Citizen Reporter
Cara Jepang Kenang Masa Kelam
ATAS undangan Japan University Consortium for Peace and Human Security, saya kembali menghadiri advisory meeting ke-2 tahun ini
ATAS undangan Japan University Consortium for Peace and Human Security, saya kembali menghadiri advisory meeting ke-2 tahun ini di School of International Public Policy (OSIPP), Osaka, Jepang.
Tiba Kamis, 19 Juli malam, esoknya saya ikut pertemuan di OSIPP. Saya mempresentasikan kesiapan lembaga saya menerima kedatangan rombongan Jepang ke Banda Aceh serta persiapan simposium internasional di Unsyiah awal September nanti.
Terkait keberangkatan mahasiswa Jepang ke Banda Aceh pada September nanti, pertanyaan yang saya terima antara lain (lagi-lagi) mengenai penerapan syariat Islam di Aceh. Saya kemudian memberikan beberapa penjelasan. Entah mereka paham entah tidak.
Minggu, 22 Juli saya ke Okinawa, di selatan Jepang. Lama perjalanan dua jam. Cuaca bersahabat sejak dari Osaka sampai mendarat di Naha Airport yang sangat megah untuk ukuran airport di sebuah provinsi.
Dari Airport Naha saya langsung ke Okinawa Prefectural Peace Memorial Museum. Mereka menyebut museum itu sebagai Zone for Remembering the History (Zona Mengingat Sejarah). Saya baru tahu bahwa Okinawa dulunya sebuah kerajaan tersendiri, bernama Ryukyu, tapi saat Restorasi Meiji, “dimasukkan” di bawah kekuasaan Jepang.
Jepang sendiri menerapkan kebijakan yang sangat agresif semasa 1940-an yang menyebabkan Jepang berperang dengan Cina, dan Perang Asia Pasific, dan Perang Jepang-AS, Jepang-Rusia, dan sebagainya. Okinawa kemudian menjadi ladang penuh darah. Salah satu perang darat terhebat di dunia, dengan jumlah yang tewas mencapai 200.000, ada di tanah Okinawa. Pulau itu hancur lebur diserang dari laut dan udara. Mereka menyebut “Thyphoon of Steel.”
Sejam mengitari museum, perasaan saya campur aduk. Battle of Okinawa sungguh potret keserakahan manusia yang tiada tara.
Rancang bangun museum itu sangat futuristik. Februari lalu saya mengunjungi Hiroshima, tempat bom atom dijatuhkan pada 6 Agustus 1945. Di sana, Museum Perdamaian pun dibangun sangat megah. Dan kini, saya melihat hal yang sama di Okinawa. Saya lantas berpikir, tidakkah Aceh perlu juga membuat sebuah museum perdamaian?
Senin 23 Juli bertemu dengan Rektor Meio University, Prof Eiki Senaha, di kamar kerjanya. Dia sudah tua, namun sangat energik. Kemudian saya menuju ke Multipurpose Hall, sebab di sinilah saya menerima sebuah kehormatan: memberi kuliah tamu (guest lecture) untuk mahasiswa yang ambil mata kuliah International Communication. Saya diundang oleh pengampu mata kuliah tersebut, Prof Kiyoshi Nakaci, yang juga Dekan Program Pascasarjana Meio University.
Saya memberi kuliah di atas panggung besar, dengan layar raksasa di belakang, di mana powerpoint saya dalam bahasa Inggris dapat dibaca dengan mudah oleh sekitar 120 audiens. Saya ditemani Prof Nakaci dan Prof Matsuno yang membantu menerjemahkan kuliah saya.
Saya bicara sambil berdiri dan berjalan dari ujung yang satu ke ujung yang lain, selama 50 menit. Lumayan melelahkan. Namun itu terbayar dengan sebuah kepuasan tersendiri, karena berkesempatan menjelaskan kepada mereka tentang konflik dan tsunami di Aceh, serta rintisan perdamaian atas konflik yang terjadi di Aceh. Gagal saat dengan HDC, datang CMI-nya Ahtisaari. Saya membahas kontribusi beberapa negara termasuk Jepang dalam membantu Aceh damai.
Saya mengatakan saya menaruh harapan kepada mahasiswa yang hadir mendengar kuliah saya. Battle of Okinawa mesti dapat dijadikan tonggak penting untuk mempromosikan perdamaian di berbagai belahan dunia. Teringat oleh saya sebuah puisi terpahat di dinding museum yang penggalannya berbunyi sebagai berikut, “Benar belaka bahwa manusialah yang memulai perang. Namun lebih dari itu, bukankah manusia juga yang mesti mencegah perang?” Nah.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com