Rummenigge: Sarat emosi
Rabu, 13 Juni 2012 10:20 WIB
BELANDA dan Jerman adalah dua musuh bebuyutan di pentas sepakbola. Perseteruan supersengit di antara kedua negara tak lepas dari dendam Belanda yang pernah diinvasi Jerman pada Perang Dunia II.
Pertempuran itu disebut Slag om Nederland oleh orang Belanda ini terjadi pada 10-14 Mei 1940. Ketika itu, pasukan utama Belanda menyerah atas Jerman dengan pasukan Nazi-nya.
Sejarah kelam dari peperangan itu terbawa ke pertemuan kedua negara di lapangan hijau. Duel dua musuh bebuyutan ini selalu berlangsung dalam tensi tinggi, dan tak jarang dibumbui kekisruhan.
Insiden yang paling menyita perhatian adalah cekcok antara Rudi Voeller di kubu Der Panzer dan Frank Rijkaard di pihak De Oranje. Keduanya terlibat insiden peludahan ketika kedua tim bertemu di 16 besar Piala Dunia 1990 di Italia. Kala itu, Ronald Koeman cs harus takluk 1-2.
Rivalitas panas kedua negara tersebut tergambar dari ucapan maestro sepakbola Belanda, Rinus Michels “football is war”. Ya, bagi kedua negara, sepakbola ibarat peperangan. Kemenangan akan disambut sukacita seantero negeri. Sebaliknya kekalahan akan menimbulkan luka. Luka teramat perih. Obatnya hanya satu; mengalahkan kembali lawan yang sama di pertemuan berikutnya.
Legenda sepakbola Jerman Franz Beckenbauer juga punya kiasan mengenai perseteruan kedua negara. “Pertandingan melawan Belanda merupakan momen yang selalu saya nantikan. Baik ketika menjadi pemain maupun ketika pelatih. Saya tidak akan melewatkan satupun detil pertandingan,” kata Beckenbauer.
The Dutch memiliki 18 museum mengoleksi memorabilia pertandingan melawan Der Panzer. Rivalitas keduanya mulai terjadi tahun 1974. Ketika Belanda yang dimotori Johan Cruyff dan Neeskens plus diarsiteki Rinus Michels kalah dari Jerman Barat di babak final Piala Dunia 1974.
Berti Vogts yang sukses mematikan Cruyff pada laga itu masih mengingat momen setelah eluit akhir berbunyi. “Cruyff enggan menjabat tangan saya. Tapi tiga tahun kemudian kami bertemu dan baru menyampaikan selamat tapi masih tak mau mengakui kekalahan. Ia menyatakan kami memiliki pemain terbaik tapi mereka kalah,” kata Vogts.
Keduanya kembali bertemu di Piala Dunia 1978. Legenda Jerman lainnya, Karl-Heinz Rummenigge, mendeskripsikan laga penuh emosi itu. “Tekanan luar biasa. Media mengulas habis-habisan pertandingan. Sayang sekali mereka tampil lebih baik dari kami di turnamen itu,” kata Rummenigge.
Skor akhir 2-2 dan Belanda melaju ke babak final namun takluk 1-3 dari Argentina. Tahun 1988, rivalitas kembali terjadi. Namun malam di Hamburg itu menjadi milik Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten. Ketiganya menginspirasi kemenangan 2-1 atas Jerman di babak semifinal Piala Eropa 1988.
Akhirnya, van Basten dkk memastikan gelar usai menguburkam ambisi Uni Soviet. Lebih 9 juta penduduk Belanda saat itu tumpah di jalan merayakan kemenangan penting tersebut. Itulah gelar yang ditunggu-tunggu publik Belanda.
Ini merupakan kerumunan orang terbanyak dalam sejarah Negeri Kincir Angin sejak perayaan kemerdekaan 30 Januari 1648. “Tahun 1940 Jerman datang. Tahun 1988 giliran kami yang datang dilantungkan di jalan. “Saya melihat emosi. Saya menyaksikan air mata mereka,” kata Gullit mengenai perayaan ini.(tribunnews/sur)
Pertempuran itu disebut Slag om Nederland oleh orang Belanda ini terjadi pada 10-14 Mei 1940. Ketika itu, pasukan utama Belanda menyerah atas Jerman dengan pasukan Nazi-nya.
Sejarah kelam dari peperangan itu terbawa ke pertemuan kedua negara di lapangan hijau. Duel dua musuh bebuyutan ini selalu berlangsung dalam tensi tinggi, dan tak jarang dibumbui kekisruhan.
Insiden yang paling menyita perhatian adalah cekcok antara Rudi Voeller di kubu Der Panzer dan Frank Rijkaard di pihak De Oranje. Keduanya terlibat insiden peludahan ketika kedua tim bertemu di 16 besar Piala Dunia 1990 di Italia. Kala itu, Ronald Koeman cs harus takluk 1-2.
Rivalitas panas kedua negara tersebut tergambar dari ucapan maestro sepakbola Belanda, Rinus Michels “football is war”. Ya, bagi kedua negara, sepakbola ibarat peperangan. Kemenangan akan disambut sukacita seantero negeri. Sebaliknya kekalahan akan menimbulkan luka. Luka teramat perih. Obatnya hanya satu; mengalahkan kembali lawan yang sama di pertemuan berikutnya.
Legenda sepakbola Jerman Franz Beckenbauer juga punya kiasan mengenai perseteruan kedua negara. “Pertandingan melawan Belanda merupakan momen yang selalu saya nantikan. Baik ketika menjadi pemain maupun ketika pelatih. Saya tidak akan melewatkan satupun detil pertandingan,” kata Beckenbauer.
The Dutch memiliki 18 museum mengoleksi memorabilia pertandingan melawan Der Panzer. Rivalitas keduanya mulai terjadi tahun 1974. Ketika Belanda yang dimotori Johan Cruyff dan Neeskens plus diarsiteki Rinus Michels kalah dari Jerman Barat di babak final Piala Dunia 1974.
Berti Vogts yang sukses mematikan Cruyff pada laga itu masih mengingat momen setelah eluit akhir berbunyi. “Cruyff enggan menjabat tangan saya. Tapi tiga tahun kemudian kami bertemu dan baru menyampaikan selamat tapi masih tak mau mengakui kekalahan. Ia menyatakan kami memiliki pemain terbaik tapi mereka kalah,” kata Vogts.
Keduanya kembali bertemu di Piala Dunia 1978. Legenda Jerman lainnya, Karl-Heinz Rummenigge, mendeskripsikan laga penuh emosi itu. “Tekanan luar biasa. Media mengulas habis-habisan pertandingan. Sayang sekali mereka tampil lebih baik dari kami di turnamen itu,” kata Rummenigge.
Skor akhir 2-2 dan Belanda melaju ke babak final namun takluk 1-3 dari Argentina. Tahun 1988, rivalitas kembali terjadi. Namun malam di Hamburg itu menjadi milik Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten. Ketiganya menginspirasi kemenangan 2-1 atas Jerman di babak semifinal Piala Eropa 1988.
Akhirnya, van Basten dkk memastikan gelar usai menguburkam ambisi Uni Soviet. Lebih 9 juta penduduk Belanda saat itu tumpah di jalan merayakan kemenangan penting tersebut. Itulah gelar yang ditunggu-tunggu publik Belanda.
Ini merupakan kerumunan orang terbanyak dalam sejarah Negeri Kincir Angin sejak perayaan kemerdekaan 30 Januari 1648. “Tahun 1940 Jerman datang. Tahun 1988 giliran kami yang datang dilantungkan di jalan. “Saya melihat emosi. Saya menyaksikan air mata mereka,” kata Gullit mengenai perayaan ini.(tribunnews/sur)
Editor : bakri
