Wartawan BBC Khawatir Suriah Akan Pakai Senjata Kimia
Selasa, 24 Juli 2012 14:33 WIB
Share |
_61767278_aleppo_afp.jpg
SERAMBINEWS.COM, DEMASKUS - Tentara Suriah dikabarkan terus berperang dengan pasukan pemberontak di ibukota, Damaskus, dan kota kedua, Aleppo, ketika mereka mencoba untuk merebut kembali daerah-daerah penting yang sempat direbut dan dikuasai pemberontak.

Disebuah penjara di Aleppo dan Homs telah terjadi kekacauan dimana para narapidana berlarian diantara peperangan antara pasukan pemerintah dengan pemberontak. Para aktivis mengatakan pasukan keamanan mengancam menyerbu penjara Homs.

Pertempuran baru ini terjadi ditengah kekhawatiran internasional paska ancaman Suriah baru-baru ini yang menyatakan mereka memiliki senjata kimia namun dipergunakan hanya untuk agresor luar yang mencoba menyerang Suriah.

Meskipun Damaskus telah mengatakan bahwa senjata kimia tersebut tidak akan digunakan didalam wilayah Suriah untuk menghabisi para pemberontak, dan hanya dipakai buat mempertahankan diri apabila ada musuh dari luar, tetap saja dunia internasional menyambut pernyataan pejabat Demaskus sebagai 'hal yang serius'.

Sementara itu ledakan dan kebakaran terus terjadi dari penjara Homs. Seorang polisi tidak bersenjata dikatakan telah membelot dan tahanan terperangkap dalam penjara, diantara desingan peluru pasukan pemerintah yang sedang menggempur pemberontak. Dua tahanan tewas. Demikian bunyi laporan dari pemantau HAM di Suriah kepada BBC.

Bahkan kelompok aktivis dari LCC setempat mengilustraikan suasana dalam penjara di Homs sebagai "situasi bencana kemanusiaan".

Kelompok ini juga mengatakan militer sedang merencanakan pembantaian dan mereka (LCC) merasa khawatir lalu meminta bantuan internasional untuk mencegah "pembunuhan massal" tersebut.

Televisi pemerintah Syria mengatakan pemerintah kini telah kembali menguasai sebagian besar wilayah Damaskus yang sempat dikuasai pemberontak pekan lalu.

Foto-foto yang sempat ditangkap media internasional menunjukkan tentara Suriah dari rumah ke rumah sedang memburu pejuang pemberontak.

Warga sipil di kota Qabun mengeluh karena tidak dapat meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi karena terperangkap perang.

Tentara dari kesatuan FSA Suriah dikabarkan telah melancarkan serangan baru di Aleppo, dan pertempuran dilaporkan terus berlanjut, dimana mereka mendapat perlawanan dari tentara pro pemerintah yang berusaha untuk mengambil kembali kabupaten Aleppo.

Bom-bom berdaya ledak berat terus berguncang dan serangan roket terus terjadi tiada henti hampir semalaman.

Wartawan BBC, Wyre Davies, diperbatasan Turki dengan Suriah, melaporkan bahwa Aleppo akan jatuh ketangan pejuang dan menjadi pukulan serius bagi pemerintah Suriah, sehingga dikhawatirkan Suriah akan bertekad menggunakan persenjataan yang jauh lebih unggul untuk menghentikan kemajuan pemberontak. Davies khawatir, pemerintah Suriah mulai berang dan akan mengunakan senjata kimia, sebagaimana ancaman yang pernah diutarakan pejabat Suriah.

Pemantau HAM mengatakan lebih dari 1.260 orang tewas di Suriah sejak 22 Juli 2012. Mereka menyebut minggu itu adalah sebagai hari paling berdarah sejak pemberontakan meletus 16 bulan lalu atas pemerintah Bashar, yang disebut telah membantai rakyatnya sendiri.

Pada Senin (23/7/2012), Presiden Barack Obama memperingatkan Presiden Suriah Bashar al-Assad bahwa pemerintahnya akan dimintai pertanggungjawaban jika menggunakan senjata kimia. Obama mengancam apabila Suriah memakai senjata kimia, maka hal itu bisa menjadi sebuah "kesalahan tragis".(Serambinews.com/H)