Opini

‘Romanstisme’ Manusia-Hewan

Bahkan kita sendiri menjadi predator menakutkan bagi sebagian hewan untuk dijadikan lahapan


Oleh Zamzami Zainuddin

HEWAN atau binatang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di bumi ini. Karena memang sehari-hari kita sudah berbaur dengan mereka baik sengaja atau pun tidak sengaja. Seperti berbaurnya kita di jalan raya dengan sapi yang dilepaskan pemiliknya begitu saja atau pun dengan nyamuk-nyamuk saat tertidur di malam hari. Bahkan kita sendiri menjadi predator menakutkan bagi sebagian hewan untuk dijadikan lahapan.

Binatang juga menjadi simbol Negara-negara di dunia, seperti Indonesia dengan burung Garuda, Australia dengan Kanguru dan burung Emu, Malaysia dengan Harimau, Amerika Serikat dengan burung Elang, Singapura dengan Singa dan Harimau, dan Kamboja dengan Singa yang bergading Gajah.

Hewan dianggap rendah oleh manusia dikarenakan mereka yang memiliki otak namun tidak mampu berpikir, tidak punya rasa malu dan hanya punya hawa nafsu. Maka tidak jarang jika manusia akan merasa sangat marah, terhina dan tersinggung jika disamakan seperti binatang. Namun ada juga manusia yang merasa bangga dengan menyimbolkan dirinya sebagai hewan kuat seperti rimueng (harimau), cagee (beruang), naga, kobra, dan beberapa hewan lainnya.

Selain dianggap rendah dan menjadi simbol bagi kekuatan manusia, hewan juga telah banyak memberikan pelajaran bagi manusia. Manusia bisa belajar bergotong royong dari semut, belajar mengantre dari bebek, belajar berenang dari ikan, dan belajar membuat pesawat tebang dari burung. Bahkan dari anjing pun manusia bisa belajar akan nilai kesetiaan, seperti kisah kesetian anjing (khitmir) kepada majikannya Ashabul Kahfi selama 309 tahun yang telah terukir abadi dalam Alquran.   

Pada hakekatnya, manusia memiliki “romantisme” yang sangat erat dengan hewan, dalam sejarah. Selain kisah Ashabul Kahfi dengan anjingnya khitmir. Juga kisah hubungan Rasulullah dengan untanya bernama Al Qashwa’, unta setia yang menemani Rasulullah berhijrah ke Madinah. Bahkan ada seorang sahabat yang bernama Abdurrahman bin Shahr yang sangat cinta pada kucing dan hobi membawa kucing kemana-mana, sehingga Rasulullah memanggilnya dengan sebutan Abu Hurairah (ayah kucing).

 Keserakahan manusia

Di Aceh, gajah adalah hewan yang sangat setia menemani pasukan Sultan Iskandar Muda saat berperang melawan penjajah, hewan yang sangat terkenal di Aceh sejak abad ke-16 ini memperoleh gelar kehormatan Teuku Rayeuk atau Poe Meurah. Namun, sangat disayangkan, kehidupan Teuku Rayeuk sekarang ini di Aceh berada di ambang kepunahan. Terjadinya konflik antara manusia dengan gajah telah mengurangi jumlah populasi mereka. Kepunahan binatang yang sangat dilindungi ini terjadi akibat keserakahan manusia. Sebagai salah satu contoh yang baru-baru ini terjadi di Aceh Jaya, yaitu pembantaian terhadap gajah dengan cara meracuni serta pencurian gadingnya. Inilah bukti keserakahan manusia yang berjiwa penjajah.

Dalam tiga bulan terakhir, terjadi kasus kematian 12 gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Aceh dan Riau. Di Aceh, tercatat lima gajah mati antara Maret dan Juni 2012. Dua gajah ditemukan mati di Aceh Jaya pada bulan Maret dan Mei, disusul dengan tiga gajah yang mati di kawasan perkebunan masyarakat di Aceh Timur pada 2 Juni. (Sumber: nationalgeographic.co.id, 12 Juni 2012). Ini hanyalah sedikit bukti kecil keserakahan manusia terhadap hewan yang terekspos media. Belum lagi dengan segudang pembantaian hewan lain seperti harimau dan orangutan.

Penjajahan dan perang untuk melakukan ekspansi bukan hanya terjadi antara manusia dengan manusia, tetapi juga antara manusia dan hewan. Sikap untuk mensejahterakan manusia kadang dilakukan dengan mengorbankan binatang ciptaan Tuhan, sehingga mereka terusir dari rumahnya sendiri akibat keserakahan manusia. Keserakahan ini seringkali bukan dilakukan oleh petani kecil, namun oleh mafia besar yang tentunya memiliki proyek menggiurkan. Sikap saling balas dendam pun terjadi, tak heran jika banyak korban jatuh bergantian dari pihak manusia dan hewan. Bahkan petani kecil pun ikut menjadi korban kemarahan binatang-binatang tersebut.

Saat binatang berusaha menyerang manusia, itulah bentuk sebuah pesan yang ingin mereka sampaikan kepada manusia. Pesan kesedihan yang tidak mungkin diungkapkan dengan air mata. Karena memang seperti itulah komunikasi para binatang dengan manusia untuk mengungkapkan perasaan mereka yang sering terzalimi oleh tingkah laku manusia. Protes mereka tidak dengan berteriak dan demo, apalagi menulis opini mengkritik manusia di media masa. Jika semua ini mampu mereka lakukan, pastinya setiap hari rubrik Droe keu Droe di Harian Serambi Indonesia akan penuh dengan keluhan dan kritikan para binatang terhadap keangkuhan manusia yang menjajah dan merampas hak mereka.  

Hewan pada dasarnya tidak pernah datang ke pusat aktivitas manusia untuk mengajak “berperang”. Namun saat wilayah mereka direbut, dan dijadikan lahan pertanian demi kepentingan manusia tanpa menghargai mereka selaku tuan rumah. Mereka pasti merasa terusir dari rumahnya sendiri, sehingga terjadilah konflik dengan manusia. Inilah bentuk ketidakharmonisan hidup manusia dengan hewan yang berakhir pada konflik dan pembantaian.

 Hubungan harmonis
Jika kita berkunjung ke beberapa Negara-negara di Eropa, jangan heran jika kita melihat ribuan burung merpati datang mengerumuni manusia di tengah kota, bahkan hinggap di tangan manusia. Tetapi tidak ada satu manusia pun yang merasa terganggu dan menangkapnya, bahkan merpati-merpati tersebut diberikan makanan. Begitu juga dengan hewan liar lainnya, seperti kelinci dan lain sebagainya. Hubungan yang sangat harmonis antara manusia dengan hewan, keduanya merasa nyaman dan saling menghargai, tidak saling menjajah dan merampas hak.

Dalam hal perawatan hewan, akan kita jumpai klinik hewan hampir sama jumlahnya dengan klinik manusia, bahkan perawatan dan pengobatan mereka seringkali jauh lebih mahal dari perawatan dan pengobatan manusia. Hewan juga tidak pernah diberikan makanan sisa, bahkan diberikan makanan yang kadang harganya jauh lebih mahal dari harga makanan manusia, sampai seperti inilah mereka menghargai hewan.

Sikap menghargai yang diajarkan Islam, bukan hanya sekedar menghargai antara sesama manusia saja, tetapi juga sikap menghargai manusia terhadap ciptaan Tuhan lainnya seperti alam dan binatang. Dengan tidak merusak alam cipataan-Nya seenaknya dan tidak membunuh binatang-binatang yang tidak menggangu manusia, berarti kita telah merawat dan menghargai ciptaan Tuhan.

Sebagai catatan bagi kita bahwa peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat sangat penting untuk dilaksanakan, tetapi hak asasi binatang (HAB) dan kelestarian alam juga sangat perlu diperhatikan. Kita bisa mensejahterkan diri tanpa mengorbankan makhluk lainnya yang juga berhak untuk hidup selaku makhluk ciptaanNya. Karena kita semua hanyalah makhluk-makhluk yang numpang tinggal di bumi Allah.

* Zamzami Zainuddin
, Mahasiswa SPU IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: zami.aceh.pase@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved