A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Suara Emas Hamli Yunus, Motivasi untuk Penerus - Serambi Indonesia
Sabtu, 22 November 2014
Serambi Indonesia

Suara Emas Hamli Yunus, Motivasi untuk Penerus

Minggu, 3 Juni 2012 09:55 WIB

Suara Emas Hamli Yunus, Motivasi untuk Penerus
Hamli Yunus
MESKI nama Hamli Yunus tak asing lagi di kalangan masyarakat Aceh namun tak banyak yang tahu perjalanan hidup maupun rekam prestasinya dalam bidang seni baca Alquran.

Hamli Yunus, pria kelahiran Kabong, Krueng Sabe, Aceh Jaya (dulu masih Aceh Barat), 12 Juni 1970, adalah satu dari hanya segelintir orang Aceh yang mencatat sejarah emas di ajang MTQ. Tidak hanya di tingkat nasional, Hamli Yunus yang kini menjabat sebagai Kasi HBI (Hari-hari Besar Islam) dan Publikasi Dakwah di Bidang Penamas Kemenag Aceh, juga mengukir prestasi membanggakan di tingkat internasional.

“Alhamdulillah, ini semua anugerah Allah Swt serta dorongan kedua orang tua, keluarga, dan juga teman-teman sekalian,” kata Hamli Yunus melalui perbincangan per telepon dengan Serambi, Jumat (1/6). Saat dihubungi, Hamli sedang di Jakarta menggembleng qari dan qariah Aceh yang akan berlomba pada MTQN XXIV di Ambon, Maluku, 9-20 Juni 2012. “Ada 11 orang yang saat ini sedang TC di Jakarta. Selain saya ada beberapa pelatih tingkat nasional yang menggembleng mereka,” ujar Hamli.

Ditanya peluang Aceh di MTQ XXIV Ambon, Hamli mengaku optimis bisa memperbaiki peringkat nasional. “Ada beberapa cabang yang kita harap bisa meraih juara 1 di MTQN Ambon, antara lain qiraah sab’ah putri, kanak-kanak putra, remaja putri, dan dewasa putra,” katanya.

Optimisme Hamli itu didasari karena wakil Aceh di ketiga cabang itu sudah pernah meraih juara II di tingkat nasional. Bahkan, peserta untuk cabang tilawah dewasa putra, Muhammad Akhir, pernah terpilih sebagai juara hafiz 1 juz dan tilawah dalam suatu perlombaan di Madinah.  “Dari segi pengalaman mereka ada peluang. Namun semua itu juga tidak lepas dari bantuan Allah. Kita berdoa semoga kesehatan mereka tidak terganggu, tidak serak saat tampil, dan jangan sampai salah bacaan ayat,” ujar peraih juara I MTQN XX tahun 2003, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Sebagai putra Aceh, Hamli Yunus yang berhasil meraih juara II di MTQ Internasional di Jakarta tahun 2003, tentu sangat berharap agar Aceh bisa mengulang prestasi terbaik di ajang MTQ. Minimal bisa menempati peringkat IV nasional, seperti yang diraih pada MTQN tahun 1991 di Yogyakarta dan MTQN XX tahun 2003 di Palangkaraya.

Dalam MTQN 1991 di Yogya, Hamli keluar sebagai juara III tilawah remaja putra. Prestasi yang sama juga diukir Syarifah Rahmah yang menjadi wakil Aceh di cabang remaja putri. Sebagai gambaran, selain juara umum saat menjadi tuan rumah MTQN 1981 di Banda Aceh, hanya di Yogya dan Palangkaraya prestasi terbaik yang pernah diukir oleh Aceh di ajang dua tahunan ini.

Pada MTQN XXIII di Bengkulu 2010, kafilah Aceh hanya menempati peringkat 9 nasional. Prestasi ini memang lebih baik dari peringkat 11 yang diraih pada MTQN XXIII di Banten (2008). Namun, prestasi di Bengkulu tetap saja mengecewakan banyak pihak. Banyak yang berpendapat, Aceh yang merupakan daerah bersyariat Islam harusnya bisa berbicara lebih banyak di ajang lomba bernafaskan Islam ini.

Minder dan motivasi
Apa sebenarnya yang menjadi kendala bagi Aceh di ajang MTQ? Pertanyaan ini dijawab oleh Hamli Yunus. “Minder karena kurangnya jam terbang serta rendahnya suntikan semangat (motivasi) menjadi faktor utama minimnya prestasi Aceh. Selain itu, kadang waktu TC (persiapan) kita sangat sempit. Seperti untuk MTQN tahun ini, kita hanya punya waktu 3 bulan untuk mempersiapkan diri. Padahal, sebagian besar peserta, terutama anak-anak, berasal dari luar Banda Aceh. Tentu mereka butuh waktu dan jam terbang yang lebih banyak untuk mempersiapkan diri. Waktu kami ikut ke MTQN Palangkaraya dulu, waktu persiapannya mencapai delapan bulan.”

Untuk lebih memotivasi sang penerus yang akan berlomba di MTQN XXIV, Hamli Yunus telah merekam suara emasnya ke dalam video compact disk (vcd). “Saya sangat bersyukur ketika produser film Aceh, Din Kramik dan Planet Broadcasting meminta saya untuk membuat vcd pengajian. Apalagi tujuan saya dengan mereka sama, yakni untuk memotivasi anak-anak Aceh agar mendedikasikan suara emasnya untuk membaca Kalam Ilahi. Karena saya yakin, sangat banyak orang Aceh yang punya kemampuan,” ujar ayah dua putri yang kini menetap di kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh.

Hamli Yunus menuturkan, ada satu tujuan besar kenapa dia mau menerima tawaran Din Kramik untuk memproduksi vcd qari. “Setiap saya datang ke daerah, sering ditanya kenapa saya tidak merekam lantunan Alquran ke dalam kaset atau vcd? Alhamdulillah, keinginan besar itu kini sudah terujud. Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi anak-anak Aceh,” demikian harapan alumni Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry ini.(zainal arifin m nur)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas