RAMADHAN MUBARAK
Puasa Ibadah Transformasi Diri
PUASA adalah ibadah yang mendidik manusia untuk belajar tentang menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu yang menjadi bagian integral
PUASA adalah ibadah yang mendidik manusia untuk belajar tentang menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu yang menjadi bagian integral dari diri manusia. Kemampuan menahan diri tersebut akan membentuk pribadi menjadi lebih sabar dan peka terhadap kondisi dan situasi di sekitarnya.
Seseorang yang berpuasa sejatinya memiliki kemampuan melakukan transformasi (perubahan) diri ke arah yang lebih baik, terutama setelah menjalani ibadah Ramadhan sebulan penuh. Menahan nafsu untuk tidak makan minum, memberikan sesuatu yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan orang lain adalah salah satu bentuk menahan diri sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial sebagai wujud dari transformasi sosial.
Puasa Ramadhan adalah kewajiban yang harus dilaksanakan setiap pribadi muslim dan mukmin tanpa memandang status sosialnya, miskin atau kaya. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi yang menyandang status miskin untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan sepanjang ia memenuhi syarat wajib berpuasa walaupun aktivitas pekerjaannya berada di bawah teriknya matahari yang membutuhkan stamina dan ekstraenergi.
Ibadah puasa mengingatkan kita bahwa orang-orang yang memiliki kelebihan harta dan makanan sekalipun tentu tetap harus menahan lapar dan dahaga sampai batas waktu tertentu (berbuka). Kondisi ini diharapkan tumbuhnya kesadaran, betapa menderitanya fakir miskin dan orang-orang yang tak berharta terpaksa “berpuasa” hampir sepanjang tahun.
Puasa menuntut kita agar supaya peduli terhadap sesama. Zakat fitrah yang kita keluarkan di akhir Ramadhan nanti merupakan rangkaian tak terpisahkan dari ibadah puasa itu sendiri, pada hakikatnya mengandung makna adanya interaksi sosial dan hubungan kemasyarakatan antara yang kaya dengan yang miskin. Bila transformasi diri ini telah terbentuk, terwujudnya transformasi sosial bukanlah sesuatu yang mustahil.
Puasa yang menuntut kita menahan haus dan lapar, juga mengajarkan agar dapat menahan diri dari “hausnya” terhadap harta yang bukan hak kita, “hausnya” terhadap kekuasaan yang kita tak mampu memikulnya, sebab kekuasaan pada hakikatnya adalah amanah yang harus dipegang ahlinya. Bila tidak, maka tunggulah kehancurannya (Hadis).
Puasa menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi para dermawan. Sebagai agama yang memiliki etos kerja tinggi, Islam sangat melarang pemeluknya berpangku tangan mengharapkan hujan emas turun dari langit, tetapi diperlukan usaha dan kerja keras serta doa untuk meraih kekayaan dengan jalan yang diridai agama. Tujuannya tidak lain adalah agar umat hidup sejahtera, bahagia di dunia maupun di akhirat.
Oleh sebab itu, Islam sejatinya menjadi pelopor untuk melawan kemiskinan, sebab kemiskinan dekat kepada kekufuran (Hadis). Dalam konsepsi Islam, antara doa dan usaha adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, sebab doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong.
Dengan berpuasa diharapkan mampu mengubah diri menjadi: Pertama, pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, jika dulunya pribadi pemarah, sombong, zalim, suka mengambil hak milik orang lain, tidak pandai bersyukur, maka dengan puasa, tindakan, ucapan, perbuatan dan perilaku buruk tersebut dapat tergantikan dengan tindakan, ucapan, perbuatan, dan perilaku baik; Kedua, pribadi yang sabar, karena puasa menuntut kesabaran.
Ketiga, figur yang lembut dan menghargai orang lain, karena puasa melarang kita berlaku kasar, bahkan dalam salah sebuah hadis disebutkan, apabila ada orang yang mengajak berkelahi, maka katakanlah “inni shaim” (maaf, saya sedang berpuasa), dan; Keempat, pribadi yang peduli terhadap sesama. “Belum sempurna iman seseorang di antara kamu sebelum kamu mencintai saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.” (Hadis).
Transformasi diri tersebut kiranya dapat semaksimal mungkin dapat kita raih dalam rangka menuju transformasi sosial sebagai wujud dari cita-cita Alquran, yaitu terbentuknya masyarakat madani yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Semoga!