Rabu, 10 Juni 2026

RSUZA Perlu Kontrak Dokter Baru

Direktur Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, dr Taufiq Mahdi SpOG mengatakan, pihaknya membutuhkan

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto RSUZA Perlu Kontrak Dokter Baru
SERAMBI/HERIANTO
Wakil Ketua II DPRA, Drs H Sulaiman Abda, didampingi Direktur RSUZA Banda Aceh, dr Taufiq Mahdi SPoG, dan Wadir Pelayanan dr Andalas SPoG, melihat bayi kembar siam yang akan dioperasi untuk pemisahan, Senin (23/7) di ruang perawatan bayi RSUZA, Banda Aceh.
* Untuk Mengatasi Antrean Pasien

BANDA ACEH - Direktur Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, dr Taufiq Mahdi SpOG mengatakan, pihaknya membutuhkan tambahan dokter bedah untuk mengantisipasi lonjakan antrean pasien operasi. Selain itu, ia menilai perlu juga memungsikan kembali bangunan RSUZA yang lama karena bangunan baru tak cukup menampung semua pasien rujukan berbagai daerah.

“Walaupun kami sudah memaksimalkan jam kerja dokter bedah tulang dan bedah tumor untuk mengurangi antrean pasien operasi, antrean tetap saja terjadi. Karena jumlah pasien JKA dan umum yang masuk setiap bulan dari rumah sakit kabupaten/kota terus bertambah,” kata Taufik, Senin (23/7).

Hal itu disampaikan Taufik kepada Wakil Ketua II DPRA Koordinator Bidang Kesehatan, Drs H Sulaiman Abda MSi, saat meninjau pelayanan kesehatan masyarakat di rumah sakit tersebut. “Solusinya, memfungsikan kembali bangunan rumah sakit yang lama, kemudian mengontrak dokter,” kata Taufik.

Didampingi Wakil Direktur Pelayanan, dr Andalas SPoG, Taufiq Mahdi mengatakan, setiap hari tidak kurang tiga sampai empat orang pasien bedah tulang, bedah tumor dan lainnya, yang dioperasi. Ini adalah pasien elektif (rutin). Jadwal operasi para pasien rutin ini terus tertunda, karena setiap hari ada pasien sito (mendadak) yang harus ditangani.

“Misalnya, hari ini jadwal operasi untuk pasien rutin. Tiba-tiba, masuk pasien korban kecelakaan yang harus segera dioperasi untuk penyelamatan jiwanya. Otomatis, operasi pasien rutin harus ditunda,” papar Taufik.

Bayi kembar
Contoh lain, timpal kata Andalas, kemarin pihaknya sedang merawat bayi kembar siam yang baru lahir melalui operasi cesar, rujukan Rumah Sakit Kesdam Banda Aceh. Bayi kembar siam berjenis kelamin perempuan itu, lengket pada dada dan harus segera dibedah untuk pemisahannya, agar kedua bayi itu bisa hidup normal, seperti bayi lainnya.

Untuk menangani pemisahan bayi itu, kata Andalas, perlu ada tim yang terdiri dari beberapa dokter. Hal ini mengakibatkan dokter untuk operasi bedah tumor pasien elektif, berkurang, dan jadwal operasi untuk pasien tersebut terus bergeser.

Jika dalam satu bulan ada lima pasien yang bergeser jadwal operasinya, maka berpengaruh pada pasien-pasien selanjutnya. Sementara jumlah antrean pasien selama ini, antara 20-30 orang perbulan.(her)

Butuh Rp 40 - Rp 50 Miliar/Tahun
UNTUK mengurangi antrian panjang pasien operasi bedah tulang dan tumor, dr Taufik Mahdi mengatakan selama ini pihaknya sudah melakukan beberapa upaya, seperti memungsikan ruang operasi dan ruang penyehatan di gedung RSUZA yang lama.

Sementara untuk rencana mengontrak dokter bedah tulang, bedah tumor, syaraf dan lainnya, diperkirakan membutuhkan dana sekitar sekitar Rp 40 - Rp 50 miliar/tahun.(her)

Ajukan ke DPRA dan Gubernur
SAYA mengerti dan memahami persoalan yang dihadapi manajemen RSUZA Banda Aceh. Karena itu, saya setuju rencana mengaktifkan kembali bangunan RSUZA lama dan mengontrak dokter dari luar untuk mengatasi antrean panjang pasien rutin bedah tulang, tumor, dan lainnya.

Rencana itu bisa diusulkan kembali ke DPRA dan Gubernur untuk dimasukkan ke dalam dokumen Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) 2013 yang akan dijadikan sebagai dokumen RAPBA 2013. Sumber dana untuk mengaktifkan kembali gedung RSUZA lama, nanti bisa dari tambahan bagi hasil migas dan dana otsus.

* Drs Sulaiman Abda MSi, Wakil Ketua II DPRA.(her)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved