Minggu, 21 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Pemberdayaan Perempuan Melalui Pesantren

Sabtu, 4 Agustus 2012 13:13 WIB


Oleh Fariz Alniezar

ISLAM sebagai agama samawi terakhir mempunyai misi yang sangat apresiatif terhadap seluruh makhluk (Rahmatallilalamin). Begitu juga sebagai implementasi dari adagium tersebut tak ketinggalan Islam mempunyai apresiasi terhadap pemberdayaan perempuan. Di kalangan masyarakat kita sudah terdapat semacam stigma yang beranggapan bahwa perempuan lebih dijadikan sebagai second human being, konco wingking atau lebih ekstrim lagi the marginal person. Pertanyaanya sekarang benarkah apa yang telah diasumsikan masyarakat kita? Lebih filosofisnya adakah peran dominan agama sebagai wujud manesfestasi dari pemberdayaan perempuan?

Dalam Alquran dikatakan: “Laisa dzakaru ka al-unsa (laki-laki itu tidak seperti wanita)” terutama dalam aspek biologisnya. memang ayat tersebut mengandung semacam distingsi-distingsi, tetapi itu semua tidak dijadikan boleh dijadikan alat diskriminasi, kartena ayat tersebut tidak berdiri sendiri ia tidak lahir dari ruang yang hampa. Akan tetapi jika kita melihat tataran praksis di lapangan selama ini memperlihatkan bahwa perempuan banyak yang menuntut perbaikan-perbaikan di dalam menjalankan peran dan posisinya sebagai hamba Allah. Dan ironisnya teriakan-teriakan tersebut hanya didengar kaum perempuan saja. Sangat sedikit antusiasme alias minat laki-laki terhadap persolan yang menerpa perempuan itu.

Secara biologis laki-laki dan perempuan tidak sama, namun demikian hal itu tentu bukan untuk melakukan pembedaan, akan tetapi dalam prakteknya ternyata masih banyak terjadi ketidak adilan baik dalam bentuk marginsalisai, subordinasisasi, kekerasan dan lain-lain. Lebih ironisnya, kaum laki-laki sering diasumsikan sebagai mahkluk superior sedangkan perempuan lebih pada sosok yang inferior.

 Hasrat berprestasi
Perempuan sering diistilahkan the second sex atau second people alias mahkluk nomer dua. Hal inilah yang sangat serius dikaji oleh Simone De Buvuare dalam bukunya The Second Sex bahwasannya perempuan memang berbeda dengan laki-laki secara kodrati, bahkan pakar Teori Need of Achievement, Mc Clelland melakukan sebuah riset tentang hasrat berprestasi (laki-laki dan perempuan) ditemukan bahwa sikap terhadap hasrat berprestasi (need of achievement) laki-laki dan perempuan berbeda (Saparinah Sadli: 2012). Parahnya realitas ini yang disosialisasikan bahkan dikonstruksikan sejak berabad-abad melalui agama dan budaya.

Data sosial development index menyebutkan kondisi kaum perempuan sangat menyedihkan, di Indonesia misalnya jumlah wanita buta huruf adalah dua kali lipat dari jumlah pria yang buta huruf. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan juga terlihat pada kuota yang diberikan pada kursi birokrasi pemerintahan, wanita hanya diberi 30 persen sungguh jumlah yang dirasa sangat kurang ditinjau dari kuantitas kaum perempuan sendiri. Pada level menengah kebawah nasib kaum perempuan lebih ironis lagi, bisa dilihat dengat semakin tidak wajarnya tindakan para majikan terhadap para TKW, semakin menjamurnya wanita tuna susila dan pelbagai kasus eksplotiasi serupa yang kerap menerpa wanita seperti kasus kekereasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya..

Asumsi masyarakat kita selama ini telah terkontaminasi oleh stigma-stigma yang sangat distorsif, satu di antaranya adalah asumsi yang mengangap bahwa agama, dalam hal ini Islam banyak melakukukan tindakan-tindakan diskriminatif terhadap kaum hawa. Apa yang menjadi asumsi masyarakat kita selama ini tidaklah sepenuhnya benar, karena agama tidak pernah meberlakukan perempuan semacam itu. (Meminjam istilahnya Sinta Nuriyah Wahid) Islam adalah agama yang memihak kepada perempuan (Sinta Nuriyah: 2008).

Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya satu surat yang berjudul perempuan (an-nisa’), kedua perlakuan Nabi terhadap para istrinya adalah sangat sangat tinggi, tentunya kita tidak bisa lupa bagaiman peran Khadijah sebagai tim sukses dakwah Nabi dalam menyebarkan agama Islam satu hal lagi yang tidak bisa untuk kita lupakan begitu saja mengenai sejarah negeri Saba’ yang memiliki kerajaan super power yang ternyata tampuk kekuasaannya dipimpin oleh seorang ratu bernama Bilqis dan sejarah itu terekam dan diabadikan dalam Alquran.

Pesantren sebagai salah satu institusi yang bergerak di bidang agama ternyata dirasa “kurang mampu” untuk mengikis tuduan tersebut. Hal ini nyata adanya dan terbukti dengan masih kentalnya aroma uqudul lujjain (sebuah kitab yang menurut para pakar banyak mengandung bias gender). Sebagaimana banyak diketahui bahwa dalam kitab tersebut menurut kajian yang dilakukan oleh Para peneliti Puan Amal hayati banyak ditemukan bentuk diskrimisasi dan perlakukan yang kuran adil terhgadap Perempuan terutama pasca melangsungkan perkawinan. Salah satu yang menonjol adalah tentang dictum bahwa seorang perempuan ketika sudah melangsungkang akad nikah dengan laki-laki maka ia “berlaku” seperti budak bagai sang suami.

 Pemberdayaan perempuan
Merujuk pada kenyataan di atas, sekarang inilah momen yang tepat untuk merevitalisasi pemberdayaan perempuan melalui pendidikan kultural di pesantren karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pemeruintah sedang menggodok RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender. Maka setidaknya sinergitas antara UU yang masih dirancang oleh pemerintah dengan Peran pesantren yang notabene sedang “tertidur” hingga sampai saat ini harus dirajut dan dijalin agar dikemudian hari dapat kita capai kondisi yang ideal di mana tak ada lagi diskrimisasi yang berpangkal dari gender dan kelamin.

Sebagai Catatan menarik untuk dikaji komentar dari A Mustofa Bishri (Gus Mus) mengenai pembelajaran kitab Uqud Al-Lujjain di pesantren menurut beliau kendatipun masih banyak pesantren yang memasukkan Kitab tersebut sebagai kurikulum, baik itu primer, sekunder atau bahkan suplementer yang biasa hanya dikaji ketika bulan puasa tiba (kilatan) tetapi itu semua tidak berpengaruh sama sekali terhadap masyarakat kita. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tidak seragamnya pemahaman terhadap kitab tersebut. Seumpama yang terjadi adalah pemahaman yang monolitik maka boleh jadi seluruh masyarakat kita akan memojokkan kaum perempun.

Maka sebagai penutup akhir tulisan ini, alangkah bijaknya jika para pengasuh serta aktivis pesantren menengok kembali akan pentingnya revitalisasi pemberdayaan perempuan melalui kanal-kanal pendidikan yang ada di pesantren, karena disadari atau tidak ada sebuah ungkapan bijak yang mengatkan bahwa al-ma’rah imaadul Bilad, wanita adalah tiang kokoh sebuah Negara merekalah insan di balik layar atas tegaknya sebuah Negara. Wallahu a’lam bis shawab.

* Fariz Alniezar
, Peneliti di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta/Direktur Kajian Tafsir Ibukota (KTIK) Jakarta. Email: al_varou@yahoo.com
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas