Selasa, 9 Juni 2026

SMPN 5 Lhokseumawe

Raih Prestasi dengan Kelas Unggul

JUMLAH pelamar tiap tahun ajaran baru di SMPN 5 Lhokseumawe mencapai 1.000 orang lebih

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Raih Prestasi dengan Kelas Unggul
SERAMBI/JAFARUDDIN
SUASANA di SMP N 5 Lhokseumawe menjelang pembagian rapor.
JUMLAH pelamar tiap tahun ajaran baru di SMPN 5 Lhokseumawe mencapai 1.000 orang lebih. Namun, karena keterbatasan ruangan belajar, sehingga sekolah hanya bisa menampung sekitar 320 orang. Jumlah ruangan belajar di sekolah itu hanya 18 unit, sedangkan rombongan belajar (rombel) mencapai 24 rombongan. Sehingga proses belajar mengajar berlangsung dari pagi sampai sore.

Sekarang, pelajar di sekolah itu mencapai 980 orang dan guru 56 orang yang sudah berijazah strata satu (S1). Saat didirikan tahun 1960-an, sekolah itu dikenal dengan Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama (SKKP). Kemudian, tahun 1996 sekolah itu berubah namanya menjadi SMPN 5 Lhokseumawe. “Proses belajar pada sore hari kurang efektif karena jam belajar tak cukup. Karena itu dalam tahun ini kita terpaksa mengurangi jumlah untuk meningkatkan mutu lulusan,” kata Kepala SMPN 5 Lhokseumawe, A Rahim SPd.

Selain itu, pihak sekolah juga membuka kelas unggul untuk kelas satu, dua dan tiga. Kelas itu disediakan bagi pelajar yang punya  pretasi. Selain diajarkan oleh guru yang telah diseleksi, pelajar di kelas unggul juga mengikuti proses belajar mengajar menggunakan infokus.

“Kita juga menambah jam belajar bagi kelas ini, sehingga proses belajar mengajar berlangsung sampai sore hari. Guru juga mengadakan bimbingan khusus kepada mereka, sehingga ketika ada olimpiade mereka sudah siap untuk mengikutinya. Bagi pelajar yang berminat akan kita tes,” katanya.

Upaya lain yang dilakukan mengirim guru mengikuti pelatihan dan sejumlah kegiatan di luar sekolah, kemudian mengadakan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). “Kita juga memperbanyak perlobaan, bagi pelajar berpretasi kita berikan hadiah, supaya pelajar yang lain termotivasi,” katanya.

Disebutkan, pengajuan sekolah itu menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN) terkendala karena tak mencukupi luas tanah untuk pembangunan ruang sekolah dan fasilitas pendukung lainnya. Padahal dari segi lain sudah mencukupi syarat. * jafaruddin

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved