Citizen Reporter
Melihat Hilal dari Pantai Aceh
MERUJUK kepada imsakiah Ramadhan yang telah beredar di kalangan masyarakat Malaysia, 1 Ramadhan tahun ini jatuh pada hari
MERUJUK kepada imsakiah Ramadhan yang telah beredar di kalangan masyarakat Malaysia, 1 Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Sabtu, 21 Juli 2012. Di Malaysia, perbedaan antarkelompok atau organisasi masyarakat dalam penentuan 1 Ramadhan dan atau 1 Syawal tidak pernah terjadi. Kalaupun ada, tidak sampai menyeruak ke publik sebagaimana yang kerap terjadi di Indonesia.
Imsakiah ini dibuat berdasarkan pada perhitungan hisab. Kendati imsakiah dimaksud telah beredar luas di masyarakat, tapi Pemerintah Malaysia tetap akan melakukan rukyah, yaitu melihat hilal dengan mata kepala. Di Pulau Pinang, rukyah akan dilakukan pada Kamis, 19 Juli 2012 petang. Prosesi rukyah ini dipimpin oleh Jabatan Mufti Negeri Pulau Pinang dan Mahkamah Syar’iyah.
Setiap tahun, prosesi rukyah di Pulau Pinang dilakukan di atas sebuah bangunan yang didirikan di dataran tinggi pada kaki pegunungan. Bangunan ini dinamakan Pusat Falak Sheikh Tahir dan berada dalam otoritas Jabatan Mufti Negeri Pulau Pinang. Sheikh Tahir yang ditabalkan namanya di pusat falak ini merupakan seorang ahli ilmu falak yang berasal dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Nama lengkapnya Muhammad Tahir bin Sheikh Muhammad (9 Desember 1869-26 Oktober 1956). Beliau kemudian dikenal dengan nama Sheikh Muhammad Tahir Jalaluddin al-Falaki al-Azhari, seorang ulama yang telah menyebarkan ilmu falak di Indonesia dan negeri-negeri Melayu.
Pusat Falak Sheikh Tahir (PFST) terletak di sebuah kawasan yang disebut Pantai Aceh. Secara topografi, wilayah Pantai Aceh mirip dengan beberapa daerah di pantai barat-selatan Nanggroe Aceh. Di satu sisi berhadapan dengan laut dan di sisi lain dengan pegunungan. Di sisi barat Pantai Aceh terhampar Selat Malaka sebagai pemisah Aceh dengan Pulau Pinang. Konon, orang Aceh yang hendak ke Pulau Pinang melayari selat ini sebelum berlabuh di seberang. Kawasan tempat orang Aceh berlabuh kemudian hari dinamai Pantai Aceh.
Beberapa ratus meter dari PFST terdapat perkampungan yang dinamai Kampung Pantai Acheh. Ketika saya menyusuri jalanan utama di sepanjang kampung ini, saya lihat rumah dan warung-warung orang Cina berjejer di sisi kiri dan kanan jalan. Saya tidak menyusuri seluruh perkampungan ini, sehingga tak bisa saya katakan bahwa tidak ada lagi orang keturunan Aceh di sana. Yang jelas, kini orang-orang Cina mendominasi kehidupan di sepanjang sisi jalan utama Kampung Pantai Acheh. Bahkan, nomenklatur Kampung Pantai Acheh pada perbatasan kampung ditulis dalam bahasa Melayu dan Cina.
PFST yang terletak di Pantai Aceh terdiri atas tiga lantai. Rukyah dilakukan di lantai paling atas. Di sini terdapat teleskop untuk melihat posisi hilal. Sebuah tongkat istiwa juga tertancap kuat pada satu sisi lantainya. Fungsinya untuk mengetahui garisan timur/barat dan garisan utara/selatan serta untuk menentukan arah kiblat.
Benda canggih lain yang terdapat di sini adalah Aeronet (Aerosol Robotic Network), alat yang berfungsi mendeteksi tingkat pencemaran udara dan mengukur kekuatan energi matahari. Aeronet ini terkoneksi langsung dengan Biro Penerbangan dan Ruang Angkasa AS (NASA).
PFST didirikan tahun 1991. Aktivitas harian yang berlangsung di PFST dilakukan di bawah panduan seorang penyelia, Jamil bin Nordin. PFST juga menjadi pusat penelitian dan wisata akademik. Menurut Jamil, PFST dikunjungi orang setiap hari dengan ragam kepentingan. Bila musim libur sekolah, cukup banyak pelajar yang menjadikan PFST sebagai objek wisata. Bila mereka berasal dari luar Pulau Pinang, lazimnya menginap di sana. Belajar astronomi sambil rekreasi.
Pekan lalu, dari anjungan PFST di Pantai Aceh saya melepas pandangan ke Selat Malaka. Di sebalik itu, saya “lihat” masyarakat Nanggroe Aceh yang dengan hati gembira tengah menanti datangnya Ramadhan Mubarak. Marhaban ya Ramadhan....
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com