Gubernur: Rangkul Semua Pihak untuk Bangun Pidie
Jumat, 13 Juli 2012 09:45 WIB

SERAMBI/IDRIS ISMAIL
Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah menyematkan tanda pangkat kepada Bupati dan Wakil Bupati Pidie, Tgk Sarjani Abdullah dan M Iriawan SE pada sidang paripurna istimewa di Gedung Olahraga (GOR) Alun-alun Sigli, Kamis (12/7).
Berita Terkait
- Selebaran 'Gelap' jelang Pelantikan Sekda Aceh Tamiang
- Gubernur: Wujudkan Seluruh Janji
- Senin, Gubernur Lantik Bupati Aceh Selatan
- Tersangka Penipuan, Dipromosikan Jadi Pejabat Aceh
- Gubernur Minta Tamiang Jadi Motor Ekonomi Aceh
- Gubernur Minta Nasaruddin Lakukan Rekonsiliasi
- Hari Ini Gubernur Lantik Bupati Aceh Tengah
- Samsul Bahri Pj Kepala BPBD Banda Aceh
- Awali Tugas, Ramli Bahar Tekankan Disiplin PNS
- DPW PKS Sesalkan DPRK Aceh Barat
SIGLI - Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah melantik Tgk Sarjani Abdullah dan M Iriawan SE masing-masing sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pidie periode 2012-2017 di Gedung Olahraga (GOR) Alun-Alun Sigli, Pidie, Kamis (12/7) petang. Dalam pidatonya, Gubernur Zaini, antara lain, meminta kepada kedua pejabat yang dilantik itu tetap kompak selama memimpin dan proaktif merangkul semua pihak untuk bersama-sama membangun Pidie.
“Jangan sampai perahu kebersamaan ini terpecah di tengah jalan,” imbuh Gubernur Zaini saat pelantikan yang berlangsung dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRK Pidie itu. Sidang tersebut dibuka dan dipimpin Ketua DPRK Pidie, Muhammad AR SPdI.
Turut hadir dalam prosesi pelantikan itu, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Anggota DPR-RI Mirwan Amir, Wakil Ketua DPRA Drs Sulaiman Abda, mantan gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud, mantan bupati/wabup Pidie, Mirza Ismail dan Nazir Adam, unsur muspida, pejabat pemerintah dan elemen masyarakat Pidie.
Dua calon bupati yang ikut bertarung dalam pilkada lalu, juga hadir. yakni Drs Salman Ishak dan Dr Gunawan Adnan.
Gubernur Aceh berpesan kepada Bupati/Wabup Pidie agar selain bisa merangkul semua pihak untuk bersama-sama membangun Pidie, juga harus pula mampu mengenyampingkan perbedaan yang sebelumnya ada. “Ingat, hari ini Saudara berdua adalah milik masyarakat Pidie. Jadilah pemimpin rakyat yang visioner, yang cerdas mencermati serta mengembangkan potensi yang tersedia,” wejangnya.
Gubernur Aceh juga menyebut Pidie sebagai daerah lumbung padi, emping melinjo, kakao, kopi, dan kelapa. Tanahnya juga cukup kaya dengan kandungan bahan tambang. Pemanfaatan sumber daya alam tersebut tentulah harus mempertimbangkan aspek ramah lingkungan dan keseimbangan alam. “Di sinilah kita butuhkan kebijakan dan kearifan dari pemerintah daerah dalam mengoptimalkan semua potensi tersebut,” demikian Zaini Abdullah.
Sementara itu, Sekretaris Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh (KMPA) Pidie, Teuku Syawal, dalam pers rilis yang dikirim kepada Serambi kemarin mengatakan, selaku ormas di Pidie, KMPA menuntut Bupati dan Wakil Bupati Pidie untuk memberikan yang terbaik bagi Pidie saat ini maupun di masa mendatang.
“Apa yang telah disampaikan dalam kampanye politik saat pilkada, harus dapat direalisasikan semuanya. “Kami dari KMPA siap menuntut jika semua janji itu tidak dapat dijalankan dengan optimal dalam menciptakan pemerintahan yang bersih (clean government),” kata Teuku Syawal.
Hadirin kepanasan
Meski prosesi pelantikan kemarin secara keseluruhan berlangsung lancar dan khidmat, namun tamu banyak yang gerah karena suasana di tempat acara, Gedung Olahraga (GOR) Alun-Alun Sigli, terasa panas. Selama satu jam hawa panas itu mengusik para tamu.
Undangan yang berjumlah 2.000 orang dan memadati GOR yang berukuran 30 x 50 meter itu hampir semua menggunakan sampul undangan di tangannya untuk mengipas-ngipas tubuh guna mengusir hawa panas.
Di GOR tersebut dipasang panitia pelantikan lima unit air conditioning (AC). Namun, alat penyejuk udara itu tak mampu memberikan kesejukan bagi para tamu yang kegerahan. Salah satu sebabnya, sebagian jendela di GOR itu sudah hilang atau copot, sehingga hawa sejuk dari AC yang sedianya terkurung, justru menguap ke luar.
“Tapi alhamdulilah, meski para undangan sempat diserang panas di dalam GOR, tapi proses pelantikan bupati dan wakil bupati selama satu jam, berjalan sukses,” kata Sekretaris DPRK Pidie, Zainal Abidin SE MSi, kepada Serambi kemarin. (naz/c43)
“Jangan sampai perahu kebersamaan ini terpecah di tengah jalan,” imbuh Gubernur Zaini saat pelantikan yang berlangsung dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRK Pidie itu. Sidang tersebut dibuka dan dipimpin Ketua DPRK Pidie, Muhammad AR SPdI.
Turut hadir dalam prosesi pelantikan itu, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Anggota DPR-RI Mirwan Amir, Wakil Ketua DPRA Drs Sulaiman Abda, mantan gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud, mantan bupati/wabup Pidie, Mirza Ismail dan Nazir Adam, unsur muspida, pejabat pemerintah dan elemen masyarakat Pidie.
Dua calon bupati yang ikut bertarung dalam pilkada lalu, juga hadir. yakni Drs Salman Ishak dan Dr Gunawan Adnan.
Gubernur Aceh berpesan kepada Bupati/Wabup Pidie agar selain bisa merangkul semua pihak untuk bersama-sama membangun Pidie, juga harus pula mampu mengenyampingkan perbedaan yang sebelumnya ada. “Ingat, hari ini Saudara berdua adalah milik masyarakat Pidie. Jadilah pemimpin rakyat yang visioner, yang cerdas mencermati serta mengembangkan potensi yang tersedia,” wejangnya.
Gubernur Aceh juga menyebut Pidie sebagai daerah lumbung padi, emping melinjo, kakao, kopi, dan kelapa. Tanahnya juga cukup kaya dengan kandungan bahan tambang. Pemanfaatan sumber daya alam tersebut tentulah harus mempertimbangkan aspek ramah lingkungan dan keseimbangan alam. “Di sinilah kita butuhkan kebijakan dan kearifan dari pemerintah daerah dalam mengoptimalkan semua potensi tersebut,” demikian Zaini Abdullah.
Sementara itu, Sekretaris Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh (KMPA) Pidie, Teuku Syawal, dalam pers rilis yang dikirim kepada Serambi kemarin mengatakan, selaku ormas di Pidie, KMPA menuntut Bupati dan Wakil Bupati Pidie untuk memberikan yang terbaik bagi Pidie saat ini maupun di masa mendatang.
“Apa yang telah disampaikan dalam kampanye politik saat pilkada, harus dapat direalisasikan semuanya. “Kami dari KMPA siap menuntut jika semua janji itu tidak dapat dijalankan dengan optimal dalam menciptakan pemerintahan yang bersih (clean government),” kata Teuku Syawal.
Hadirin kepanasan
Meski prosesi pelantikan kemarin secara keseluruhan berlangsung lancar dan khidmat, namun tamu banyak yang gerah karena suasana di tempat acara, Gedung Olahraga (GOR) Alun-Alun Sigli, terasa panas. Selama satu jam hawa panas itu mengusik para tamu.
Undangan yang berjumlah 2.000 orang dan memadati GOR yang berukuran 30 x 50 meter itu hampir semua menggunakan sampul undangan di tangannya untuk mengipas-ngipas tubuh guna mengusir hawa panas.
Di GOR tersebut dipasang panitia pelantikan lima unit air conditioning (AC). Namun, alat penyejuk udara itu tak mampu memberikan kesejukan bagi para tamu yang kegerahan. Salah satu sebabnya, sebagian jendela di GOR itu sudah hilang atau copot, sehingga hawa sejuk dari AC yang sedianya terkurung, justru menguap ke luar.
“Tapi alhamdulilah, meski para undangan sempat diserang panas di dalam GOR, tapi proses pelantikan bupati dan wakil bupati selama satu jam, berjalan sukses,” kata Sekretaris DPRK Pidie, Zainal Abidin SE MSi, kepada Serambi kemarin. (naz/c43)
Editor : bakri
