Opini

Bahasa Santun dalam Islam

TULISAN ini diilhami dan dikutip dari pendapat Sofyan Sauri dalam bukunya "Pendidikan Berbahasa Santun" terbitan PT Genessindo

Bicara dengan orang tua dilakukan dengan menempatkan mereka pada posisi yang tinggi dan terhormat karena pemilihan kata dan cara mengatakannya disesuaikan dengan kehormatan yang dimilikinya. Jadi, kata ‘ah’ saja dalam berbicara dengan orang tua merupakan perkataan terlarang atau tidak santun. Oleh karena itu, dalam konteks ini tutur kata yang dianjurkan adalah kata-kata yang berkonotasi memuliakan kedua orang tua.   

Hampir setiap bahasa mengenal prinsip tingkat tutur. Tingkat tutur inilah yang sangat lekat dengan kesantunan berbahasa. Bahasa Aceh misalnya, dikenal penyebutan orang kedua tunggal untuk kata engkau dengan droen, kah, kei (cakapan). Pilihan bentuk kata sapaan tersebut sangat bergantung pada siapa yang berbicara kepada siapa dalam situasi seperti apa. Inilah hakikat tingkat tutur atau dikenal juga dengan istilah stratifikasi bahasa atau unda usuk.

Menurut Fatimah Djajasudarma, seorang linguis atau pakar bahasa, dikatakan bahwa bahasa daerah digunakan sebagai alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik buruk suatu norma kehidupan. Bahasa daerah memiliki unsur-unsur yang mengacu kepada tingkah laku masyarakatnya (budaya daerah). Unsur budaya yang disebut tingkat tutur, ungkapan, dan peribahasa. Dipertimbangkan atas segi tingkat tutur dengan pemahaman budi pekerti adalah tingkah laku, perangai, akhlak, watak. Penekanan budi sendiri adalah alat batin (budaya nonmateri) yang merupakan panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Tingkat tutur dengan demikian memiliki hubungan dengan budi pekerti. Tingkat tutur inilah yang semula dianggap sebagai unsur feodalisme dan berdampak terhadap kehidupan birokrasi di Indonesia. Perkembangan lebih lanjut unsur ini dapat pula dianggap sebagai suatu kesantunan dalam berbahasa (berbudaya) yang menyangkut budi pekerti. Oleh karena itu, bila orang berbahasa tidak dengan santun akan dikatakan “tidak tahu budi bahasa”. Ekspresi tersebut sebagai hasil nyata dari tingkah laku (budaya) yang berhubungan dengan budi pekerti.      

 Nilai agama dan budaya
Dalam pembinaan bahasa santun, isi pendidikannya adalah nilai-nilai yang dipegang secara kokoh oleh masyarakat, yaitu nilai agama dan nilai budaya. Bahasa seperti itu akan sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakat penuturnya karena sifat agama memberikan nilai-nilai dasar bagi manusia di mana pun dan kapan pun manusia berada. Pada masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, norma yang digunakan masyarakat merujuk pada nilai-nilai keislaman.

Dengan demikian dapat diambil sebuah garis besar bahwa cara pengungkapan bahasa yang baik menurut Alquran sejalan dengan pengertian berbahasa santun, bahkan memperluas dan mengembangkannya secara operasional sehingga bahasa santun yang bersifat normatif dapat dipelajari dan dilaksanakan karena karakteristiknya sangat jelas.

Pada konteks keacehan, mampukah bahasa Aceh menjelmakan dirinya menjadi medium komunikasi yang santun? Jawabannya adalah mampu. Hal ini karena bahasa Aceh lahir dan terbentuk dari budaya yang ada di dalam komunitas penutur bahasa Aceh. Setiap komunitas di manapun selalu mencirikan dirinya pada aspek-aspek kesantunan karena pada dasarnya setiap manusia yang normal adalah jiwa yang memiliki kesalehan sosial.    

* Teguh Santoso, SS, M.Hum
, Kepala Balai Bahasa Banda Aceh. Email: teguhsantoso@kemdikbud.go.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved