Rabu, 10 Juni 2026

RAMADHAN MUBARAK

Membangun Solidaritas

Adalah Rasulullah saw sosok paling dermawan, akan paling dermawan lagi dalam bulan Ramadhan ketika dikunjungi Jibril. Jibril mendatanginya

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Membangun Solidaritas
Dr. Fauzi Saleh, Lc, MA
Oleh Dr. Fauzi Saleh, Lc, MA,  Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry

“Adalah Rasulullah saw sosok paling dermawan, akan paling dermawan lagi dalam bulan Ramadhan ketika dikunjungi Jibril. Jibril mendatanginya tiap malam pada bulan Ramadhan, lalu ber-mudarasah Alquran kepadanya. Maka Rasulullah sosok penderma yang melebihi tiupan angin.” (HR. al-Bukhari)

ISTILAH yang digunakan untuk kedermawanan dalam hadis adalah al-juud yang secara syar’i pemberian sesuatu yang maknanya lebih umum daripada sekadar sedekah. Al-juud diartikan memberikan sesuatu yang layak kepada yang berhak. Orang miskin dan fuqara’ berhak mendapatkan sejumlah kebutuhan yang layak bagi kehidupan agar dapat survive (bertahan hidup).

Orang jahil layak mendapatkan kontribusi keilmuan untuk menyelamatkannya dari lembah keawaman yang mencelakakan. Al-Juud  merupakan tindakan tepat terhadap kenyataan di hadapan mata. Problematika sosial yang terjadi hari ini mulai dari krisis ekonomi hingga krisis moral membutuhkan kontribusi mereka yang memiliki sifat al-juud agar kita segera ke luar dari krisis multidimensi dan menuju kehidupan yang sejahtera rohaniah dan jasmaniah.

Kehadiran Ramadhan me-refresh potensi al-juud yang Allah ilhami dalam diri manusia. Potensi al-juud ini dalam Ramadhan dipupuk dengan mudarasah (membaca dan mengkaji Alquran). Apa relevansinya? Alquran memberikan kekayaan jiwa dan kekayaan ini kemudian dapat disumbangkan kepada orang lain. Atas dasar ini, dermawan tidak selamanya dalam bentuk materi, tetapi kelapangan jiwa dan berbagi kebahagiaan kepada sesama ini merupakan bentuk kedermawanan yang menjadi satu kebutuhan, terutama pada era hedonisme sekarang ini.

Ramadhan mampu mensinergikan antara mudarasah Alquran dengan kedermawanan. Hal itu disebabkan Alquran dibaca dan dikaji serius untuk menghiasi bulan Ramadhan sebagai syahrul Quran. Secara tidak langsung, kajian ini telah memperkaya khazanah keilmuan dan ketakwaan. Khazanah inilah kemudian menjadi ‘lumbung’ kekayaan untuk dibagi-bagikan kepada mereka yang berhajat kepadanya. Ketakwaan mendorong si kaya menginfakkan hartanya, orang alim menyebarkan ilmunya, orang kuat mengeluarkan tenaga untuk memberikan manfaat maksimal kepada orang lain.

Kekuatan Ramadhan telah mendorong Rasulullah saw berderma mencapai puncaknya, yakni melebihi tiupan angin kencang. Inilah di antara hikmah Ramadhan, yakni untuk melahirkan insan yang peka terhadap kepedihana dan kesengsaraan orang lain, sehingga menjadi donatur dan kontributor kebaikan di kemudian hari.

Peduli kepada sesama menjadi sifat keniscayaan yang melekat pada pribadi muslim sesuai panji Islam rahmatan lil ‘alamin. Pintu Ramadhan hakikatnya mengingat kembali setiap muslim untuk membawa panji rahmatan agar mampu diterapkan kepada sesama muslim, antarsesama manusia dan lingkungannya. Ini merupakan manifestasi Ramadhan yang menjadi ujung perjalanan ibadah kita sebagai bentuk ketakwaan sebagaimana disebutkan dalam Quran, Surah Albaqarah: 183. Semoga kita termasuk orang-orang yang memahami pentingnya kepeduliaan sesama dan selanjutnya mengaplikasikannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved