RAMADHAN MUBARAK
Menggapai Derajat Takwa
RAMADHAN dihidangkan Allah kepada hamba-Nya hanya sekali dalam setahun. Bulan ini didatangkan untuk manusia sebagai jalan
RAMADHAN dihidangkan Allah kepada hamba-Nya hanya sekali dalam setahun. Bulan ini didatangkan untuk manusia sebagai jalan agar dapat mengembalikan diri pada posisi terhormat dan bermartabat, yaitu derajat manusia paripurna dalam wujud takwa.
Posisi manusia takwa menduduki derajat yang tinggi, melebihi jabatan tertinggi di hadapan manusia. Karena dalam ketinggiannya itu terkandung berbagai macam keutamaan dan kemuliaan yang tidak didapatkan dalam ketinggian jabatan kekuasaan.
Tidak ada kemuliaan dan kehormatan yang melebihi ketinggiannya, tidak ada kemudahan hidup yang menandingi keutamaannya, juga tidak ada kedamaian hidup yang mengalahkan kesyahduannya. Allah menjanjikan kepada manusia yang takwa itu kemudahan rezeki, kemudahan hidup, hidup surgawi, kenikmatan rohaniah, dan berbagai kenikmatan lainnya.
Dengan capaian keutamaan Ramadhan itu, seseorang dalam bersikap senantiasa tawadhu’, santun yang dilambangkan dengan kelembutan dan pengasih. Hidup sederhana, tidak pamer dan mengutamakan ketenangan di atas kesenangan bendawi. Senantiasa menghindari diri dari hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum Allah. Makanan, minuman, dan pakaiannya tidak berasal dari yang haram.
Hatinya selalu yakin pasti akan bertemu dengan Allah. Penuh keyakinan kepada-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, khusyuk dalam beribadah, berbuat baik kepada sesama, ikhlas dan beramal hanya mencari rida Allah. Memahami situasi dan eksistensinya sebagai makhluk Allah. Hidup damai, menjaga hubungan baik dengan sesama, dengan tetangga, umat seagama, dan lain agama dan lingkungan hidup. Memahami makna hidup dunia dan tujuannya.
Sebagai dampak pemahamannya terhadap hakikat Ramadhan itu akan tampak dalam realita hidupnya, antara lain, seperti: Pertama, rasa senang bersedekah dan suka membantu orang lain, baik waktu sempit maupun lapang. Kedua, menghilangkan sifat sombong dan egois dari dirinya, serta memandang orang lain sebagai makhluk Allah yang sama posisi dengan dirinya. Ketiga, senang memaafkan dan tidak dendam.
Keempat, selalu bertobat dari perbuatan maksiat dan dosa, dengan menyesali perbuatan salah yang telah dilakukan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Kelima, menjauhi segala bentuk sikap yang dapat membahayakan dan menimbulkan dosa. Keenam, mewaspadai segala bentuk yang dapat menimbulkan ancaman siksa dan bahaya. Orang yang berpuasa yakin bahwa potensi datangnya siksa dari Allah adalah karena akibat dari maksiat baik lahir maupun batin.
Ketujuh, bertawakal, dengan berusaha dan menyandarkan diri kepada Allah. Setiap suasana dan keadaan selalu saja menyandarkan diri atas kekuasaan Allah, tentu saja tetap berusaha sesuai dengan kaidah-kaidah sunnatullah. Kedelapan, ingin selalu dekat dengan Allah dengan memperbanyak ibadah, yaitu dengan memperbanyak amalan sunat setelah menyelesaikan semua kewajibannya.
Kesembilan, gemar bersilaturahmi. Silaturahmi senantiasa dijalin, sesama anggota keluarga, teman sejawat, dan lain sebagainya. Dan, kesepuluh, senantiasa melaksanakan perintah agama. Ajaran agama Islam dijadikan sebagai pegangan pokok, berbagai kegiatan selalu melandasinya dengan tuntunan agama. Bagaimanapun sibuknya, panggilan Allah tetap diutamakan. (*)