Melatih Kedisiplinan
Rabu, 1 Agustus 2012 10:07 WIB

Hasan Basri M. Nur
Oleh Hasan Basri M. Nur Dosen Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry
IBARAT satu sekolah kejuruan, Ramadhan mengajarkan berbagai keterampilan. Selain mengajarkan kemampuan mengendalikan diri, selama sebulan penuh umat Islam dilatih kedisiplinan. Keterampilan dan kedisiplinan yang diperoleh selama Ramadhan sejatinya membekas dan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan dalam sebelas bulan lainnya, sehingga puasa seseorang benar-benar berisi, bukan puasa soh (kosong).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin bermakna ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dan sebagainya). Ini bermakna, peraturan dan kesepakatan yang sudah ditetapkan di sebuah tempat mesti diikuti dengan penuh kesadaran, sehingga tidak ada yang melanggarnya karena akan berhadapan dengan sanksi.
Dalam berpuasa terdapat aturan utama yaitu umat Islam dilarang makan, minum, merokok, dan lain-lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Selama sebulan penuh umat Islam mampu menghormati peraturan itu. Mereka baru akan makan pada saat azan Magrib berkumandang. Mereka tidak berusaha mencuri celah agar dapat meneguk air di sela-sela mandi dan sebagainya.
Mereka dengan penuh disiplin sanggup bangun tengah malam untuk menyiapkan makanan sahur dan langsung berhenti makan pada saat imsak tiba. Ini artinya mereka rela berhenti makan sepuluh menit sebelum waktunya. Mereka dengan penuh kesadaran mematuhi aturan ini, walau secara lahiriah tanpa ada yang mengawasi.
Lebih dari itu, pada acara buka puasa bersama para undangan hadir tepat waktu, bahkan datang lebih cepat dari jadwal. Tidak ada yang datang terlambat. Tidak hanya pada momen buka bareng (bubar), dengan penuh kedisiplinan kita selalu menyiapkan bekal buka puasa jauh sebelum waktu berbuka tiba. Sekitar 15 menit sebelum sirine berbuka berbunyi, jalan-jalan mulai sepi, orang-orang tampak buru-buru ingin cepat sampai di rumah agar dapat menikmati makanan berbuka tepat pada waktunya. Sungguh disiplin!
Sungguh, kedisiplinan di atas merupakan nilai positif yang perlu dipertahankan bukan hanya dalam menghadiri undangan bubar di bulan Ramadhan, tapi perlu terus dibangun dalam memenuhi undangan lain di luar Ramadhan, seperti undangan rapat di kantor dan sebagainya. Kepatuhan dan kedisiplinan selama Ramadhan mesti membekas dalam kehidupan sehari-hari.
Aparatur pemerintah mesti hadir di tempat kerja tepat pada waktunya dan tidak nongkrong di warung kopi pada jam kerja, warga desa harus mampu memenuhi undangan rapat di meunasah tepat waktu, anggota legislatif wajib membahas anggaran pembangunan pada awal tahun, sehingga tidak memolorkan jadwal tender proyek yang akan merugikan rakyat, guru/dosen harus masuk kelas tepat waktu dan seterusnya.
Disiplin dan menghargai waktu adalah bekal utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Bangsa Arab punya pepatah “al-waqtu kas shaif” yang bermakna waktu itu ibarat pedang yang sangat tajam dan siap memenggal. Sementara orang Barat yang sekuler dan liberal mengumpamakan waktu dengan uang. Time is money! Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari harus diefektifkan demi mendatangkan uang. Waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saat sudah berlalu, ia tak mungkin dapat dipanggil ulang. Untuk itu, kita mesti memiliki perencanaan individu dan perencanaan institusi demi mengapai goal kemajuan yang diimpikan.
Akhirnya, kita mesti berupaya agar ritualitas dan rutinitas puasa Ramadhan memberi dampak kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Selain untuk mendekatkan diri dengan Allah, tujuan utama dari ibadah puasa Ramadhan adalah untuk membentuk kepribadian umat, sehingga memiliki kepekaan sosial, mampu mengendalikan diri dan mempunyai kedisiplinan yang tinggi meski tak terlihat adanya aparat yang melakukan pengawasan. Semoga!
IBARAT satu sekolah kejuruan, Ramadhan mengajarkan berbagai keterampilan. Selain mengajarkan kemampuan mengendalikan diri, selama sebulan penuh umat Islam dilatih kedisiplinan. Keterampilan dan kedisiplinan yang diperoleh selama Ramadhan sejatinya membekas dan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan dalam sebelas bulan lainnya, sehingga puasa seseorang benar-benar berisi, bukan puasa soh (kosong).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin bermakna ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dan sebagainya). Ini bermakna, peraturan dan kesepakatan yang sudah ditetapkan di sebuah tempat mesti diikuti dengan penuh kesadaran, sehingga tidak ada yang melanggarnya karena akan berhadapan dengan sanksi.
Dalam berpuasa terdapat aturan utama yaitu umat Islam dilarang makan, minum, merokok, dan lain-lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Selama sebulan penuh umat Islam mampu menghormati peraturan itu. Mereka baru akan makan pada saat azan Magrib berkumandang. Mereka tidak berusaha mencuri celah agar dapat meneguk air di sela-sela mandi dan sebagainya.
Mereka dengan penuh disiplin sanggup bangun tengah malam untuk menyiapkan makanan sahur dan langsung berhenti makan pada saat imsak tiba. Ini artinya mereka rela berhenti makan sepuluh menit sebelum waktunya. Mereka dengan penuh kesadaran mematuhi aturan ini, walau secara lahiriah tanpa ada yang mengawasi.
Lebih dari itu, pada acara buka puasa bersama para undangan hadir tepat waktu, bahkan datang lebih cepat dari jadwal. Tidak ada yang datang terlambat. Tidak hanya pada momen buka bareng (bubar), dengan penuh kedisiplinan kita selalu menyiapkan bekal buka puasa jauh sebelum waktu berbuka tiba. Sekitar 15 menit sebelum sirine berbuka berbunyi, jalan-jalan mulai sepi, orang-orang tampak buru-buru ingin cepat sampai di rumah agar dapat menikmati makanan berbuka tepat pada waktunya. Sungguh disiplin!
Sungguh, kedisiplinan di atas merupakan nilai positif yang perlu dipertahankan bukan hanya dalam menghadiri undangan bubar di bulan Ramadhan, tapi perlu terus dibangun dalam memenuhi undangan lain di luar Ramadhan, seperti undangan rapat di kantor dan sebagainya. Kepatuhan dan kedisiplinan selama Ramadhan mesti membekas dalam kehidupan sehari-hari.
Aparatur pemerintah mesti hadir di tempat kerja tepat pada waktunya dan tidak nongkrong di warung kopi pada jam kerja, warga desa harus mampu memenuhi undangan rapat di meunasah tepat waktu, anggota legislatif wajib membahas anggaran pembangunan pada awal tahun, sehingga tidak memolorkan jadwal tender proyek yang akan merugikan rakyat, guru/dosen harus masuk kelas tepat waktu dan seterusnya.
Disiplin dan menghargai waktu adalah bekal utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Bangsa Arab punya pepatah “al-waqtu kas shaif” yang bermakna waktu itu ibarat pedang yang sangat tajam dan siap memenggal. Sementara orang Barat yang sekuler dan liberal mengumpamakan waktu dengan uang. Time is money! Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari harus diefektifkan demi mendatangkan uang. Waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saat sudah berlalu, ia tak mungkin dapat dipanggil ulang. Untuk itu, kita mesti memiliki perencanaan individu dan perencanaan institusi demi mengapai goal kemajuan yang diimpikan.
Akhirnya, kita mesti berupaya agar ritualitas dan rutinitas puasa Ramadhan memberi dampak kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Selain untuk mendekatkan diri dengan Allah, tujuan utama dari ibadah puasa Ramadhan adalah untuk membentuk kepribadian umat, sehingga memiliki kepekaan sosial, mampu mengendalikan diri dan mempunyai kedisiplinan yang tinggi meski tak terlihat adanya aparat yang melakukan pengawasan. Semoga!
Editor : bakri
