Massa Hadang Baret Merah
Masyarakat Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat Daya (Abdya) menghadang dan sempat bentrok dengan sekelompok orang berbaret merah
* Sempat Bentrok di Nagan Raya dan Abdya
BANDA ACEH - Masyarakat Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat Daya (Abdya) menghadang dan sempat bentrok dengan sekelompok orang berbaret merah yang disebut-sebut Satgas Partai Aceh (PA). Menurut informasi, satgas tersebut turun ke Nagan Raya dan Abdya untuk mengamankan pilkada dari money politics, tetapi masyarakat setempat malah merasa tidak nyaman karena munculnya praktik instimidasi agar memilih pasangan tertentu.
Wartawan Serambi dari Biro Meulaboh melaporkan, pada Jumat (29/6) malam, sebanyak tujuh mobil yang dikendarai orang-orang berseragam Satgas PA meluncur di lintasan Meulaboh-Tapaktuan. Setiba di Posko Cabup/cawabup Nagan Raya, H Asib Amin/HM Jamin Idham di kawasan Desa Krueng Seumayam, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, konvoi tersebut berhenti.
Orang-orang yang turun dari mobil langsung menanyakan siapa pemimpin posko. Pertanyaan itu dijawab oleh orang-orang yang ada di posko pasangan independen tersebut bahwa di antara mereka tak ada koordinator maupun pemimpin.
Keadaan menjadi tegang ketika orang-orang berbaret merah itu berindak kasar terhadap orang di posko, bahkan Satgas PA mencopot bendera Partai Aceh yang terpasang di posko tersebut.
Massa pendukung pasangan Asib Amin/Djasmi Has bersama sejumlah warga lainnya ternyata tak tinggal diam sehingga sempat terjadi perlawanan sengit menyebabkan dua anggota Satgas PA terluka akibat pukulan dan lemparan batu. Satu unit mobil yang digunakan satgas tersebut juga rusak.
Kedua korban luka yang tercatat sebagai warga Kabupaten Aceh Jaya tersebut dilarikan ke puskesmas terdekat. Sedangkan rekan-rekan mereka yang lain yang merasa terdesak langsung mundur.
Sempat terjadi bentrokan susulan sekitar 15 menit kemudian ketika tiga unit mobil Satgas PA yang merupakan bagian dari konvoi sebelumnya berusaha memberikan bantuan kepada rekan mereka. Namun akhirnya, rombongan dari ketiga mobil ini juga memilih mundur.
Aparat keamanan yang tiba di lokasi langsung bertindak. Beberapa orang sudah diamankan untuk dimintai keterangan. “Ya, sudah ada warga yang kita amankan beserta barang bukti satu unit mobil yang rusak akibat insiden. Semuanya masih kita dalami untuk memastikan apa penyebabnya,” kata Kapolres Nagan Raya, AKBP Heri Heryandi kepada Serambi, Sabtu (30/6) sore.
Merembet ke Abdya
Informasi yang dihimpun Wartawan Serambi Biro Blangpidie menyebutkan, pada Sabtu (30/6) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, massa dari Kecamatan Susoh dan Blangpidie juga bentrok dengan sekelompok orang berbaret merah yang datang dari luar kabupaten tersebut.
Insiden itu terjadi ketika kelompok berbaret merah sedang dalam perjalanan dari arah Blangpidie ke Desa Pulau Kayu, Kecamatan Susoh. Saat tiba di Simpang Lawang, Desa Padang Baru, kelompok itu dihadang dan diserang.
Karena jumlah massa yang menghadang cukup besar, akhirnya kelompok itu tancap gas ke arah Pulau Kayu. Namun tak berapa lama berada di Posko PA, Dusun Pasir, Desa Pulau Kayu, lagi-lagi datang serangan dari ratusan masyarakat setempat. Suasana di kompleks perumahan tsunami yang dibangun Jerman itu mendadak tegang. Warga yang sedang tertidur pun ikut-ikutan terbangun.
Amankan pilkada
Keuchik Pulau Kayu, Yusli AB kepada Serambi mengatakan, dirinya mengalami memar di bagian muka dan kuduk terkilir saat melerai insiden antara warga dengan kelompok tersebut. Yusli mengakui kelompok baret merah itu sudah melaporkan keberadaan mereka di desa itu dengan menyewa sebuah rumah milik warga setempat.
Keuchik Yusli juga mengakui ada mendapat laporan dari kelompok baret merah kalau kehadiran mereka ke kawasan itu untuk mengamankan pilkada agar tidak ada intimidasi dan politik uang. Namun, lanjut Keuchik Yusli, dia juga mendapat laporan dari warga bahwa kelompok baret merah datang ke rumah-rumah mempertanyakan apakah ‘bendera biru’ tidak bisa ditukar dengan bendera PA. “Masyarakat juga melaporkan kepada kami kalau di luar biru di dalam harus merah. Masyarakat juga mengaku tak nyaman dengan kehadiran kelompok itu sehingga terjadilah serangan yang tak diharapkan,” kata Keuchik Yusli.
Sikap penolakan masyarakat Abdya atas kehadiran kelompok baret merah itu juga terjadi di sejumlah desa dalam Kecamatan Blangpidie.
Seperti pengakuan Ketua Pemuda Desa Kuta Tinggi, Ekka Ardiansyah kepada Serambi, sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, Sabtu (30/6), masyarakat Desa Panton Raya merasa tak nyaman ketika orang-orang berbaret merah itu mengatakan kalau PA tidak menang akan terjadi keributan.