Jumat, 19 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Orang-orang 'Aneh' di Bulan Ramadhan

Senin, 23 Juli 2012 09:39 WIB

Oleh Rahmat Fadhil

KEMBALI Ramadhan menghampiri kita, seperti tahun-tahun sebelumnya selalu saja peristiwa ini akan berlaku sepanjang zaman hingga bumi menemui ajalnya. Karena Ramadhan adalah sesuatu yang berbeda di antara bulan-bulan lainnya, sudah barang tentu sejumlah amal ibadah terbaik telah kita persiapkan untuk kita persembahkan kepada Allah swt, yang pada akhirnya tentu tidak lain kita harapkan selain pahala yang berlipat ganda.

Walaupun Ramadhan bagi sebagian kita telah berulang-ulang melaksanakannya, tetapi tidak sedikit masyarakat kita tanpa sadar melakukan berbagai aktivitas yang kadang-kadang bertolak belakang atau bahkan jauh berbeda dengan tujuan yang ingin dicapai dari bulan Ramadhan itu sendiri (mencapai derajat takwa). Perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai dan esensi dari bulan Ramadhan itu sendiri, secara sadar ataupun tidak telah mewarnai sepanjang hidup dan kehidupan umat Islam dari waktu ke waktu. Dari serentetan perilaku itu setidaknya akan menciderai makna dari amal ibadah puasa yang sedang dijalani.

 Saling bertentangan
Beberapa perilaku yang saling bertentangan dengan target capaian ibadah puasa yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt itu dapat kita amati dalam beberapa hal: Pertama, Berpuasa tetapi tidak shalat. Masih saja kita menemukan bahwa ada orang-orang yang berpuasa tetapi tidak shalat. Memang tidak ada data pasti berapa jumlahnya, tetapi ini dapat kita ketahui dari berbagai kejadian-kejadian yang sering kita saksikan sendiri di lingkungan kita.

Sebagai survei sederhana saja, Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam laporan surveinya tentang Tata Nilai, Impian dan Cita-cita Pemuda Muslim di Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) bertanggal 14 Juni 2011 yang dilaporkan dalam websitenya www.lsi.or.id bahwa sebanyak 39.7% pemuda muslim kadang-kadang melaksanakan shalat, 30.2% sering, 28.7% selalu, dan 1.2% tidak pernah.

Dari data ini paling tidak kita memahami kalau digabungkan data yang menyatakan kadang-kadang, sering dan yang tidak pernah, maka kita mendapati angka bahwa 71.1% pernah tidak shalat atau meninggalkan shalat. Sebuah angka yang cukup memprihatinkan. Padahal shalat dan puasa, kedua-duanya adalah rukun Islam yang wajib di amalkan.

Kedua, Berpuasa tetapi tidak menutup aurat. Kita juga menemukan dibanyak tempat, ada orang-orang berpuasa tetapi tidak menutup aurat. Padahal sudah jelas bagi kita aurat seorang perempuan dan aurat laki-laki. Membuka aurat untuk dipertontonkan dihadapan orang-orang, sama halnya dengan melakukan kemaksiatan.

 Aneh tapi nyata
Jadi apa artinya berpuasa yang tujuannya untuk menambah pahala dan meningkatkan derajat takwa, sementara kemaksiataan dengan membuka aurat tetap dilakukan. Ini memang aneh tapi nyata, satu sisi ingin beribadah, disisi yang lain melakukan pengerusakan terhadap amal ibadah yang dilakukan.

Ketiga, berpuasa tetapi tidak menjaga lisan. Sama halnya dengan lisan, ada orang-orang yang berpuasa tetapi masih saja mengeluarkan lisan yang berdusta, ghibah, adu domba, marah-marah, menghasut, fitnah, mencela dan ucapan-ucapan nista lainnya. Padahal guru kita Rasulullah saw mengingatkan: “Jauhkanlah dirimu dari perbuatan dusta, karena dusta itu akan membawa kepada kedurhakaan dan kedurhakaan itu akan membawa orang ke neraka. Dan seseorang ada yang senantiasa suka berbuat dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pembohong.” (HR Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat lainnya Nabi saw berpesan: “Ghibah adalah engkau menyebut-nyebut saudaramu mengenai sesuatu yang ada padanya yang ia tidak suka”. Beliau ditanya,”Bagaimanakah pendapat engkau jika yang saya sebut itu ada pada saudara saya?” Jawab beliau: “Jika apa yang engkau sebutkan itu ada pada saudaramu berarti engkau telah mengumpatnya, dan jika apa yang engkau katakan itu tidak ada padanya berarti engkau telah mengadakan dusta terhadapnya.” (HR Muslim).

Keempat, Berpuasa tetapi menyakiti dan mendzalimi orang lain. Jabir ra berkata: “Jika engkau berpuasa maka hendaklah berpuasa pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu dari perkataan dusta dan segala yang haram. Janganlah engkau menyakiti tetangga, hendaklah engkau bersikap tenang, dan sakinah, serta janganlah engkau jadikan hari-hari puasamu sama dengan hari-hari ketika engkau tidak berpuasa.”

Menyakiti atau mendzalimi tetangga, pembantu di rumah kita, bawahan di tempat kerja, staf di kantor, dan bahkan hewan peliharaan sekali pun ini adalah sejumlah bentuk-bentuk melukai nilai-nilai ibadah Ramadhan di bulan suci. Semestinya amal shalih kita tingkatkan, amal salah kita jauhkan dari daftar aktivitas harian kita.

 Bekal kebaikan
Kelima, Berpuasa tetapi mengisi kegiatan dengan menghabiskan waktu secara sia-sia. Tidak sedikit juga orang-orang yang menghabiskan waktu puasanya dengan pekerjaan yang sia-sia dan tidak berguna. Main kartu, domino, menonton televisi sepanjang waktu, jalan-jalan tanpa maksud, main play station (PS), duduk-duduk di pusat-pusat perbelanjaan, atau aktivitas lain yang tidak jelas tujuannya.

Padahal bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk menambah bekal kebaikan, selain bonusnya berlipat ganda, juga suasana ibadah terbentuk di mana-mana. Sungguh sayang rasanya memasuki bulan Ramadhan tetapi pekerjaan tidak bermanfaat lebih dominan mewarnai kehidupan kita dibandingkan aktivitas ibadah yang sepatutnya menjadi rutinitas keseharian selama bulan mulia ini.

Keenam, berpuasa tetapi korupsi (mencuri). Apakah selama bulan lain selain bulan Ramadhan boleh korupsi? Tentu saja tidak, baik di bulan Ramadhan ataupun bukan Ramadhan, tetap saja korupsi (mencuri uang rakyat) adalah pekerjaan dosa. Namun alangkah anehnya, saat memasuki bulan Ramadhan ternyata korupsi tetap saja dengan mudah dilakukan. Puasa jalan terus, korupsi juga tidak berhenti.  

Ketujuh, memasuki bulan puasa tetapi ada orang yang tidak puasa. Ini yang paling parah dan berbahaya. Ada orang sudah berjumpa dengan bulan puasa, berada dalam suasana ibadah Ramadhan, tetapi tetap saja tidak berpuasa. Sungguh menyedihkan. Agaknya, kita semua patut merenungi lagi esensi dan makna ibadah Ramadhan itu sendiri.

Semoga Ramadhan tahun ini lebih berarti dalam hidup kita, dan boleh jadi mungkin Ramadhan tahun ini adalah yang terakhir buat kita.

* Rahmat Fadhil, Khatib, Penceramah, Motivator dan Trainer. Email: rahmat.fadhil@unsyiah.net
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas