Syukur dan Bujukan Setan
Senin, 11 Juni 2012 09:23 WIB
Oleh Jarjani Usman
“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (manusia) dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukurâ€â€™ (QS. Al A’raaf: 16-17).
Tak mungkin cukup bila seluruh ibadah yang dilakukan seseorang hamba digunakan sebagai penebus segala rahmat Allah yang dinikmati setiap saat. Apalagi untuk menukarkan ibadah-ibadah itu dengan suatu tempat tinggal di surga. Apalagi bila tidak ikhlas atau asal-asalan dalam melaksanakan ibadah. Lantas dengan apa harus membayar rahmat yang telah, sedang, dan akan kita nikmati setiap saat?
Dalam satu hari saja, kita menikmati nyamannya pandangan mata, telinga, hidung, dan bagian-bagian lain-lain. Dan kenikmatan ini akan terasa sekali penting kehadirannya bagi orang-orang yang pernah atau sedang mengalami ketidakberfungsian semua atau sebahagiannya. Tentunya setiap orang pernah merasakan mata, mulut, atau bagian tubuh yang lain sakit, parah atau tidak. Pengalaman-pengalaman itu sepatutnya membuat setiap insan mengingat sang Pemberi kenikmatan.
Tak pantas kita lakukan kecuali bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah, mematuhi segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Apalagi Allah telah memberi kasih sayangNya sebelum kita meminta, memberi karuniaNya meskipun bagi manusia ingkar, dan senantiasa membuka tanganNya untuk menerima taubat. Sungguh amat memalukan bila tidak bersyukur, tidak beribadah, dan tidak berbuat baik, sedangkan rahmat Allah dinikmati setiap saat. Bila tidak bersyukur, maka siapapun sebenarnya sudah masuk perangkap setan, sebagaimana janjinya kepada Allah yang akan memerangkapkan manusia agar tidak bersyukur dan tidak menuruti jalan Allah.
“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (manusia) dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukurâ€â€™ (QS. Al A’raaf: 16-17).
Tak mungkin cukup bila seluruh ibadah yang dilakukan seseorang hamba digunakan sebagai penebus segala rahmat Allah yang dinikmati setiap saat. Apalagi untuk menukarkan ibadah-ibadah itu dengan suatu tempat tinggal di surga. Apalagi bila tidak ikhlas atau asal-asalan dalam melaksanakan ibadah. Lantas dengan apa harus membayar rahmat yang telah, sedang, dan akan kita nikmati setiap saat?
Dalam satu hari saja, kita menikmati nyamannya pandangan mata, telinga, hidung, dan bagian-bagian lain-lain. Dan kenikmatan ini akan terasa sekali penting kehadirannya bagi orang-orang yang pernah atau sedang mengalami ketidakberfungsian semua atau sebahagiannya. Tentunya setiap orang pernah merasakan mata, mulut, atau bagian tubuh yang lain sakit, parah atau tidak. Pengalaman-pengalaman itu sepatutnya membuat setiap insan mengingat sang Pemberi kenikmatan.
Tak pantas kita lakukan kecuali bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah, mematuhi segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Apalagi Allah telah memberi kasih sayangNya sebelum kita meminta, memberi karuniaNya meskipun bagi manusia ingkar, dan senantiasa membuka tanganNya untuk menerima taubat. Sungguh amat memalukan bila tidak bersyukur, tidak beribadah, dan tidak berbuat baik, sedangkan rahmat Allah dinikmati setiap saat. Bila tidak bersyukur, maka siapapun sebenarnya sudah masuk perangkap setan, sebagaimana janjinya kepada Allah yang akan memerangkapkan manusia agar tidak bersyukur dan tidak menuruti jalan Allah.
Editor : bakri
