Tafakur
Kepedulian
Barangsiapa yang hanya memikirkan isi perutnya maka harga dirinya tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya
“Barangsiapa yang hanya memikirkan isi perutnya maka harga dirinya tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya” (Ali bin Abi Thalib r.a.).
Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di Aceh memiliki tradisi yang unik. Yaitu, membeli daging secara besar-besaran untuk dimasak di rumah masing-masing, yang disebut dengan hari Meugang. Bagi orang yang mampu, perayaan tersebut sungguh suatu hal yang membahagiakan. Namun tidak demikian dengan orang-orang yang tidak mampu, seperti anak yatim dan fakir miskin. Di sinilah orang-orang yang (tergolong) mampu, diuji kemampuannya untuk menunjukkan kepedulian.
Orang yang benar-benar mukmin tak akan mungkin membiarkan orang mukmin lainnya tak terpedulikan. Apalagi Rasulullah telah meningatkan bahwa antara satu orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan tubuh yang satu. Perasaan sakit yang dirasakan di bagian tubuh sebelah sana akan dirasakan tubuh di sebelah sini. Sehingga tercipta rasa saling peduli. Lebih-lebih bulan yang akan disambut dengan dilaksanakan Meugang, ialah bulan yang mengajak manusia meraih derajat taqwa. Dan di antara ciri orang bertaqwa yang disebutkan dalam Alquran ialah memiliki kepedulian terhadap nasib orang lain. Bukan manusia kerdil, yang hanya memikirkan diri sendiri.
Rasulullah sendiri semasa hidupnya dikenal sebagai sosok yang paling peduli terhadap orang lain, baik yang telah terbuka hatinya untuk mengikutinya maupun yang belum. Bahkan, beliau juga paling gigih menyerukan agar umat manusia saling peduli dan saling membantu, lebih-lebih terhadap orang fakir-miskin dan anak-anak yatim piatu. Bukan hanya itu, beliau juga mengajak untuk berbagi rahmat dengan tetangga. Sabdanya, kalau memasak, perbanyaklah kuahnya. Makna langsung atau perumpamaan, tentunya itu dimaksudkan agar kita membiasakan diri peduli terhadap nasib orang lain.