Rabu, 10 Juni 2026

RAMADHAN MUBARAK

Membangun Kesadaran Sosial

RAMADHAN merupakan bulan yang paling dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, karena dalam bulan ini berbagai keutamaan dijanjikan

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Membangun Kesadaran Sosial
Firdaus M. Yunus, MHum, MSi
Oleh Firdaus M. Yunus, MHum, MSi Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry

RAMADHAN merupakan bulan yang paling dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, karena dalam bulan ini berbagai keutamaan dijanjikan oleh Allah swt kepada hamba-Nya yang berpuasa. Oleh karena itu, momentum puasa harus benar-benar dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk berbuat kebajikan kepada sesama umat manusia.

Ibadah puasa pada hakikatnya mempunyai tiga dimensi dasar, yaitu dimensi syar’i, dimensi ritual, dan dimensi sosial. Dalam konteks syar’i puasa adalah perintah Allah kepada seluruh hamba-Nya yang beriman, sejak masa Nabi Adam as sampai kepada kita hari ini sebagai umat Nabi Muhammad saw.

Perintah berpuasa tersebut sifatnya wajib dilaksanakan, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. 2: 183)

Puasa karena sifatnya wajib, bagi siapa yang tidak mengerjakannya, maka akan mendapatkan sanksi dari Allah swt. Sebab, ibadah puasa yang menilai nanti bukanlah manusia, melainkan Allah sendiri sebagaimana firman-Nya: “Ashaumu lie” (puasa itu untuk-Ku). Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menipu orang lain pada siang hari, seolah-olah kita berpuasa, karena yang mengetahui dan menilai berpuasa atau tidak berpuasanya kita adalah Allah.

Ramadhan adalah bulan paling istimewa bagi seluruh umat yang beriman, karena dalam bulan Ramadhan seluruh hamba yang beriman tidak saja mendapat perintah tidak boleh makan, minum, merokok, berhubungan suami istri sejak terbitnya fajar sampai terbenam matahari atau hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa. Namun, yang paling penting adalah bagaimana memaknai nilai-nilai ibadah puasa ke dalam konteks sosial. Kalau tidak mampu dimaknai, maka puasa tidak lebih sebagai teatrikal tontonan yang tidak mengandung makna apa-apa.

Harus diakui bahwa puasa pada esensialnya adalah upaya “menghadirkan” Tuhan ke dalam diri kita di tengah kehidupan masyarakat. Sekalipun konsekuensi etis dari ibadah puasa itu sendiri menjadi urusan Tuhan, tetapi konsekuensi moralnya menjadi tanggung jawab kita sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, di sinilah implementasi ibadah puasa baru mendapat nilai secara signifikan, karena sentuhan nilai sosialnya sudah dapat dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat.

Kesalehan sosial seseorang dalam suatu masyarakat dapat digerakkan melalui berpuasa, sebab apabila puasa yang dilakukan dengan penuh keikhlasan tentu akan bisa seseorang kepada kesadaran kritis yang tinggi tentang realitas yang ada di sekelilingnya.

Kesadaran tersebut berupa pemahaman bahwa menahan lapar dan dahaga serta menahan hawa nafsu ternyata bukan persoalan yang mudah untuk dilakukan. Maka melalui media puasa inilah, akan diketahui bagaimana rasanya menahan lapar, bagaimana rasanya menahan dahaga, serta bagaimana rasanya menahan semua hawa nafsu di saat berpuasa.

Jadi, melalui puasa, akan dirasakan pengalaman-pengalaman yang pahit tersebut. Dengan demikian, akan timbul rasa solidaritas sosial di antara sesama kita semua, serta dengan berpuasa kita menjadi sayang kepada sesama. Amin. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved