah warga Jepang yang tinggal di daerah Toyokawa, Aichi. Tujuannya, untuk memahami budaya dan lifestyle penduduk Jepang sebagai upaya meningkatkan rasa saling pengertian akan perbedaan karakter dan budaya di antara remaja yang merupakan generasi penerus di masa depan.
Sesampai di lokasi, saya dibuat kagum oleh deretan rumah penduduk Jepang yang khas. Pasalnya, secara umum rumah hampir bertipe sama dan sangat jarang bertipe mewah serta dari luar tampak sederhana. Sehingga saya tak bisa membedakan mana rumah orang berpendapatan di atas rata-rata atau orang yang pendapatannya biasa-biasa saja. Hal ini memberikan gambaran akan meratanya tingkat ekonomi penduduk Jepang dan rendahnya gap antara si kaya dan si miskin.
Bagian-bagian rumah tampak biasa-biasa saja dan ukuran ruangan juga tidak terlalu besar. Juga ada ruangan khas tradisional Jepang, di mana lantainya dilapisi tatami (tikar khas Jepang yang dibuat dari jerami yang sudah ditenun-red), lalu sebuah meja tanpa kursi di tengah ruangan. Hanya ada empat bantal di sekeliling meja sebagai tempat untuk duduk lesehan. Ruangan itulah yang jadi kamar tidur saya. Saat mau tidur saya harus meminggirkan meja, membentangkan kasur, lalu melipatnya lagi ke lemari di pagi harinya. Perlahan saya mulai menikmati gaya tradisional Jepang.
Namun, di rumah yang tampak sederhana dan masih memiliki sisi tradisional ini juga ada sentuhan modernnya, yaitu toilet duduk modern hasil teknologi Jepang. Uniknya, toilet duduk tersebut dapat menyemprotkan air secara otomatis setelah buang air kecil ataupun besar tanpa perlu tekan tombol ini itu. Saya juga mendengar cerita-cerita dari teman satu grup lainnya, di tempat mereka juga serba otomatis.
Petani bermobil
Di Toyohashi dan Toyokawa, sarana transportasi umum tidak sebanyak dan seluas jangkauan alat transportasi seperti di Tokyo, sehingga banyak warga yang menggunakan mobil pribadi. Bahkan, petani pun biasa naik mobil pribadi. Salah seorang teman kami sempat melihat ada warga yang baru turun dari mobil pribadinya saat ke sawah. Sungguh pemandangan yang sangat jarang terlihat di negeri agraris seperti Indonesia dan Aceh khususnya yang mana mata pencahariaan utama masyarakatnya adalah bertani. Menariknya, tidak ada warga yang pakai sepeda motor. Nah lain halnya di Tokyo, pejalan kaki lebih banyak ditemukan disini.
Hari kedua homestay, saya di ajak ke festival yang menampilkan hasil kreatifitas orang-orang lanjut usia. Di festival ini, saya melihat berbagai kerajinan yang dibuat oleh orang-orang yang sudah lansia, seperti lukisan, pakaian, rajutan, origami, tas, seni merangkai bunga, kaligrafi, dan lain-lain. Selain itu juga ada pertunjukan nyanyian dan tarian tradisional dari orang-orang lansia.
Penampilan tradisional juga merupakan suatu bentuk melestarikan budaya Jepang. Tidak hanya orang-orang tua yang menjaga budaya tradisional, generasi muda juga sudah diikutsertakan dalam even-even tradisional seperti festival yang saya lihat itu.
Banyak hal-hal sederhana dan positif dari negeri Jepang yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia dan Aceh khususnya, tentunya tanpa mengubah nilai-nilai budaya dan identitas kita.
Jepang adalah negara maju dan modern, namun Jepang juga menjadi contoh negara yang dapat menjaga budaya tradisionalnya sebagai kekayaan yang dimiliki negara itu sendiri. Saya yakin, Indonesia dengan sumber daya alam yang berlimpah dapat lebih cepat menjadi negara maju apabila semua hal itu dikelola dengan baik dan benar.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com
Di sana, saya melakukan kegiatan homestay selama tiga hari di salah satu rumah warga Jepang yang tinggal di daerah Toyokawa, Aichi. Tujuannya, untuk memahami budaya dan lifestyle penduduk Jepang sebagai upaya meningkatkan rasa saling pengertian akan perbedaan karakter dan budaya di antara remaja yang merupakan generasi penerus di masa depan.
Sesampai di lokasi, saya dibuat kagum oleh deretan rumah penduduk Jepang yang khas. Pasalnya, secara umum rumah hampir bertipe sama dan sangat jarang bertipe mewah serta dari luar tampak sederhana. Sehingga saya tak bisa membedakan mana rumah orang berpendapatan di atas rata-rata atau orang yang pendapatannya biasa-biasa saja. Hal ini memberikan gambaran akan meratanya tingkat ekonomi penduduk Jepang dan rendahnya gap antara si kaya dan si miskin.
Bagian-bagian rumah tampak biasa-biasa saja dan ukuran ruangan juga tidak terlalu besar. Juga ada ruangan khas tradisional Jepang, di mana lantainya dilapisi tatami (tikar khas Jepang yang dibuat dari jerami yang sudah ditenun-red), lalu sebuah meja tanpa kursi di tengah ruangan. Hanya ada empat bantal di sekeliling meja sebagai tempat untuk duduk lesehan. Ruangan itulah yang jadi kamar tidur saya. Saat mau tidur saya harus meminggirkan meja, membentangkan kasur, lalu melipatnya lagi ke lemari di pagi harinya. Perlahan saya mulai menikmati gaya tradisional Jepang.
Namun, di rumah yang tampak sederhana dan masih memiliki sisi tradisional ini juga ada sentuhan modernnya, yaitu toilet duduk modern hasil teknologi Jepang. Uniknya, toilet duduk tersebut dapat menyemprotkan air secara otomatis setelah buang air kecil ataupun besar tanpa perlu tekan tombol ini itu. Saya juga mendengar cerita-cerita dari teman satu grup lainnya, di tempat mereka juga serba otomatis.
Petani bermobil
Di Toyohashi dan Toyokawa, sarana transportasi umum tidak sebanyak dan seluas jangkauan alat transportasi seperti di Tokyo, sehingga banyak warga yang menggunakan mobil pribadi. Bahkan, petani pun biasa naik mobil pribadi. Salah seorang teman kami sempat melihat ada warga yang baru turun dari mobil pribadinya saat ke sawah. Sungguh pemandangan yang sangat jarang terlihat di negeri agraris seperti Indonesia dan Aceh khususnya yang mana mata pencahariaan utama masyarakatnya adalah bertani. Menariknya, tidak ada warga yang pakai sepeda motor. Nah lain halnya di Tokyo, pejalan kaki lebih banyak ditemukan disini.
Hari kedua homestay, saya di ajak ke festival yang menampilkan hasil kreatifitas orang-orang lanjut usia. Di festival ini, saya melihat berbagai kerajinan yang dibuat oleh orang-orang yang sudah lansia, seperti lukisan, pakaian, rajutan, origami, tas, seni merangkai bunga, kaligrafi, dan lain-lain. Selain itu juga ada pertunjukan nyanyian dan tarian tradisional dari orang-orang lansia.
Penampilan tradisional juga merupakan suatu bentuk melestarikan budaya Jepang. Tidak hanya orang-orang tua yang menjaga budaya tradisional, generasi muda juga sudah diikutsertakan dalam even-even tradisional seperti festival yang saya lihat itu.
Banyak hal-hal sederhana dan positif dari negeri Jepang yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia dan Aceh khususnya, tentunya tanpa mengubah nilai-nilai budaya dan identitas kita.
Jepang adalah negara maju dan modern, namun Jepang juga menjadi contoh negara yang dapat menjaga budaya tradisionalnya sebagai kekayaan yang dimiliki negara itu sendiri. Saya yakin, Indonesia dengan sumber daya alam yang berlimpah dapat lebih cepat menjadi negara maju apabila semua hal itu dikelola dengan baik dan benar.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com
Editor : hasyim
