
- Warga Pusong Minta Pelayanan Pustu Dimaksimalkan
- Membuang Uang demi Merokok
- Nazilaturrahmah Penderita Thalassemia di Aceh
- Stres dalam Bekerja Picu Penyakit Jantung
- Diet Puasa Dua Hari Mulai Populer
- Perdossi Aceh Gelar Koferensi Stroke
- Sinar Matahri Berlebih Akibatkan 'Selaput Mata'
- Bupati Galus Nilai Dinkes Gagal
- Puskesmas Lawe Sigala Bantu Pustu
- Makin Bodoh? Jangan Salahkan Usia Anda!
SERAMBINEWS.COM - Jika Anda memiliki kebiasaan tidur yang buruk sebaiknya segera temukan solusi untuk mengatasi hal itu. Mengapa? Riset terbaru mengindikasikan, tidur kurang dari enam jam semalam secara signifikan dapat meningkatkan risiko gejala stroke. Mereka yang harus waspada terhadap risiko ini adalah kalangan pekerja usia 40-an hingga usia lanjut dan memiliki berat badan normal.
Dalam kajiannya, peneliti dari University Alabama di Birmingham melibatkan 5.666 partisipan berusia 45 tahun ke atas, yang dipantau perkembangannya selama tiga tahun. Para peserta tidak memiliki riwayat stroke, serangan iskemik transien, gejala stroke atau risiko tinggi terkait sleep apnea pada awal penelitian. Hasil studi menunjukkan, mereka yang punya kebiasaan tidur kurang dari enam jam setiap hari berisiko lebih tinggi mengidap stroke ketimbang peserta yang tidurnya cukup.
Bahkan risiko stroke di antara peserta yang
tidur kurang dari enam jam tercatat lebih tinggi empat kali lipat
dibanding mereka yang tidur antara tujuh dampai delapan jam. Risiko ini
berlaku bagi mereka yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal dan
berisiko rendah memiliki gangguan tidur sleep apnea.
"Kami
berspekulasi bahwa durasi tidur yang pendek adalah pemicu dari
faktor-faktor risiko stroke lainnya. Ketika faktor risiko stroke lainya
hadir, mereka kemungkinan menjadi lebih kuat dibandingkan durasi tidur
semata ," kata pimpinan studi, Megan Ruiter, PhD.
Penelitian
lebih lanjut, lanjut Ruiter, diperlukan untuk mendukung dan memberi
argumen yang kuat bagi dokter dalam meningkatkan kesadaran akan buruknya
kualitas tidur sebagai faktor risiko stroke, terutama di kalangan
mereka yang tak memiliki risiko stroke.
"Tidur dan perilaku yang berhubungan tidur dapat dimodifikasi lewat terapi kognitif atau pemberian obat. Temuan ini mungkin menjadi dasar dalam penggunaan terapi tidur dalam mencegah perkembangan stroke," kata Ruiter yang mempublikasikan risetnya dalam pertemuan tahunan ke- 26 Associated Professional Sleep Societies di Boston.
