Senin, 22 Desember 2014
Serambi Indonesia

Popda 2012 Tercoreng!

Jumat, 29 Juni 2012 11:00 WIB

Kesal, kecewa, dan memalukan! Itulah perasaan yang berkecamuk di benak kita manakala menyaksikan peristiwa kerusuhan berupa bentrokan fisik antarkontingen Aceh Tengah dengan Aceh Selatan yang terjadi di arena Pekan Olahraga Pelajar (Popda), Rabu (27/6) dini hari.

Ribuan pelajar dan mahasiswa dari kedua daerah tersebut terlibat aksi saling serang di Taman Ratu Safiatuddin. Beruntung tak ada korban jiwa, namun 46 unit sepeda motor hangus. Walhasil, Popda 2012 pun menjadi tercoreng!

Kita katakan kesal, karena peristiwa itu sama sekali tidak kita inginkan, namun ia telah terjadi. Ibarat kata pepatah: nasi benar-benar telah jadi bubur, dan tidak mungkin kembali lagi menjadi nasi.  

Kecewa, karena peristiwa itu menyebabkan kedua kontingen daerah tersebut terpaksa dipulangkan oleh panitia ke daerahnya masing-masing. Akibatnya, kedua kontingen daerah itu tak bisa memperoleh medali secara maksimal meskipun mereka telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelumnya.      

Memalukan, karena peristiwa itu telah merusak nilai-nilai persahabatan dan sportivitas yang menjadi poin utama dalam cabang olah raga. Sedianya event itu diadakan guna menjalin tali silaturahmi antarpelajar dan sekaligus pula untuk mengembangkan bakat yang dimiliki para pelajar.

Namun, seperti yang diungkapkan tadi semua itu menjadi sia-sia. Popda Aceh tahun 2012 tercoreng oleh ulah para kontingen plus pendukungnya.

Rusuh massal itu diduga terkait dengan terlukanya seorang pemain sepakbola asal Aceh Selatan bernama Heri akibat berkelahi dengan pesepakbola asal Aceh Tengah di kompleks  Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Senin (25/6) sore.

Perkelahian itu sendiri disebut-sebut dipicu saling ejek, sebab pada pagi harinya, ketika kedua tim bertemu pada duel penyisihan di Lapangan Jasdam, Neusu, tim Aceh Selatan memukul Aceh Tengah 4-1.

Perkelahian pada Senin sore itu sebenarnya sudah selesai ketika masing-masing pimpinan kontingen mengamankan kedua pihak ke pondokan masing-masing.

Ternyata berita terlukanya Heri menyebar di kalangan mahasiswa dan pemuda Aceh Selatan sehingga dengan semangat solidaritas mereka menyusun kekuatan untuk membuat perhitungan.

Lalu, pada Senin (25/6) malam, serombongan besar pelajar dan mahasiswa Aceh Selatan sempat berusaha menyerbu pondokan atlet Aceh Tengah di Mes SMP 19 Percontohan, tak jauh dari Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya.

Rupanya aksi itu berlanjut di Taman Ratu Sri Safiatuddin keesokan harinya dengan jumlah massa yang lebih besar.

Untuk itu, kita mengharapkan agar peristiwa ini benar-benar dijadikan pelajaran bagi semua pihak, terutama para guru saat merekrut pemain yang dibawa ke Popda. Mental mereka benar-benar harus ditempa sedemikian rupa sehingga tidak mudah terpancing.

Perlu diingat, membangun nilai-nilai persahabatan jauh lebih penting daripada hanya sekadar memperoleh medali dengan cara-cara yang tidak sportif dan anarkis.
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas