Polisi Imbau Pembunuh Pasutri Menyerah
Polres Bireuen sudah berhasil mendeteksi bahwa jumlah pelaku yang menganiaya hingga tewas pasangan suami istri (pasutri) Ahmad Johan
Imbauan itu disampaikan Kapolres Bireuen, AKBP Yuri Karsono SIK melalui Kasat Reskrim Iptu Benny Cahyadi saat dihubungi Serambi, Minggu (22/7) kemarin.
Menurut Kapolres Bireuen, para pelaku lebih baik segera menyerahkan diri ke Polres Bireuen atau polsek terdekat sebelum petugas menjemput ke desa atau rumah mereka. “Kami harap para pelaku segera menyerahkan diri agar proses hukumnya lebih cepat dan mudah,” imbau Kasat Reskrim.
Iptu Benny Cahyadi menambahkan, Polres Bireuen kemarin telah memanggil empat warga Desa Cot Saleut, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng ke Polsek Peusangan, untuk dimintai keterangannya sebagai saksi dalam kasus pembunuhan pasutri Ahmad Johan dan Maimunah.
Tahap pertama pengusutan kasus ini, menurutnya, dimulai dengan memanggil empat orang saksi, termasuk perangkat desa. “Mereka kita mintai keterangan awal dan masih banyak yang akan kita panggil untuk mengumpulkan berbagai keterangan menyangkut kejadian tersebut,” kata Iptu Benny Cahyadi.
Hal lain yang ingin didalami polisi dalam kasus amuk massa berujung maut itu adalah jumlah massa yang ikut menganiaya kedua korban malam itu. Setelah ditelusuri, ternyata jumlahnya melebihi jumlah penduduk setempat. “Ini yang perlu kita telusuri,” ujar Benny Cahyadi.
Berdasarkan data yang diperoleh polisi, jumlah warga desa itu hanya 74 kepala keluarga (KK), terdiri atas 260 jiwa. Dari jumlah tersebut, kaum prianya hanya 120 orang. Dari 120 orang tersebut, pemudanya hanya sekitar 38 orang, yakni mereka yang berusia di bawah 35 tahun. “Tapi dalam kenyataannya malam itu, jumlah pemuda yang menganiaya lebih dari 50 orang,” kata Benny Cahyadi. Pengusutan itu nantinya akan menjawab apakah ada pemuda dari desa lain yang terlibat atau justru di antara pelaku ikut pula anak-anak di bawah umur yang merupakan remaja Desa Cot Saleut.
Ia tambahkan, kisruh antara Maimunah binti Abdullah dengan warga setempat yang menuduhnya sebagai dukun santet (tukang teluh) sebetulnya sudah pernah ditengahi oleh perangkat desa bersama muspika. Saat itu dicapai konsensus bahwa Maimunah tidak lagi melakukan praktik perdukunan.
Akan tetapi, persoalan itu mencuat kembali. Terutama setelah seorang warga desa itu sakit dan diyakini sebagai ulah tukang santet, sehingga Maimunah dan suaminya dianiaya hingga meninggal.
Sementara itu, Sekdes Cot Saleut, Nasruddin kepada Serambi mengakui bahwa ia bersama beberapa warga desa itu dipanggil ke Polsek Peusangan untuk memberikan keterangan.
Nasruddin juga membenarkan bahwa aparat penegak hukum pernah meminta kepadanya untuk mengamankan Maimunah di polsek terdekat. Namun, pertimbangan Nasruddin dan Keuchik Cot Saleut saat itu bahwa tercapai kesepakatan antara masyarakat dan Maimunah (ia janji tak lagi praktik ndukun), maka tak perlu lagi diamankan ke polsek.
Tapi ternyata, kata Nasruddin, beberapa hari kemudian ada warga di desa itu yang sakit lagi. Sewaktu diobati ke “orang pinter” di tempat lain, ia katakan bahwa penyakit yang diderita si pasien bersumber dari seorang dukun santet yang selama ini praktik di desa itu.
Kebetulan pula, ketika ada seseorang yang bertamu ke rumah Maimunah, orang itu mengaku ke khalayak bahwa ia menemukan benda-benda untuk ritual perdukunan di rumah Maimunah.
Atas dasar dua “petunjuk” itu, warga berkesimpulan bahwa Maimunah melanggar perjanjian. “Maka terjadilah amuk massa,” kata Nasruddin.
Saat kejadian, lanjut Nasruddin, ia dan Keuchik Jafaruddin sedang tidak berada di desa itu, sehingga mereka tidak bisa mencegah amuk massa sampai akhirnya pasutri itu tewas secara tragis.
Sebagaimana diberitakan kemarin, sasaran utama amuk massa itu tertuju kepada Maimunah. Tapi, suaminya pun terbawa-bawa jadi korban, karena saat massa mengamuk di rumah Maimumah, sang suami, Ahmad Johan terbangun dari rumah istri ketiganya yang berjarak 30 meter dari rumah Maimunah. Lalu, dia datangi rumah Maimumah, istri keduanya itu. Ujung-ujungnya, dia pun menjadi sasaran amuk massa. Pasutri itu akhirnya dikubur berdekatan. (yus)