Gubernur: Keseimbangan Harga Perlu Dijaga
Namun, pemerintah perlu menyeimbangkannya dengan menambah stok ke pasar
* Impor Sapi Segera Dirintis
BANDA ACEH - Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah mengatakan, naiknya harga daging dan kebutuhan pokok lainnya setiap menjelang puasa dan Lebaran di Aceh, sudah mentradisi dari tahun ke tahun. Namun, pemerintah perlu menyeimbangkannya dengan menambah stok ke pasar yang harganya lebih kompetitif, sehingga masyarakat punya pilihan untuk membeli kebutuhan pokok untuk jenis yang sama.
Hal itu diutarakan Zaini Abdullah kepada wartawan di gudang gula PT Kande Agung Luengbata, Banda Aceh, seusai meninjau pasar daging dan stok beras di Gudang Bulog Lambaro, Aceh Besar, Jumat (20/7).
Zaini Abdullah yang dilantik sebagai Gubernur Aceh periode 2012-2017 pada 25 Juni lalu, inilah kali pertama baginya melakukan peninjauan pasar menjelang puasa Ramadhan. Tradisi ini selalu dilakoni para gubernur Aceh sebelumnya.
Bukan cuma di Aceh, menurut Zaini, harga daging dan kebutuhan pokok lainnya cenderung meningkat saat menjelang puasa maupun Lebaran. “Namun, tugas pemerintah saat ini adalah menjaga keseimbangan agar kenaikan harga itu tidak menguras uang petani untuk membeli satu atau dua macam kebutuhan saja, sedangkan kebutuhan lainnya tidak mampu lagi ia penuhi,” ujarnya.
Menurut Zaini, berdasarkan pantauan dan laporan pedagang daging, distributor gula pasir, dan Bulog Aceh, maupun Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) yang turut dalam peninjauan pasar tersebut, stok barang di pasar sangat meyakinkan. Barang yang tersedia di pasar maupun di gudang cukup banyak, namun harganya tinggi.
Daging sapi lokal misalnya, sebut Zaini, pada meugang puasa ini dihargakan antara Rp 110.000-Rp 120.000/kg. Harga sebesar itu, bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas tidak masalah. Namun, bagi petani berpenghasilan rendah dan penduduk miskin, harga sebesar itu tentulah tinggi. “Untuk itu, pada tahun depan kita perlu cari solusinya agar harga daging di Aceh bisa di bawah Rp 100.000/kg,” ujar Zaini.
Impor sapi
Salah satu caranya, lanjut Zaini, adalah dengan mengimpor sapi hidup dari Selandia Baru atau Australia ke Aceh. Harga daging sapi di sana, sangat stabil, dan lebih rendah dari harga daging harian maupun meugang di Aceh. “Kita bisa gunakan fasilitas Freeport Sabang untuk mengimpor sapi, gula pasir, dan lainnya,” kata Zaini.
Untuk itu, lanjut Zaini, Pemerintah Aceh perlu menyusun program impor sapi potong dari kedua negara itu dan kebutuhan sembako lainnya, menjelang meugang puasa dan Lebaran tahun depan, untuk dipasarkan dengan harga lebih rendah dari harga tahun ini.
Memasukkan sapi impor ke Aceh, menurut Zaini, tidak akan mengganggu pasaran daging sapi lokal. Pedagang sapi lokal silakan menjual harga dagingnya di atas Rp 110.000-Rp 120.000/kg, sementara harga daging sapi impor dijual di bawah Rp 100.000/kg.
“Setelah kita impor sapi dari Australia dan Selandia baru, kita akan belajar manajemen pemeliharaan sapi potong yang efisien dan efektif di Aceh, agar lima tahun ke depan petani dan pedagang sapi di Aceh bisa menjual harga daging sapinya di bawah Rp 100.000/kg. Tapi ia telah mendapat untung yang besar,” ujarnya.
Di sisi lain, kata Zaini, harga kerbau di Aceh, masih relatif murah.
Contohnya di Simeulue, seekor kerbau dijual dengan harga Rp 8-9 juta, sementara di daratan, harganya melambung tinggi antara Rp 13-15 juta/ekor. Pemerintah bersama pedagang, perlu menjaga keseimbangan harga kerbau, supaya harga kerbau di Simeulue tidak terlalu rendah dan peternak bisa meningkatkan pendapatannya.
Kadis Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, Murthada menjelaskan, stok sapi lokal yang tersedia untuk meugang 11.000-12.000 ekor, sedangkan kebutuhannya 8.000-9.000 ekor. Mahalnya harga daging sapi lokal, karena pengaruh psikologis pasar, di samping karena kualitas dan rasa dagingnya lebih lezat dibanding daging impor.
Pemantuan harga kebutuhan pokok oleh Gubernur dan sejumlah Kepala SKPA kemarin, diawali dengan rapat mendengar penjelasan kepala SKPA kepada Gubernur di Meuligoe Aceh (Pendapa Gubernur). Masing-masing instansi teknis menyampaikan laporan. Disperindagkop dan UKM Aceh, misalnya, melaporkan stok dan harga gula pasir dan lainnya, relatif stabil, Rp 13.000/kg. Sementara, Dinkeswanak melaporkan stok ternak dan harga daging antara Rp 110.000-Rp 120.000/kg. Adapun stok beras di Gudang Bulog Lambaro saat ini 8.000-an ton lebih. (her)