Jumat, 28 Agustus 2015
Home » Opini

Doa Malaikat Pemikul ‘Arasy

Jumat, 29 Juni 2012 11:07

Oleh Munawar A. Djalil

KITA sering mendengar bahwa Israk Mikraj adalah peristiwa yang sangat bersejarah bagi umat Islam, di mana Rasullullah saw atas perintah Allah swt melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) dan ke Sidratul Muntaha. Yang menarik adalah dikaitannya kewajiban shalat lima waktu dengan hasil tawar menawar 50 waktu dalam perjalanan mikraj tersebut. Padahal ketetapan shalat termasuk salah satu perintah Allah kepada Rasul yang paling awal. Sejak hari pertama kerasulan, Nabi melakunan shlat bersama Khadijah, Ali dan kemudian dengan pengikut lain.

Ada secuil episode dalam peristiwa Israk Mikraj yang sering terlewatkan oleh kita yakni doa malaikat pemikul ‘Arasy. Menurut Alquran, setiap hari Malaikat pemikul Arasy dan Malaikat sekitarnya gemuruh membacakan zikir dan doa. Mereka berzikir memuja kebesaran Allah dan juga berdoa untuk kaum beriman. Doa dan zikir inilah yang didengar Rasullullah sebelum melihat Jibril di Sidratul Muntaha.

Doa tersebut sebagaimana dinukilkan dalam Alquran adalah: “Mereka yang memikul arasy dan mereka yang berada di sekitarNya bertasbih dengan memuji Tuhan, mereka beriman kepadaNya serta memohon ampunan bagi orang yang beriman. Wahai Tuhan kami kasih dan ilmu mu meliputi segala sesuatu, ampuni mereka yang kembali dan mengikuti jalanMu jauhkanlah mereka dari azab neraka yang menyala. Tuhan kami masukkan mereka ke dalam Sorga Adnin yang telah Engkau janjikan kepada mereka bersama orang-orang shalih antara orang tua mereka, istri-istri dan keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ghafr/Mukmin: 7-8).

Doa malaikat ini menunjukkan dua hal: Pertama, di bumi ini ada orang yang selalu didoakan para malaikat. Kedua, mereka didoakan malaikat untuk dimasukkan ke dalam sorga beserta seluruh keluarga, orang tua, isteri, dan anak cucunya. Siapa gerangan orang yang beruntung ini --Allah menyebutkan tanda-tanda mereka dengan jelas.

 Kembali ke jalanNya
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, dalam kesucian. Tetapi dia juga makhluk yang lemah, yang dalam perjalanan hidupnya kerap terpedaya oleh hawa nafsunya dan meninggalkan fitrahnya. Lewat hati nurani, fitrah sering membisikan kejujuran, kesucian, ketaatan dan kesalehan. Fitrah inilah yang sering menegur kita: Apakah kita akan memilih dunia dengan segala pesonanya, walaupun kita harus melanggar hukum, menodai janji dan mengkhianati amanah atau memilih keteguhan pendirian dan disiplin, walaupun kita harus hidup sederhana dan prihatin. Fitrah inilah yang menyebabkan hati kita mudah tersentuh penderitaan orang lain, mudah bergetar karena firman Tuhan atau khusyuk ketika melakukan shalat. Namun karena kelemahan kita fitrah ini sering kita lupakan, dan bisikannya sering kita abaikan. Lalu hiduplah kita jauh dari fitrah ini. Kita melantur tanpa arah dan tujuan.

Berbahagialah orang yang ditengah perjalanan menyadari kekeliruannya dan kembali lagi kepada fitrahnya. Ia tutup lembaran masa lalunya yang hitam dan merintis kehidupan baru di atas ajaran Tuhan. Orang-orang seperti itulah yang didoakan malaikat. Mereka bukan orang yang tak pernah bersalah, tetapi orang yang selalu menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Mereka pernah berbuat maksiat dan menyesali maksiatnya serta menebusnya dengan ibadah. Mereka pernah tersesat tetapi kemudian melihat cahaya hidayat dan mengubah jalan hidupnya sesuai dengan syariat.

Halaman12
Editor: hasyim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas