A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Doa Malaikat Pemikul ‘Arasy - Serambi Indonesia
Selasa, 25 November 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Doa Malaikat Pemikul ‘Arasy

Jumat, 29 Juni 2012 11:07 WIB


(Secuil Episode Israk Mikraj)


Oleh Munawar A. Djalil

KITA sering mendengar bahwa Israk Mikraj adalah peristiwa yang sangat bersejarah bagi umat Islam, di mana Rasullullah saw atas perintah Allah swt melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) dan ke Sidratul Muntaha. Yang menarik adalah dikaitannya kewajiban shalat lima waktu dengan hasil tawar menawar 50 waktu dalam perjalanan mikraj tersebut. Padahal ketetapan shalat termasuk salah satu perintah Allah kepada Rasul yang paling awal. Sejak hari pertama kerasulan, Nabi melakunan shlat bersama Khadijah, Ali dan kemudian dengan pengikut lain.

Ada secuil episode dalam peristiwa Israk Mikraj yang sering terlewatkan oleh kita yakni doa malaikat pemikul ‘Arasy. Menurut Alquran, setiap hari Malaikat pemikul Arasy dan Malaikat sekitarnya gemuruh membacakan zikir dan doa. Mereka berzikir memuja kebesaran Allah dan juga berdoa untuk kaum beriman. Doa dan zikir inilah yang didengar Rasullullah sebelum melihat Jibril di Sidratul Muntaha.

Doa tersebut sebagaimana dinukilkan dalam Alquran adalah: “Mereka yang memikul arasy dan mereka yang berada di sekitarNya bertasbih dengan memuji Tuhan, mereka beriman kepadaNya serta memohon ampunan bagi orang yang beriman. Wahai Tuhan kami kasih dan ilmu mu meliputi segala sesuatu, ampuni mereka yang kembali dan mengikuti jalanMu jauhkanlah mereka dari azab neraka yang menyala. Tuhan kami masukkan mereka ke dalam Sorga Adnin yang telah Engkau janjikan kepada mereka bersama orang-orang shalih antara orang tua mereka, istri-istri dan keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ghafr/Mukmin: 7-8).

Doa malaikat ini menunjukkan dua hal: Pertama, di bumi ini ada orang yang selalu didoakan para malaikat. Kedua, mereka didoakan malaikat untuk dimasukkan ke dalam sorga beserta seluruh keluarga, orang tua, isteri, dan anak cucunya. Siapa gerangan orang yang beruntung ini --Allah menyebutkan tanda-tanda mereka dengan jelas.

 Kembali ke jalanNya
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, dalam kesucian. Tetapi dia juga makhluk yang lemah, yang dalam perjalanan hidupnya kerap terpedaya oleh hawa nafsunya dan meninggalkan fitrahnya. Lewat hati nurani, fitrah sering membisikan kejujuran, kesucian, ketaatan dan kesalehan. Fitrah inilah yang sering menegur kita: Apakah kita akan memilih dunia dengan segala pesonanya, walaupun kita harus melanggar hukum, menodai janji dan mengkhianati amanah atau memilih keteguhan pendirian dan disiplin, walaupun kita harus hidup sederhana dan prihatin. Fitrah inilah yang menyebabkan hati kita mudah tersentuh penderitaan orang lain, mudah bergetar karena firman Tuhan atau khusyuk ketika melakukan shalat. Namun karena kelemahan kita fitrah ini sering kita lupakan, dan bisikannya sering kita abaikan. Lalu hiduplah kita jauh dari fitrah ini. Kita melantur tanpa arah dan tujuan.

Berbahagialah orang yang ditengah perjalanan menyadari kekeliruannya dan kembali lagi kepada fitrahnya. Ia tutup lembaran masa lalunya yang hitam dan merintis kehidupan baru di atas ajaran Tuhan. Orang-orang seperti itulah yang didoakan malaikat. Mereka bukan orang yang tak pernah bersalah, tetapi orang yang selalu menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Mereka pernah berbuat maksiat dan menyesali maksiatnya serta menebusnya dengan ibadah. Mereka pernah tersesat tetapi kemudian melihat cahaya hidayat dan mengubah jalan hidupnya sesuai dengan syariat.

Alquran menceritakan orang-orang yang di hari akhirat dihimpunkan Allah beserta istri-istri mereka dan keturunan mereka. Allah berfirman kepada mereka yang akan masuk sorga: “Masuklah ke sorga beserta pasangan kamu untuk digembirakan.” (QS. Al-Zukhruf: 70). Dalam ayat yang lain: “Sorga Adnin mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang shalih diantara orang tua mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 23)

Mungkin ada orang yang bertanya: bukankah pada hari akhirat orang berpisah dari saudaranya, ibu dan ayahnya, istri dan anak-anaknya? Bukankah setiap orang akan diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakan? Mana mungkin Allah menghimpunkan orang dengan seluruh keluarganya di sorga, padahal tingkat amalannya berlainan?  

Benar adanya pada hari akhirat isteri berpisah dengan suaminya, anak dari orang tuanya, pemimpin dengan anak buahnya, kawan dari sahabatnya. Tetapi ini hanya berlaku bagi orang kafir, orang durhaka, atau orang yang tidak mengisi hidupanya dengan iman dan amal shalih. Firman Allah: “Pada hari itu sahabat-sahabat menjadi musuh sama lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Zukhruf: 67).

 Hanya orang taqwa
Karena itu bila orang lain menyatakan: “Hanya maut yang memisahkan kita,” suami isteri yang bertaqwa akan berkata: “Bahkan maut pun tidak akan sanggup memisahkan kita.” Sesuai dengan firman Allah: “Masuklah kamu ke dalam sorga beserta istri-istri kamu.” (QS 43:70). Bila orang berduka karena ditinggal wafat oleh orang yang dicintainya, seorang muslim masih menyimpan harapan, karena kelak di hari akhirat Allah akan menghimpun mereka kembali. Syarat untuk itu hanya satu yaitu taqwa.

Taqwa mesti diwujudkan dalam iman dan amal shalih. Keluarga, kumpulan , golongan yang diikat oleh iman dan amal shalih tidak akan terpisah sampai hari akhirat sekalipun. Amal shalih menurut arti katanya ialah karya yang baik, karya yang mendatangkan manfaat. Allah berfirman bahwa: “Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik karyanya.” (QS. 67:2).

Ada amal shalih yang memberi manfaat secara individual seperti shalat malam, berzikir dan hal-hal lain yang berkaitan dengan ibadah. Ada amal shalih yang selain bermanfaat bagi pelakunya juga bermanfaat bagi orang lain, seperti membebaskan orang-orang dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Kita menyebut amal sosial ini dengan istilah “membangun”. Menurut Islam, amal sosial ini dinilai lebih tinggi dari amal-amal individual. Ketika Rasullullah SAW ditanya: “Amal apa yang paling utama?” Nabi menjawab: “Seutama-utama amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman yaitu melepaskannya dari rasa lapar, membebaskannya dari kesulitan, dan membayarkan utang-utangnya.” (HR Ibnu Hajar Al-Asqalani).

Sekali lagi, karakteristik orang-orang yang didoakan malaikat pemikul ‘Arasy dan dihimpunkan bersama keluarganya adalah taqwa. Taqwa diwujudkan dan bentuk iman dan amal shalih. Rasullullah mendengar gemuruh doa para malaikat yang memikul arasy, sementara kita tidak mendengarnya. Namun melalui Alquran kita mengetahui bahwa hingga saat ini pun mereka bertasbih dan berdoa untuk orang-orang yang bertaqwa; untuk orang yang menyakini Allah, RasulNya, KitabNya serta mengisi hidupnya dengan amal yang bermanfaat dan berserah diri kepada Allah, serta berbuat kebaikan pada sesama manusia. Allahu `alam.

* Tgk. Munawar A. Djalil
, Pegiat Dakwah dan Pemerhati Masalah Keagamaan. Tinggal di Tijue-Sigli.
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas