Salawat Badar Masuk Protokoler
Kepastian masuknya salawat tersebut dalam tata tertib protokoler acara resmi
Kepastian masuknya salawat tersebut dalam tata tertib protokoler acara resmi prosesi pelantikan istimewa itu, diputuskan pada saat berlangsung geladi bersih di Gedung Sidang Utama DPRA, Minggu (24/6) sore.
Kegiatan geladi (berlatih) itu dihadiri langsung oleh dr Zaini Abdullah, Muzakir Manaf, Hasbi Abdullah (Ketua DPRA), Sulaiman Abda (Wakil Ketua DPRA), Kakanwil Kemenang Drs H Ibnu Sa’dan, Ketua Mahkamah Syar’iyah Aceh Dr H Idris Mahmudy SH MH, dan sejumlah anggota DPRA.
Awalnya ketika dilakukan geladi kotor untuk prosesi pelantikan yang dipandu langsung Kabag Protekoler Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Teguh, Salawat Badar tidak masuk dalam agenda acara protokoler resmi.
Namun, saat memasuki proses geladi bersih, Ir Jufri Hasanuddin, anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh yang hadir dalam kegiatan itu menyampaikan pendapat kepada pemandu acara. “Saat geladi kotor tadi saya lihat Salawat Badar tidak masuk dalam agenda protokol acara pelantikan. Aceh ini daerah syariat. Oleh karenanya, saya minta Salawat Badar dimasukkan dalam mata acara protokol pelantikan. Tentunya Salawat Badar dikumandangkan setelah pembacaan ayat-ayat suci Alquran,” usul Ketua Komisi D DPRA ini.
Usulan tersebut langsung direspons oleh Teguh sebagai pemandu acara dari Kemendagri. “Usulan itu kita terima,” ujar Teguh yang langsung mendapat aplaus dari hadirin.
Pemangku wali nanggroe
Dalam geladi kemarin, beberapa anggota DPRA, seperti Muslim Usman, Jufri Hasanuddin, dan Adli Tjalok mengajukan protes kepada pihak protokoler dan pemandu acara, karena saat melihat posisi para pejabat yang duduk di meja utama dinilai ada yang janggal.
Yakni, posisi tempat duduk Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud berada paling ujung sebelah kiri setelah tempat duduk Wakil Ketua DPRA. “Ini tidak layak. Karena bagi kami Pemangku Wali Nanggroe merupakan orang yang sangat dihormati di Aceh. Tempat duduknya saya kira selayaknya berada di tengah, antara Ketua DPRA dan Mendagri,” usul Muslim Usman.
Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda, Sekwan DPRA Burhanuddin, dan Kabag Protekoler Kemendagri Teguh langsung merespons positif usul tersebut. Kemudian, papan nama Malik Mahmud dipindahkan ke kursi bagian tengah, di antara Mendagri Gamawan Fauzi dan Ketua DPRA Hasbi Abdullah.
Proses geladi bersih kemarin berlangsung lancar. Baik dr Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf tidak mengalami kendala apa pun saat melakoni satu per satu mata acara pelantikan tersebut. Keduanya meninggalkan Gedung DPRA usai mengikuti geladi sekitar pukul 17.35 WIB kemarin. (sup)
Undangan Hadir 30
Menit Sebelum Acara
Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda meminta para undangan supaya hadir 30 menit sebelum acara pelantikan dimulai, yaitu sekitar pukul 13.30 WIB. Permintaan kehadiran lebih awal para undangan untuk memudahkan panitia melakukan pengaturan sekaligus membuat acara pelantikan akan berjalan lancar. “Kita berharap prosesi pelantikan ini sedikit pun tidak boleh ada gangguan,” ujarnya kemarin.
Bagi undangan yang berada di luar Gedung Utama DPRA juga harus tertib dan dapat menyaksikan langsung prosesi pelantikan melalui tv monitor yang sudah disediakan sebanyak 16 unit ukuran 42 inci. (sup)