
- Penemuan Mayat di Aceh Jaya Bertambah
- Mayat Terdampar di Laut Patek Dibawa ke Abdya
- Tugboat dan Tongkang Masih Terdampar
- Dua Nelayan Simeulue Terdampar di Abdya Dipulangkan
- Tugboat yang Terdampar di Meulaboh belum Ditarik
- Pengungsi Rohingya Gagal Kabur
- Baitul Mal Lamgugop Bantu Pengungsi Rohingya
- PAHAM Bahas Isu Rohingya
- Pendataan 74 Rohingya Butuh Waktu Dua Minggu
- 74 Rohingya Dievakuasi dari Pulo Aceh
Mereka adalah Ayub (35), H Abdul Malik (41), Mohammad bin Amanullah (28), Muhammad Inus bin Abdul (25), Rusyid Dulah bin Ahmah (23), Isup (30), dan Mohammad Zubair (30). Mereka bergabung bersama imigran gelap lainnya asal Irak, Afganistan, dan Iran di tempat penampungan sementara, Hotel La Risa Ciamis.
"Tujuan kami adalah Australia. Kalau tetap tinggal di Myanmar kami akan mati, ditempa oleh askar (maksudnya ditembak tentara)," ujar Ayub kepada Tribun, di Hotel La Risa Ciamis, Senin (30/7/2012).
Ayub dan Inus cukup mahir berbahasa Melayu karena pernah tinggal di Malaysia. Mereka memilih mengungsi ke Malaysia ketika terjadi bentrokan etnis Rohingya dengan penduduk Myanmar beragama Buddha sebelas tahun lalu.
Setelah situasi mulai reda, kata Ayub, mereka mencoba kembali pulang kembali ke Myanmar. Tapi lima bulan lalu terjadi lagi tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis muslim Rohingya.
Mereka tidak hanya berhadapan dengan etnis beragama Buddha, tetapi aparat junta militer Myanmar sengaja melakukan pembersihan etnis Rohingya karena mereka dianggap bukan warga Negara Myanmar.
"Rumah dibakar, kawan-kawan kami ditempa dadanya oleh askar (maksudnya ditembak dadanya oleh tentara). Anak-anak juga ditempa. Anak puan (perempuan) diiris telinganya diambil emasnya," kata Ayub dengan mata yang berkaca-kaca.
Bahkan Abdul Malik, tokoh diantara ke-7 muslim Rohingya yang terdampar di Ciamis tersebut berurai air mata sambil bertutur dalam bahasa Rohingya yang tidak dimengerti.
Hingga kemarin, dari 78 orang jumlah
imigran gelap yang ditangkap dan ditampung sementara, tinggal 57 orang
yang bertahan di hotel. Sebanyak 21 orang memilih kabur dengan cara
meloncat tembok pagar hotel atau lewat atap genteng.
Perwakilan
Kantor Imigrasi kelas II Tasikmalaya, Teguh Setiadi, mengatakan,
bagaimana nasib selanjutnya puluhan imigran gelap ini masih menunggu
keputusan Direktorat Imigrasi. "Sampai hari ini belum ada keputusan.
Sejumlah rumah detensi imigrasi (Rudim) saat ini dalam kondisi penuh,"
ujar Teguh.
