Ketika Para Dosen Menarikan Saman
Senin, 4 Juni 2012 09:38 WIB
Share |
040612foto.8_.jpg
Bustami Abubakar
Oleh Bustami Abubakar, Mahasiswa USM, Melaporkan dari Penang, Malaysia

Dua orang berpakaian koko warna putih dan berpeci naik ke atas pentas diikuti oleh 10 orang lain yang mengenakan kaos lengan panjang warna gelap yang dipadu dengan celana hitam. Di pinggang mereka terlilit kain berwarna merah, seragam dengan warna ikat kepala.

Kedua orang itu segera melantunkan syair pembuka, sementara 10 pengikutnya berdiri membentuk barisan sembari memberi salam penghormatan kepada penonton. Di antara mereka, terdapat seorang anak yang masih menduduki bangku sekolah dasar.

Anak itu bernama M. Rafif Fadhlurrahman Hasibuan, yang ikut menari berdampingan dengan ayahnya. Inilah pasukan penari saman yang berada di bawah koordinasi Divisi Budaya PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Pulau Pinang. Penampilan mereka dalam rangka memeriahkan Indonesian Festival yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Pulau Pinang.

Indonesian Festival merupakan agenda tahunan Konjen RI dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. Festival ini digelar selama dua hari, tepatnya pada 2-3 Juni 2012 di Padang Kota Lama, George Town. Festival dibuka secara resmi oleh Kepala Konjen RI, Chilman Arisman dan turut disaksikan oleh Chief Minister Pulau Pinang, Lim Guan Eng.

Festival kali ini menyajikan tiga paket kegiatan utama, yaitu festival makanan Indonesia, kerajinan tangan, dan festival kebudayaan (The Indonesian Food, Handicraft, and Cultural Festival).

Di antara kegiatan yang sangat menarik perhatian pengunjung adalah penampilan tari saman tersebut di atas. Ketertarikan pengunjung bukan hanya dikarenakan oleh gerakan-gerakan tari yang begitu heroik, energik, dan serentak, tetapi juga oleh performa para penari. Betapa tidak, tari saman kali ini tidak dibawakan oleh para pelajar belasan tahun atau mahasiswa yang sedang beranjak dewasa yang biasanya memiliki postur tubuh ramping. Akan tetapi oleh para mahasiswa S3 yang rata-rata telah berusia di atas 35 tahun dan memiliki postur tubuh yang relatif tak ramping lagi.

Hampir semua penari adalah dosen perguruan tinggi di daerah mereka masing-masing yang sedang menempuh studi doktoral di Universiti Sains Malaysia. Lebih menarik lagi, kendati tari saman berasal dari Aceh, namun tidak semua penari itu berasal dari Aceh.

Setiap malam, para dosen ini berlatih sejak pukul 10.00 sampai pukul 01.00 dinihari. Mereka digembleng oleh seorang mahasiswa S2 asal Lhoksukon, Umar Rafsanjani yang sekaligus bertindak sebagai syekh.

Selama masa-masa latihan, saya menyaksikan berbagai kesulitan yang dialami para penari. Kesulitan yang menimpa seluruh penari adalah rasa sakit dan ngilu pada kaki, tangan, dan badan. Belum lagi kesulitan melafalkan syair, terutama bagi mereka yang bukan berasal dari Aceh.

Sampai H-2, belum terlihat kepaduan gerak dari para penari. Mereka terlihat masih kaku bahkan belum dapat melakukan gerakan demi gerakan secara lancar dan baik. Para pendukung nyaris pesimis. Akan tetapi, mereka terus berlatih dengan penuh kayakinan. Saya sendiri merasakan kesiapan dan kelayakan mereka untuk tampil justru pada malam latihan terakhir.

Akhirnya, kerja keras mereka membuahkan hasil. Penonton berhasil “dihipnotis”, terpaku tak bergerak. Bahkan Kepala Konjen sendiri mendekati pentas untuk mengabadikan tampilan para penari. Sungguh, sebuah hasil manis dari perjuangan berat para dosen yang “beralih profesi” sebagai penari.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri