Mahasiswa Tuntut Baong Mundur
Jumat, 3 Agustus 2012 08:59 WIB

SERAMBI/MAHYADI
Aktivis mahasiswa HMI Cabang Takengon, Kamis (2/8) melakukan aksi demo di depan Kantor Bupati Aceh Tengah. Mereka menuntut agar pemerintah memperhatikan tiga kampung terpencil di Kecamatan Bintang dan meminta Pj Bupati Aceh Tengah segera mundur dari jabatannya.
Berita Terkait
- Mahasiwa Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Ikut Pelatihan…
- Peserta Pelatihan Jurnalistik HMI Kunjungi Serambi
- HMI Dukung 25 Kursi di DPRK Aceh Barat
- Kapolda Janjikan Hadiah untuk Pelapor Calo
- MS Kaban Lantik Pengurus Kahmi Langsa
- Kohati Bahas Isu Gender
- Anwar Pimpin HMI Aceh Barat
- Badko HMI Aceh Gelar Baksos di Pijay
- Aktivis HMI Demo Polres Langsa
- Polisi Bebaskan Tujuh Aktivis HMI Takengon
* Lebih Sering Keluar Daerah
TAKENGON - Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) Cabang Takengon, meminta Pj Bupati Aceh Tengah, Ir Mohd Tanwier yang sering dipanggil dengan sebutan ‘Baong’ dituntut mundur dari jabatannya. Dia dinilai gagal memimpin daerah, khususnya kisruh Pilkada Bupati/Wakil Bupati yang belum juga ada titik terangnya.
Para mahasiswa menuduh Baong lebih sering menghabiskan waktu di luar daerah ketimbang mengurus kepentingan masyarakat Kabupaten Aceh Tengah. Permintaan mundur mengemuka ketika puluhan mahasiswa HMI Cabang Takengon menggelar aksi demo di depan Kantor Bupati Aceh Tengah, Kamis (2/8).
Para mahasiswa ini, menuding Baong hanya memperkaya diri sendiri dengan mengambil fee dari beberapa dinas untuk kepentingan pribadi. “Lihat saja, pj bupati ini telah gagal menyukseskan pilkada, bahkan dia lebih sering keluar kota dari pada mengurus daerah,” kata Ketua HMI Cabang Takengon, Syukran, saat berorasi.
Puluhan mahasiswa HMI yang melakukan aksi demo, awalnya menyoroti beberapa kampung di Kecamatan Bintang yang masih terisolir bahkan luput dari perhatian pemerintah. Namun ketika menggelar orasi di depan Kantor Bupati Aceh Tengah, justru mahasiswa menghujat Baong (panggilan akrab Pj bupati Aceh Tengah-red) yang dinilai gagal mengurus Kabupaten Aceh Tengah. “Lebih baik, Pj bupati mundur dari jabatannya karena tidak bisa membawa kemajuan di daerah ini,” ujar Syukran.
Tiga kampung yang dinilai mahasiswa masih terisolir di Kecamatan Bintang, yakni Kampung Serule, Atu Payung dan Kampung Atu Konyel. Pemkab Aceh Tengah terkesan menganaktirikan ketiga kampung tersebut. Secara ekonomi kata mahasiswa HMI, masyarakat di tiga kampung tersebut bertumpu pada hasil peternakan kerbau.
Tetapi hanya lima Kepala Keluarga (KK) memiliki peternakan pribadi, selebihnya milik para pejabat pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang dijaga oleh masyarakat setempat. “Meski sebagian kecil ada yang menekuni pertanian. Itu juga belum bisa diharapkan. Pasalnya jalur utama menuju daerah itu, masih dalam kondisi rusak parah sehingga untuk akses membawa hasil bumi masih terkendala,” papar para pendemo. Dalam aksi demo itu, puluhan mahasiswa dijaga ketat oleh puluhan personel Polres Aceh Tengah.(c35)
Sekda Sampai Terima Kasih
Menjawab tuntutan mahasiswa, Sekda Aceh Tengah, Drs H Taufik MM, yang menjumpai para mahasiswa berjanji akan menindak lanjuti permintaan para mahasiswa soal beberapa kampung yang masih terisolir di Kecamatan Bintang. “Saya juga mengucapkan terima kasih dan merasa bangga kepada adik-adik mahasiswa yang telah menjembatani keluhan masyarakat,” sebut Taufik di hadapan massa HMI.(c35)
TAKENGON - Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) Cabang Takengon, meminta Pj Bupati Aceh Tengah, Ir Mohd Tanwier yang sering dipanggil dengan sebutan ‘Baong’ dituntut mundur dari jabatannya. Dia dinilai gagal memimpin daerah, khususnya kisruh Pilkada Bupati/Wakil Bupati yang belum juga ada titik terangnya.
Para mahasiswa menuduh Baong lebih sering menghabiskan waktu di luar daerah ketimbang mengurus kepentingan masyarakat Kabupaten Aceh Tengah. Permintaan mundur mengemuka ketika puluhan mahasiswa HMI Cabang Takengon menggelar aksi demo di depan Kantor Bupati Aceh Tengah, Kamis (2/8).
Para mahasiswa ini, menuding Baong hanya memperkaya diri sendiri dengan mengambil fee dari beberapa dinas untuk kepentingan pribadi. “Lihat saja, pj bupati ini telah gagal menyukseskan pilkada, bahkan dia lebih sering keluar kota dari pada mengurus daerah,” kata Ketua HMI Cabang Takengon, Syukran, saat berorasi.
Puluhan mahasiswa HMI yang melakukan aksi demo, awalnya menyoroti beberapa kampung di Kecamatan Bintang yang masih terisolir bahkan luput dari perhatian pemerintah. Namun ketika menggelar orasi di depan Kantor Bupati Aceh Tengah, justru mahasiswa menghujat Baong (panggilan akrab Pj bupati Aceh Tengah-red) yang dinilai gagal mengurus Kabupaten Aceh Tengah. “Lebih baik, Pj bupati mundur dari jabatannya karena tidak bisa membawa kemajuan di daerah ini,” ujar Syukran.
Tiga kampung yang dinilai mahasiswa masih terisolir di Kecamatan Bintang, yakni Kampung Serule, Atu Payung dan Kampung Atu Konyel. Pemkab Aceh Tengah terkesan menganaktirikan ketiga kampung tersebut. Secara ekonomi kata mahasiswa HMI, masyarakat di tiga kampung tersebut bertumpu pada hasil peternakan kerbau.
Tetapi hanya lima Kepala Keluarga (KK) memiliki peternakan pribadi, selebihnya milik para pejabat pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang dijaga oleh masyarakat setempat. “Meski sebagian kecil ada yang menekuni pertanian. Itu juga belum bisa diharapkan. Pasalnya jalur utama menuju daerah itu, masih dalam kondisi rusak parah sehingga untuk akses membawa hasil bumi masih terkendala,” papar para pendemo. Dalam aksi demo itu, puluhan mahasiswa dijaga ketat oleh puluhan personel Polres Aceh Tengah.(c35)
Sekda Sampai Terima Kasih
Menjawab tuntutan mahasiswa, Sekda Aceh Tengah, Drs H Taufik MM, yang menjumpai para mahasiswa berjanji akan menindak lanjuti permintaan para mahasiswa soal beberapa kampung yang masih terisolir di Kecamatan Bintang. “Saya juga mengucapkan terima kasih dan merasa bangga kepada adik-adik mahasiswa yang telah menjembatani keluhan masyarakat,” sebut Taufik di hadapan massa HMI.(c35)
Editor : bakri
