Rabu, 4 Maret 2015
Home » Opini

Dinamika Tradisi 'Meugang'

Jumat, 20 Juli 2012 09:35 WIB

DALAM menyambut hari-hari besar Islam khususnya bulan puasa, masyarakat Aceh mempunyai tradisi yang unik. Bahkan, beberapa daerah di Indonesia juga mempunyai cara tersendiri dalam menyambut atau merayakan datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut sehari sebelum datangnya puasa dan sehari sebelum merayakan lebaran dikenal dengan mameugang atau sering disingkat meugang.

Dalam adat Aceh tradisi meugang telah dirayakan sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam, hari meugang selalu dilakukan pada hari-hari tertentu dalam Istana Darud Dunia yang dihadiri oleh Sultan, Wazir, Uleebalang dan para alim ulama. Biasanya meugang jatuh pada tanggal 29 atau 30 Syakban (satu atau dua hari menjelang Ramadhan).

Menjelang upacara tersebut Syahbandar Seri Rama Setia Kerajaan biasanya memberikan hadiah berupa pakaian yang akan dipakai oleh sultan dalam pagelaran tersebut. Bahkan, Syahbandar juga menyediakan karangan-karangan bunga yang akan ditempatkan di makam para Sultan. Sultan juga memerintahkan kepada Syahbandar Imam Balai Baitul Fakir/Miskin (lembaga yang berfungsi untuk memberikan santunan kepada kaum dhuafa dan anak yatim) untuk membagikan daging, pakaian, dan sembako lainnya kepada kaum dhuafa, fakir miskin, orang cacat dan para janda.

 Tetap dirayakan
Biaya untuk penyantunan hari meugang ditanggung oleh bendahara orang kaya Balai Silatur Rahim; yakni lembaga yang berfungsi untuk mengatur hubungan antarwarga negara dan antarmanusia yang bernaung di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Bahkan pada masa kekuasaan kolonial Belanda di Aceh, tradisi meugang tetap dirayakan sehingga Pemerintah Belanda saat itu mengambil kebijakan untuk meliburkan kegiatan pada hari meugang dan membagikan daging kepada masyarakat (Ali Hasjmy: 1983:151).

Dalam catatan Snouck Hurgronje (De Atjeher: 175) tradisi meugang telah berfungsi untuk membantu perjuangan rakyat Aceh sebagai bantuan logistik. Daging meugang diawetkan dengan menggunakan garam, cuka dan bahan-bahan pengawetan lainnya. Dengan daging meugang yang diawetkan itu (sekarang dikenal dengan dendeng) para pejuang Aceh bisa bertahan hidup dan menjaga persediaan makanan dalam melakukan perang gerilya dengan Belanda.

Fenomena meugang yang terjadi dalam masyarakat Aceh pascakonflik dan tsunami telah menggeser nilai-nilai tradisi meugang yang dikenal erat dengan nilai religi, berbagi, kebersamaan dan saling menghormati, sehingga menjadi momentum untuk merekat persatuan dalam masyarakat. Saat ini, Tradisi meugang di Aceh seakan-akan menjadi momok yang menakutkan bagi kaum dhuafa dan anak yatim bahkan menjadi hal yang dihindari oleh sebagian kaum birokrasi di Aceh.

Hal demikian disebabkan oleh nilai meugang yang tidak lagi dipandang sebagai suatu hal yang mulia untuk saling berbagi antarsesama, sehingga saat-saat menjelang hari meugang bisa ditebak bahwa angka kriminalitas meningkat, para pejabat yang tidak masuk kantor (dengan alasan menghindari orang-orang yang minta uang meugang) dan maraknya “pengemis” di jalan atau di kantor.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas