Dayah Darul Ihsan Tgk H Hasan Krueng Kalee
Juara Baca Kitab Kuning
KANA RAHMI yang kini duduk di kelas 1 Madrasah Aliyah Dayah Terpadu Darul Ihsan ini mengaku telah mendapat ilmu membaca kitab kuning
“Ustaz yang mengajar kitab kuning di dayah ini memiliki metode berbeda, yang membuat kita lebih mudah untuk memahami isi yang terkandung dalam kitab tersebut. Pelajaran Qiratul kutub ini pun merupakan salah satu pelajaran yang saya sukai, disamping beberapa mata pelajaran agama lainnya,” ujar Kana.
Karena itu, saat mengikuti lomba baca kitab kuning yang diselenggarakan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Ruhul Islam Anak Bangsa beberapa bulan lalu, ia pun berhasil menyabet juara I untuk lomba yang diikuti para santri se-Kota Banda Aceh dan Aceh Besar itu.
Menurutnya, keberhasilannya itu tak lepas dari peran para pengajar di Dayah Darul Ihsan yang paham akan metode pengajaran yang baik dan inovatif. Sehingga pelajaran yang diberikan bisa dengan mudah diterima. Hal ini sangat penting, apalagi di dayah, waktu belajar sangat padat, yakni mulai subuh hingga pukul 23.00 WIB.
“Jika pengajar tidak memiliki inovasi, santri akan cepat jenuh dan pelajaran yang diberikan sulit untuk diterima. Namun di dayah ini, para pengajar punya cara tersendiri agar kami lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan,” ujarnya.
Hal itu dibenarkan Ketua Yayasan Darul Ihsan, H Musannif SE. Bahkan dia mengatakan, pihaknya menyediakan waktu yang lebih panjang bagi santri untuk mempelajari kitab kuning. “Ini bisa kami lakukan dengan mengurangi waktu belajar pelajaran umum yang dirasa tidak begitu penting. Sehingga, meski menganut sistem pendidikan modern, kami tidak meninggalkan ciri khas dayah,” timpal Musannif.
Ciri khas dayah dimaksud yakni mampu menerjemahkan kitab kuning, mampu memimpin samadiyah, tajhiz mayyit, mampu menjadi khatib, dan menjadi bilal Ramadhan. “Ilmu-ilmu yang menjadi ciri khas dayah itu kami berikan secara mendalam di setiap bulan Ramadhan, dengan harapan agar para santri lulusan Dayah Darul Ihsan bisa memimpin pelaksanaan ibadah dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Musannif. (th)