Gambut Meulaboh Terbakar
Kemarau pascabadai yang mendera beberapa wilayah Aceh sejak tiga hari terakhir telah memantik peristiwa kebakaran, di antaranya
Di Aceh Barat, sekitar 20 hektare (ha) lahan gambut di sejumlah lokasi dalam wilayah Kecamatan Johan Pahlawan (Meulaboh) terbakar dalam beberapa hari terakhir. Eskalasi kebakarannya justru memuncak pada Sabtu lalu. Sejumlah rumah yang berdekatan dengan titik api nyaris jadi korban.
Pada Sabtu (16/6) siang, sekitar pukul 13.00 WIB, di tengah cuaca panas menyengat, sedikitnya 10 ha lahan gambut di Jalan Generasi, Desa Seuneubok, Meulaboh terbakar. Tiga unit armada pemadam kebakaran (damkar) Badan Penanggulangan Bencana (BPB) Aceh Barat bersama puluhan personel berhasil memadamkan kobaran api sekitar satu jam kemudian.
Masih di Meulaboh, pada Sabtu (16/6) malam terjadi lagi kebakaran lahan gambut Desa Suak Nie. Di lokasi ini, petugas damkar hanya bisa memadamkan api yang berada di sekitar lokasi yang mampu dijangkau selang. “Data sementara lahan gambut yang terbakar sekitar 20 hektare, namun kami masih melakukan pengecekan ke sejumlah lokasi lainnya,” kata Kepala BPBD Aceh Barat, HT Ahmad Dadek SH kepada Serambi kemarin.
Menurut Dadek, dampak kebakaran lahan gambut di Meulaboh menyebabkan pernapasan dan jarak pandang pengguna jalan terganggu, karena kabut asap. Ia mengimbau masyarakat mengenakan masker saat di jalan raya.
Dari Aceh Tengah dilaporkan, sejak memasuki musim kemarau pada medio Juni ini, sejumlah titik api mulai terlihat membakar kawasan hutan di seputaran Danau Laut Tawar. Belasan hektare semak belukar di areal hutan damar kota dingin itu, ludes dilahap si jago merah selama berberapa hari terakhir. “Dua hari lalu, ada empat titik api yang kami padamkan di seputar danau,” kata Kepala UPTD Wilayah I Mendale, Harun.
Menurutnya, selama memasuki musim kemarau beberapa kawasan hutan di Aceh Tengah memang rawan kebakaran, misalnya di daerah Kampung Kenawat, Kecamatan Lut Tawar dan beberapa titik lainnya di kawasan hutan Kecamatan Bintang. “Jika di Takengon, pemantauan kami fokuskan di seputaran danau karena daerah ini merupakan kawasan yang sangat rawan kebakaran. Hampir setiap tahun ada saja hutan yang terbakar di daerah ini,” kata Harun.
Harun merincikan, sejak beberapa hari lalu sekitar 10 ha hutan di Kampung Kenawat terbakar. Berikutnya, 4 ha di Kampung Rawe dan Kampung Mengaya. Sedangkan di Kampung Kala Segi, Kecamatan Bintang, 5 ha hutan terbakar.
Untuk memantau terjadinya kebakaran hutan, UPTD Wilayah I Mendale menerjunkan 12 personel pamhut dan 12 petugas upas api. Mereka bertugas setiap hari. Petugas pamhut tidak dilengkapi peralatan memadai. Sebagian besar mereka malah menggunakan ranting kayu sebagai “senjata” memadamkan api.
Kebakaran hutan dalam skala kecil terjadi pula di Aceh Besar pada Sabtu (16/6) siang hingga sore. Masing-masing di perbukitan Mata Ie arah ke Keude Bieng, Kecamatan Lhoknga, dan di Gle Gurah, Kecamatan Peukan Bada. Puluhan pohon hangus dan beberapa hektare padang stepa terbakar. Namun, api padam dengan sendirinya pada malam hari. (edi/c35/aan)